Gempa M7,7 Guncang NTT: 51 Tewas, Ribuan Warga Mengungsi, Jalan Terputus
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,7 SR di Nusa Tenggara Timur menewaskan sedikitnya 51 orang dan memaksa sekitar 5.000 warga mengungsi.
- Pemerintah daerah tengah mempertimbangkan status tanggap darurat untuk mempercepat mobilisasi bantuan dan dana pemulihan.
- Ribuan personel gabungan TNI-Polri dikerahkan untuk menjangkau korban yang masih tertimbun longsor di sejumlah titik terisolasi.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi (16/8) telah merenggut sedikitnya 51 jiwa dan memaksa sekitar 5.000 warga meninggalkan rumah mereka. Guncangan dahsyat itu juga memutus akses jalan serta memicu longsor di sejumlah kecamatan, menjadikan bencana ini salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Minggu (17/8) tercatat 36 korban luka berat dan 77 luka ringan. Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dalam rapat yang disiarkan televisi menyebutkan bahwa sebagian besar korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit rujukan di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Di kota pelabuhan tersebut, tenda-tenda darurat didirikan di halaman rumah sakit untuk menampung pasien, sementara warga yang rumahnya rusak memilih bertahan di teras atau tenda terpal darurat.
"Hampir seluruh warga Sikka tidak berani tinggal di dalam rumah, mereka tidur di beranda atau tenda di luar," ujar Wakil Bupati Sikka, Simon Sabandi, kepada KompasTV. Kondisi ini menggambarkan trauma kolektif yang masih menyelimuti masyarakat pasca-gempa, mengingat wilayah yang sama pernah dihantam gempa berkekuatan 7,5 SR pada 1992 yang menimbulkan kerusakan masif.
BNPB melaporkan lebih dari 3.300 warga di kawasan Sikka mengungsi ke arena olahraga atau memilih menyelamatkan diri secara mandiri. Sementara itu, tim pencarian dan pertolongan masih berjuang menjangkau korban yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan. Sejauh ini, lebih dari 1.300 unit rumah dilaporkan rusak, dan 20 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina tidak beroperasi akibat pemadaman listrik yang meluas.
Pemerintah pusat telah mengerahkan lebih dari 3.500 personel gabungan TNI-Polri ke lokasi bencana. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan resminya menyatakan bahwa personel tambahan dikirim untuk mempercepat evakuasi dan pendistribusian logistik. Badan SAR Nasional (Basarnas) mengonfirmasi bahwa sebagian wilayah Maumere yang sebelumnya terisolasi akibat longsor kini mulai dapat diakses, memungkinkan tim penyelamat menjangkau titik-titik yang diduga masih terdapat korban tertimbun.
Di sisi lain, pemerintah Provinsi NTT tengah mempertimbangkan penetapan status tanggap darurat. Jika disetujui, status ini akan memungkinkan otoritas daerah memobilisasi anggaran dan sumber daya secara lebih fleksibel untuk percepatan penanganan. Keputusan ini dinilai krusial mengingat akses ke beberapa kecamatan terpencil masih terhambat oleh material longsor dan kerusakan jalan.
Bencana ini kembali mengingatkan bahwa Indonesia, yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, memiliki tingkat kerentanan seismik yang tinggi. Dengan populasi lebih dari 290 juta jiwa yang tersebar di ribuan pulau, kesiapsiagaan dan ketangguhan infrastruktur menjadi kunci dalam mengurangi dampak gempa. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah: seberapa cepat pemerintah dapat membangun kembali daerah yang rusak dan memulihkan trauma psikologis warga yang kehilangan tempat tinggal? Upaya rekonstruksi yang responsif dan berkelanjutan akan menjadi ujian nyata bagi ketahanan bangsa dalam menghadapi bencana serupa di masa depan.



