Idemitsu Yakin Pasokan Minyak Jepang Aman Meski Jalur Suez Memanas
Baca dalam 60 detik
- Idemitsu Kosan, pengilang minyak terbesar kedua Jepang, mulai mengimpor minyak mentah Arab Saudi melalui jalur Suez dan Tanjung Harapan untuk menghindari serangan Houthi di Laut Merah.
- Presiden Idemitsu menegaskan tidak ada gangguan signifikan pada pasokan, meski waktu pengiriman memanjang dari 20 hari menjadi 50-60 hari dan biaya transportasi meningkat.
- Jepang yang 94% bergantung pada minyak Timur Tengah mulai mencari alternatif, sementara Idemitsu tetap memprioritaskan pasokan dari kawasan tersebut demi menjaga kepercayaan dan efisiensi kilang.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Idemitsu Kosan, pengilang minyak terbesar kedua di Jepang, memastikan pasokan minyak mentahnya tetap aman meski harus menempuh rute yang lebih panjang. Perusahaan telah mulai mengimpor minyak mentah Arab Saudi dari Yanbu melalui Terusan Suez dan Tanjung Harapan, menyusul serangan Houthi yang membuat Selat Bab el-Mandeb tidak aman bagi kapal tanker.
Presiden Idemitsu, Noriaki Sakai, mengungkapkan bahwa meskipun waktu pengiriman membengkak dari sekitar 20 hari menjadi 50-60 hari, perusahaan tidak melihat adanya risiko besar terhadap kelangsungan pasokan. "Jika mengesampingkan waktu pengiriman yang lebih lama dan biaya transportasi yang lebih tinggi, kami tidak memperkirakan gangguan signifikan dalam pengadaan minyak mentah," ujarnya kepada Reuters. Untuk mengantisipasi gangguan, Idemitsu juga mengandalkan minyak mentah UEA yang dikirim melalui Fujairah serta impor dari Amerika Utara.
Serangan yang dilancarkan kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran telah membuat sebagian besar pengiriman minyak Arab Saudi melalui Bab el-Mandeb terhambat. Akibatnya, kapal-kapal harus mengambil rute memutar yang lebih jauh. Meski demikian, Idemitsu berencana untuk terus membeli minyak mentah Saudi melalui rute Suez. Saudi Aramco sendiri sejak Juli telah menawarkan tambahan kargo minyak mentah yang dimuat dari pelabuhan Sidi Kerir di Mesir, setelah minyak dari Yanbu dikirim ke Ain Sukhna dan dipompa melalui pipa Suez-Mediterania.
Keputusan Idemitsu untuk tetap bertahan dengan pasokan Timur Tengah bukan tanpa alasan. Sakai menekankan bahwa menjaga akses ke minyak kawasan tersebut adalah prioritas, mengingat hubungan kepercayaan yang sudah lama terjalin antara Jepang dan produsen Timur Tengah, serta kecocokan minyak mentah tersebut dengan kilang-kilang Jepang. Beralih ke jenis minyak non-Timur Tengah secara signifikan akan membutuhkan modifikasi kilang yang mahal dan dianggap sebagai "investasi yang tidak perlu" bagi Jepang.
Namun, kekhawatiran publik tentang ketergantungan Jepang yang terlalu tinggi pada minyak Timur Tengah tetap mengemuka. Sakai mengakui bahwa pemerintah dan industri perlu mendiskusikan keseimbangan pasokan yang tepat ke depan. Data menunjukkan bahwa Jepang mengimpor 94% minyak mentahnya dari Timur Tengah pada 2025, dan 93% di antaranya melewati Selat Hormuzโjalur yang efektif ditutup oleh Iran sejak perang dengan AS-Israel dimulai akhir Februari. Kondisi ini mendorong Tokyo untuk memanfaatkan cadangan strategis dan mencari pasokan alternatif.
Di sisi lain, Idemitsu juga tengah memutar haluan strategi bisnisnya. Rencana bisnis lima tahun hingga tahun fiskal 2030 menandai kembalinya perusahaan ke bisnis inti minyak dan bahan bakar, setelah sebelumnya fokus pada dekarbonisasi. Target utilisasi kilang dinaikkan menjadi 90% atau lebih, dari realisasi 84% pada kuartal April-Juni. Sakai mengatakan perusahaan akan menerapkan keahlian pemeliharaan dan pencegahan korosi dari kilang Hokkaido ke seluruh operasinya untuk mencapai target tersebut.
Selain minyak, Idemitsu juga melihat gas alam cair (LNG) sebagai area pertumbuhan kunci. Melalui MidOcean Energy, perusahaan yang telah diinvestasikan Idemitsu sebesar $500 juta sejak Maret, mereka berupaya mengamankan peluang offtake dan pemasaran LNG sambil memperluas bisnis perdagangan. Langkah ini sejalan dengan upaya diversifikasi energi di tengah transisi global menuju energi bersih.
Di sektor teknologi, Idemitsu berencana memasok elektrolit padat untuk kendaraan listrik generasi berikutnya milik Toyota yang menggunakan baterai lithium-ion all-solid-state, yang dijadwalkan diproduksi massal antara 2027 dan 2028. Sakai menyebut permintaan juga tumbuh untuk aplikasi seperti drone, robot, dan sistem penyimpanan energi, yang berpotensi mendorong perusahaan untuk memutuskan perluasan kapasitas produksi pada akhir tahun fiskal 2030.
Bagi Indonesia, dinamika pasokan minyak global ini menjadi pengingat akan kerentanan negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi. Meski Indonesia memiliki produksi minyak domestik, ketergantungan pada impor tetap signifikan, dan gangguan di jalur laut internasional dapat berdampak pada harga dan keamanan pasokan. Pemerintah Indonesia perlu terus memperkuat ketahanan energi, baik melalui diversifikasi sumber maupun pengembangan energi terbarukan, untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh ketegangan geopolitik global.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa lama ketegangan di Timur Tengah akan berlanjut dan bagaimana perusahaan-perusahaan seperti Idemitsu akan menyeimbangkan antara biaya, keamanan pasokan, dan tuntutan transisi energi. Keputusan Idemitsu untuk tetap bertahan dengan pasokan Timur Tengah, sambil menjajaki peluang lain, mencerminkan pragmatisme yang mungkin akan diikuti oleh negara-negara lain di kawasan Asia.



