Kampus Dipaksa Masuk Proyek Raksasa: Prabowo Ingin Perguruan Tinggi Jadi Otak Giant Sea Wall
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan perguruan tinggi terlibat langsung dalam proyek Giant Sea Wall, menekankan transfer teknologi dalam setiap investasi.
- Sejumlah kampus seperti IPB, ITB, Undip, dan ITS telah menandatangani nota kesepahaman untuk menjadi pusat unggulan dan penyedia tenaga ahli multidisiplin.
- Proyek yang membentang dari Banten hingga Gresik ini ditargetkan selesai dalam 15-20 tahun, dengan potensi percepatan jika dibangun serentak.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh sekadar menjadi penonton dalam proyek strategis nasional. Instruksi itu disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, yang mengungkapkan bahwa kepala negara secara konsisten mempertanyakan kesiapan riset dan keterlibatan para ahli dalam setiap inisiatif besar, termasuk pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa.
Dalam keterangannya di Jakarta, Brian Yuliarto menyebutkan bahwa Prabowo selalu melontarkan pertanyaan kritis: siapa yang menghitung, di mana diuji, dan siapa ahli yang menangani. Lebih dari itu, presiden menegaskan tidak ada investasi yang boleh berjalan tanpa transfer teknologi. Artinya, kampus harus berada di dalam lingkaran pengambilan keputusan, bukan sekadar menyaksikan dari luar.
Langkah konkret sudah dimulai. Sejumlah nota kesepahaman telah diteken, memposisikan perguruan tinggi sebagai pusat unggulan (center of excellence) dan pemasok tenaga ahli lintas disiplin. IPB, ITB, Universitas Diponegoro (Undip), dan ITS disebut telah terlibat dalam penyediaan tenaga ahli, kajian teknis, hingga pengembangan teknologi. Cakupannya luas, mulai dari pemodelan hidrodinamika presisi, teknologi konstruksi pantai adaptif, inovasi material, hingga analisis sosial-ekonomi masyarakat pesisir.
Yang menarik, keterlibatan ini tidak berhenti pada tataran kajian akademik. Brian Yuliarto menuturkan bahwa para guru besar dan pakar akan duduk langsung dalam tim pelaksana yang dipimpin oleh Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa. Beberapa teknologi bahkan telah diujicobakan lebih dulu di lapangan, seperti yang berhasil diterapkan di Demak dan Semarang.
Proyek Giant Sea Wall sendiri merupakan salah satu prioritas pemerintahan Prabowo. Dalam penyampaian keterangan pemerintah atas RUU APBN 2027, presiden mengungkapkan ambisinya untuk memulai pembangunan pada masa kepemimpinannya. Proyek ini direncanakan membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, dan dibagi menjadi 15 segmen. Dengan durasi pengerjaan yang diproyeksikan mencapai 15 hingga 20 tahun, Prabowo menyadari bahwa peresmian mungkin dilakukan oleh presiden berikutnya, namun ia bertekad untuk memulainya sekarang.
Bagi Indonesia, keterlibatan perguruan tinggi dalam proyek infrastruktur raksasa ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah sinyal bahwa pemerintah ingin membangun kapasitas riset dan inovasi domestik yang selama ini sering terpinggirkan. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi model bagi proyek-proyek strategis lainnya, di mana kampus tidak hanya menjadi pemasok tenaga kerja, tetapi juga mitra dalam pengambilan keputusan teknis.
Namun, tantangan tetap ada. Koordinasi antara akademisi, birokrasi, dan pelaksana proyek sering kali menjadi titik lemah. Pertanyaannya, apakah struktur baru seperti Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa mampu menjembatani perbedaan budaya kerja antara dunia akademik dan proyek infrastruktur yang sarat tenggat waktu? Keberhasilan Giant Sea Wall tidak hanya diukur dari kokohnya struktur fisik, tetapi juga dari seberapa besar teknologi yang lahir dari dalam negeri benar-benar diterapkan.



