Trauma Gempa Susulan, 1.246 Warga Sikka Bertahan di Pengungsian Stadion
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari seribu warga Sikka masih bertahan di posko pengungsian Stadion Gelora Samador, Maumere, pascagempa yang mengguncang Flores.
- Kekhawatiran akan gempa susulan dan tsunami membuat warga pesisir enggan kembali ke rumah, meski status siaga telah dicabut.
- Bantuan logistik seperti makanan siap saji, air minum, selimut, dan terpal masih dinantikan para pengungsi dari pemerintah daerah.

Lebih dari seribu warga Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih memilih bertahan di posko pengungsian Stadion Gelora Samador, Maumere, hingga Minggu (16/8/2026), dua hari setelah gempa bumi berkekuatan signifikan mengguncang wilayah Flores. Mereka menolak kembali ke rumah lantaran trauma dan cemas menghadapi potensi gempa susulan yang bisa lebih dahsyat.
Berdasarkan data Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka, tercatat 1.246 jiwa mengungsi dan tersebar di 20 titik posko. Sebagian besar terkonsentrasi di Stadion Gelora Samador, yang menjadi posko utama milik Pemerintah Kabupaten Sikka. Para pengungsi mayoritas berasal dari kawasan pesisir Kota Maumere, seperti Kelurahan Kota Uneng dan Kelurahan Wuring, yang paling rentan terhadap ancaman tsunami.
Kepanikan warga pesisir bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat, gempa besar pada 1992 yang berpusat di Flores memicu tsunami dahsyat dan menelan ribuan korban jiwa. Pengalaman traumatis itu masih membekas di benak sebagian warga, seperti La Adi (60), warga Wuring, yang mengaku lebih memilih tidur di tenda pengungsian daripada pulang ke rumahnya yang berada di tepi pantai. "Daripada pulang ke Wuring lalu gempa lagi dan datang tsunami, saya mau lari ke mana? Lebih baik saya tidur di tenda pengungsi ini," tuturnya.
Kekhawatiran serupa juga diungkapkan Laurensius Mitak, warga Kelurahan Kota Uneng. Ia mengungsi bersama istri, dua anak, dan anggota keluarga lainnya ke halaman Kantor Bupati Sikka sejak gempa pertama terjadi. Baginya, tinggal di lorong sempit yang dikelilingi bangunan tembok membuatnya sulit berlari menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu terjadi guncangan susulan. "Mungkin bisa lebih dahsyat dari gempa pagi tadi. Jelas kami khawatir," ujarnya.
Situasi ini diperparah oleh belum meratanya bantuan logistik. Nadia Yusran (25), pengungsi asal Kampung Buton, mengaku belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah daerah. "Kami berharap bisa mendapatkan bantuan logistik, terutama makanan siap saji, air minum, selimut, dan terpal," katanya. Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Sikka memang telah melakukan pendataan, namun distribusi bantuan masih berjalan bertahap.
Di tengah kekhawatiran itu, sebagian warga memilih bertahan di rumah namun tetap waspada. Maria Inviolata, warga Desa Hoder, mengaku tidur di teras rumah karena takut jika tiba-tiba terjadi gempa susulan. "Mau tidur di dalam rumah takut kalau tiba-tiba terjadi gempa susulan," ungkapnya. Pilihan ini menunjukkan dilema antara rasa aman dan keterbatasan akses ke posko pengungsian.
Pemerintah Kabupaten Sikka sebenarnya telah mencabut status siaga bencana setelah BMKG memastikan tidak ada lagi potensi tsunami. Namun, keputusan itu tidak serta-merta meredakan kecemasan warga. Banyak yang memilih tetap bertahan di pengungsian hingga situasi benar-benar kondusif dan tidak ada lagi guncangan susulan. "Kami memilih bertahan di sini karena merasa lebih aman di area terbuka. Belum tahu sampai kapan akan bertahan di halaman Kantor Bupati Sikka ini," ujar Nadia.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan gempa seperti Flores. Selain mempercepat distribusi bantuan, pemerintah daerah juga perlu memberikan pendampingan psikologis bagi warga yang mengalami trauma berkepanjangan. Pertanyaannya, akankah langkah-langkah pemulihan ini berjalan cepat sebelum warga kehilangan kesabaran dan memilih kembali ke rumah meski risiko masih mengintai?



