China Ancam Balas Uni Eropa Jika Terapkan Pembatasan Dagang Gaya 301
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Perdagangan China memperingatkan akan merespons tegas setiap pembatasan UE terhadap perusahaan atau produk China.
- UE tengah mempertimbangkan instrumen serupa Pasal 301 AS yang dapat memutus akses China ke pasar Eropa dalam 24 jam.
- Pertemuan tingkat tinggi di Beijing pekan depan menjadi ujian apakah ketegangan dagang mereda atau meningkat.

Pemerintah China menyampaikan peringatan keras kepada Uni Eropa menjelang pertemuan tingkat tinggi di Beijing pekan depan. Kementerian Perdagangan China menegaskan akan merespons secara tegas jika blok tersebut memberlakukan pembatasan terhadap perusahaan atau produk China, menurut pernyataan resmi yang dikutip CNBC.
Pernyataan itu muncul setelah Uni Eropa mempertimbangkan penggunaan instrumen perdagangan bergaya Pasal 301 Amerika Serikat. Langkah tersebut, jika diadopsi, dapat memberi Brussels kewenangan untuk membatasi akses China ke pasar Eropa dalam waktu singkat. China menilai tindakan semacam itu akan merusak kepercayaan timbal balik dan mengganggu negosiasi yang sedang berjalan.
Ketegangan ini bukan tanpa sebab. Uni Eropa mencatat defisit perdagangan barang dengan China yang terbesar di dunia, baru-baru ini melampaui defisit dengan Amerika Serikat. Data bea cukai China yang diolah Wind Information menunjukkan hal tersebut. Sementara itu, jika jasa turut dihitung, UE menyebut China sebagai mitra dagang utamanya dengan total perdagangan mencapai 880 miliar euro atau hampir 1 triliun dolar AS pada tahun lalu.
Komisaris Perdagangan UE Maroลก ล efฤoviฤ sebelumnya menegaskan bahwa Beijing harus memberikan hasil konkret pada Oktober atau menghadapi tindakan yang lebih keras. Ia dijadwalkan mengunjungi Beijing pekan depan. Pernyataan itu mempertegas tenggat yang semakin sempit bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan.
Analis Rhodium Group, Noah Barkin, mengungkapkan bahwa Jerman dan Prancis sedang menyelesaikan dokumen bersama yang mendesak Komisi Eropa mempercepat pengembangan instrumen untuk menutup akses China dari pasar Eropa. Menurutnya, langkah itu bisa meniru pendekatan tarif Pasal 301 AS. Barkin menilai Eropa semakin serius mempertimbangkan opsi tersebut.
"China akan merespons dengan tegas jika UE memberlakukan pembatasan," demikian bunyi pernyataan Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip CNBC. "Tindakan semacam itu akan sangat merusak kepercayaan timbal balik dan mengganggu negosiasi."
Bagi Indonesia, ketegangan dagang China-Uni Eropa membawa implikasi berlapis. Sebagai mitra dagang utama kedua negara, Indonesia dapat menjadi alternatif tujuan ekspor atau sumber impor jika arus perdagangan teralihkan. Namun, risiko fragmentasi pasar global juga dapat menekan harga komoditas andalan Indonesia seperti minyak sawit, batu bara, dan nikel. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi lonjakan barang China yang dialihkan ke Asia Tenggara jika akses ke Eropa menyempit.
Selain itu, ASEAN telah melampaui UE sebagai mitra dagang barang terbesar China sejak 2020. Posisi ini memberi Indonesia ruang untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok regional. Namun, tanpa kesepakatan dagang yang setara, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk China yang tidak lagi terserap Eropa.
Pertemuan pekan depan akan menjadi indikator awal arah kebijakan kedua raksasa ekonomi. Jika China dan UE gagal menemukan titik temu, gelombang proteksionisme baru dapat mengguncang perdagangan global, termasuk di Asia Tenggara. Akankah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi ekonominya, atau justru menjadi korban limpahan barang dari perang dagang yang memanas?



