Ken Griffin Donasi Rp47 Triliun ke Carnegie Mellon, Terbesar dalam Sejarah Pendidikan Tinggi
Baca dalam 60 detik
- CEO Citadel Ken Griffin menyumbang $3 miliar ke Carnegie Mellon University, dengan $2 miliar dialokasikan untuk kampus baru di Miami.
- Donasi ini melampaui rekor sebelumnya dari Phil Knight sebesar $2 miliar ke Oregon Health & Science University pada Agustus 2025.
- Kampus baru seluas 35 acre di Wynwood akan mulai dibangun 2027 dan menampung 3.500 mahasiswa, fokus pada tantangan sosial seperti ketahanan iklim dan keamanan nasional.

CEO Citadel Ken Griffin resmi mengumumkan komitmen donasi senilai $3 miliar kepada Carnegie Mellon University (CMU) pada Rabu (30/9/2026). Angka ini diklaim sebagai sumbangan individu terbesar dalam sejarah pendidikan tinggi, mengalahkan rekor sebelumnya dari pendiri Nike Phil Knight yang menyumbang $2 miliar ke Oregon Health & Science University pada Agustus 2025. Sebagian besar dana, yakni $2 miliar, akan digunakan untuk membangun kampus CMU di Miami, sementara sisanya dialokasikan untuk berbagai program universitas.
Langkah filantropi Griffin ini menandai babak baru dalam peta donasi pendidikan tinggi Amerika Serikat. Sejak memindahkan markas Citadel dari Chicago ke Miami pada 2022, Griffin memang gencar memperkuat pengaruhnya di Florida. Ia menyebut kebijakan ramah bisnis, pajak rendah, dan kualitas hidup di negara bagian itu sebagai magnet. "CMU Miami akan memupuk talenta, pengetahuan, dan keahlian untuk meluncurkan perusahaan baru, berkontribusi pada ekonomi dan komunitas Miami, serta memajukan kemakmuran bangsa kita," ujar Griffin dalam rilis resmi.
Kampus baru ini akan berdiri di atas lahan seluas 35 acre di kawasan Wynwood, Miami, yang dikenal sebagai pusat seni dan kreativitas. Konstruksi dijadwalkan dimulai pada 2027, dengan target penerimaan mahasiswa pertama pada 2028. Setelah selesai, kampus tersebut diproyeksikan menampung lebih dari 3.500 mahasiswa. Yang menarik, program akademiknya tidak akan diorganisasi berdasarkan jurusan konvensional, melainkan berfokus pada pemecahan tantangan sosial seperti ketahanan iklim dan keamanan nasional.
Griffin bukan sosok baru dalam daftar donatur besar. Sebelumnya, ia pernah menyumbang $300 juta ke Harvard University, almamaternya, pada 2023, serta $125 juta ke University of Chicago pada 2017. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ia justru vokal mengkritik kepemimpinan universitas elit. Pada 2024, ia mengaku menghentikan donasi ke Harvard karena respons kampus terhadap antisemitisme. Ia bahkan menyindir sebagian mahasiswa sebagai "snowflakes yang cengeng" karena terjebak dalam retorika penindas dan tertindas.
"Apakah kita akan mendidik calon anggota DPR dan pemimpin IBM? Atau kita akan mendidik sekelompok pemuda-pemudi yang hanya terjerat retorika penindas dan tertindas, dan ini tidak adil, dan terus terang seperti snowflakes yang cengeng?"
โ Ken Griffin, dalam wawancara dengan CNBC (2024)
Bagi Indonesia, fenomena donasi raksasa ini bisa menjadi cermin. Di tengah keterbatasan anggaran pendidikan, perguruan tinggi dalam negeri masih sangat bergantung pada pemerintah dan uang kuliah. Filantropi pendidikan ala Griffin belum menjadi budaya mapan di kalangan konglomerat nasional. Padahal, dana abadi pendidikan (endowment fund) yang dikelola profesional dapat menjadi penopang riset dan inovasi. Beberapa universitas Indonesia mulai merintis, tetapi skalanya masih jauh. Jika para taipan tanah air meniru langkah Griffin, bukan tidak mungkin lahir kampus-kampus riset kelas dunia yang mandiri secara finansial.
Selain itu, pendekatan CMU yang tidak berbasis jurusan konvensional patut dicermati. Model ini menekankan solusi lintas disiplin untuk masalah nyata, seperti perubahan iklim dan keamanan siber. Bagi Indonesia yang menghadapi tantangan serupa, kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah bisa menjadi jalan keluar. Namun, tanpa insentif pajak yang menarik dan ekosistem riset yang kuat, donasi besar cenderung mengalir ke luar negeri.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Griffin akan terus memperluas jejak filantropinya, tetapi juga bagaimana universitas lain merespons. Apakah gelombang donasi besar ini akan memicu perlombaan amal di kalangan ultra-kaya, atau justru memperlebar jurang antara kampus kaya dan kampus kecil? Yang jelas, lanskap pendidikan tinggi global sedang berubah, dan Indonesia perlu memikirkan strategi agar tidak sekadar menjadi penonton.



