Gempa Flores 7,7 SR: 48 Tewas, Ribuan Warga Mengungsi dan Menanti Bantuan
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,7 SR di Flores menewaskan 48 orang dan melukai 101 lainnya, dengan ribuan warga mengungsi ke tempat aman.
- Kerusakan meluas: 914 rumah rusak berat, 93 fasilitas pendidikan, dan 36 fasilitas kesehatan terdampak, memicu status tanggap darurat 14 hari.
- Bantuan nasional dan internasional mulai mengalir, termasuk 50.000 paket dari pemerintah dan tawaran satelit Copernicus dari Uni Eropa.

Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu dini hari (15/8), telah menewaskan 48 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi ke perbukitan. Hingga Minggu (16/8), para penyintas masih menanti kiriman bantuan logistik di tengah keterputusan listrik dan komunikasi di sejumlah wilayah terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sedikitnya 5.000 orang meninggalkan rumah mereka setelah gempa dangkal yang episentrumnya berada di lepas pantai utara Flores itu. Lebih dari 341 gempa susulan tercatat dalam beberapa jam setelah kejadian utama, memicu kekhawatiran akan adanya bangunan yang runtuh menyusul getaran lanjutan.
Di Desa Nangahale, pantai utara Flores, warga seperti Umri (55) mengaku bertahan di atas bukit selama 24 jam karena takut kembali ke rumah. "Kami butuh makanan, minuman, obat-obatan, dan popok untuk anak-anak," ujarnya, menggambarkan kondisi darurat yang dihadapi para pengungsi. Nurhidayati (55), yang juga mengungsi di lokasi sama, masih trauma dengan gempa dahsyat Flores 1992 yang menewaskan sekitar 2.500 orang. "Saya masih sangat takut; jantung saya berdebar keras mengingat getaran kemarin... Saya tidak berani pulang," tuturnya.
Jumlah korban jiwa bertambah satu orang dari Sabtu malam ke Minggu pagi. Petugas pencarian dan pertolongan, Fathur Rahman, menyatakan belum ada laporan warga tertimbun atau hilang. "Untuk saat ini kami fokus pada upaya pencarian, menyisir area terdampak," katanya. Sementara itu, BNPB mencatat 101 warga mengalami luka-luka dan 914 rumah rusak berat, ditambah ratusan lainnya rusak ringan. Fasilitas publik juga tidak luput: 93 sekolah, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah dilaporkan rusak.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur tengah menyiapkan keputusan status tanggap darurat untuk 14 hari ke depan. Bantuan telah mulai dikirim, termasuk 50.000 paket logistik dengan total berat 275 ton. Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menawarkan dukungan satelit Copernicus untuk membantu pencarian dan penyelamatan. "Eropa siap mengerahkan Copernicus, mata kami di langit, untuk mendukung upaya pencarian dan penyelamatan. Indonesia, kami berdiri bersamamu," tulisnya di platform X.
Gempa ini kembali mengingatkan Indonesia akan ancaman seismik yang konstan karena berada di Cincin Api Pasifik. Tsunami setinggi 1,6 meter sempat dilaporkan di beberapa wilayah pesisir, namun peringatan tsunami telah dicabut. Masyarakat diimbau untuk tidak memasuki bangunan rusak karena risiko gempa susulan. Peristiwa ini juga menjadi ujian bagi kesiapsiagaan dan respons bencana nasional, terutama di daerah terpencil seperti Flores yang akses jalannya terbatas.
Ke depan, pertanyaan besar adalah bagaimana pemerintah mempercepat distribusi bantuan ke daerah-daerah terisolasi dan memastikan pemulihan infrastruktur vital seperti listrik dan telekomunikasi. Pengalaman gempa Flores 1992 yang memakan ribuan korban menjadi pelajaran berharga bahwa mitigasi dan edukasi kebencanaan harus terus diperkuat, tidak hanya di Pulau Jawa tetapi juga di kawasan timur Indonesia yang kerap terlupakan.



