Instagram Perluas Program Sekolah demi Redam Kritik Perlindungan Remaja
Baca dalam 60 detik
- Instagram memperluas School Partnerships dengan portal informasi, verifikasi siswa, dan fitur komunitas sekolah.
- Langkah ini menjawab tekanan regulasi dan kekhawatiran orang tua terhadap dampak media sosial bagi remaja.
- Keberhasilan inisiatif akan bergantung pada transparansi moderasi dan adopsi di Indonesia yang belum tersentuh program.

Instagram resmi memperluas program School Partnerships dengan meluncurkan portal informasi dalam aplikasi, verifikasi siswa, serta fitur komunitas sekolah. Inisiatif yang pertama kali diperkenalkan pada Maret 2025 ini kini menjangkau hampir 17.000 sekolah, dan menjadi jawaban platform atas meningkatnya tekanan publik serta regulator terhadap perlindungan pengguna muda.
Program ini pada dasarnya memberi jalur cepat bagi pendidik untuk melaporkan potensi masalah keamanan langsung ke Instagram. Laporan dari kontributor terverifikasi—guru atau staf sekolah yang disetujui—diprioritaskan, sehingga respons bisa lebih sigap dibandingkan kanal pengaduan biasa. Berdasarkan masukan peserta awal, Instagram menambahkan sejumlah elemen baru untuk memperluas jangkauan pesan dan keterlibatan siswa.
Sekolah yang terlibat kini mendapatkan akses ke fitur Channels, School Stories, dan Notes, plus sumber daya tambahan untuk mendukung pendidik, orang tua, dan wali murid. Instagram juga meluncurkan fitur siswa terverifikasi, yang memberikan akses serupa bagi kontributor siswa untuk menyoroti potensi masalah. Tak hanya itu, ada banner dan direktori siswa yang dirancang memudahkan koneksi antarteman sekelas. "Siswa dapat melihat direktori siswa lain di sekolah mereka, atau membuat banner sekolah," ujar pihak Instagram. Fitur ini hanya terlihat oleh siswa lain dan pengikut remaja yang mereka ikuti balik.
Langkah ini muncul di tengah badai kritik yang menerpa Meta. Instagram dan platform media sosial lain terus dituding berkontribusi pada memburuknya kesehatan mental remaja. Beberapa negara bahkan memberlakukan pembatasan penggunaan untuk pengguna di bawah umur. Di Amerika Serikat, Meta baru saja dijatuhi denda US$567 juta karena dinilai gagal melindungi remaja. Tekanan ini memaksa perusahaan menggenjot fitur keamanan sebagai upaya membangun kembali kepercayaan orang tua.
"Ini akan memudahkan sekolah menjangkau siswa, dan bagi siswa untuk tetap aman dan terinformasi di Instagram," jelas Instagram dalam pengumumannya.
Meski begitu, efektivitas program masih dipertanyakan. Verifikasi siswa melalui Unidays hanya berlaku untuk siswa SMA, sementara jenjang SMP dan usia lebih muda—kelompok paling rentan—belum tersentuh. Selain itu, fitur direktori dan banner berpotensi menimbulkan masalah privasi jika tidak diawasi ketat. Instagram menegaskan visibilitasnya terbatas pada sesama siswa dan pengikut yang disetujui, namun risiko kebocoran data tetap ada.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Program School Partnerships belum menyentuh sekolah-sekolah di Tanah Air, padahal pengguna Instagram remaja Indonesia sangat besar. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyusun regulasi perlindungan anak di ruang digital, yang kemungkinan akan mewajibkan platform melakukan verifikasi usia dan moderasi konten. Jika Instagram tidak memperluas program serupa ke Indonesia, platform berisiko menghadapi tuntutan hukum atau pembatasan operasional. Di sisi lain, inisiatif ini bisa menjadi acuan bagi platform lokal seperti TikTok dan Snack Video untuk mengembangkan mekanisme serupa.
Ke depan, Meta perlu membuktikan bahwa fitur-fitur ini bukan sekadar kosmetik. Transparansi dalam menangani laporan, audit pihak ketiga, dan perluasan jangkauan ke berbagai wilayah menjadi ujian. Tanpa itu, kritik terhadap dampak negatif media sosial pada remaja akan terus menguat, dan regulator di berbagai negara—termasuk Indonesia—akan semakin agresif menuntut akuntabilitas.



