Lahan Tandus di Transmigrasi Sambas Disulap Jadi Kebun Sayur, Warga Hemat Biaya Pangan
Baca dalam 60 detik
- Warga Desa Sebunga di kawasan transmigrasi Gerbang Mas Perkasa, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mengubah pekarangan tandus menjadi kebun sayur produktif melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia.
- Inisiatif ini menekan pengeluaran rumah tangga karena sayuran yang sebelumnya harus didatangkan dari Sambas dengan perjalanan dua jam kini dapat dipanen sendiri.
- Keberlanjutan program bergantung pada penguatan kelembagaan lokal dan dukungan kebijakan yang sejalan dengan target swasembada pangan nasional.

Warga Desa Sebunga di kawasan transmigrasi Gerbang Mas Perkasa, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, membuktikan bahwa lahan kering berbatu bukan penghalang untuk memproduksi pangan sendiri. Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia, pekarangan rumah yang sebelumnya gersang kini ditanami aneka sayuran, memangkas pengeluaran harian sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Kawasan transmigrasi yang terletak jauh dari pusat distribusi membuat harga sayuran di Sebunga kerap membengkak. Warga harus menempuh sekitar dua jam perjalanan ke Sambas hanya untuk membeli bahan pangan segar. Kondisi itu diperparah oleh karakter tanah setempat yang kering, berwarna kuning, dan berbatu, sehingga tanaman sayur mudah mati meski sudah dirawat.
Menghadapi hambatan tersebut, TEP UI menggelar diskusi kelompok terarah pada akhir Agustus 2026. Warga tidak hanya dilibatkan sebagai penerima manfaat, tetapi diajak menentukan lokasi lahan serta memilih sepuluh komoditas yang paling dibutuhkan, mulai dari timun, cabai, tomat, selada, daun bawang, kacang panjang, labu, kangkung, sawi, hingga tanaman obat keluarga.
Proses perbaikan lahan dilakukan bertahap. Tim lebih dulu menggemburkan tanah selama tiga hari menggunakan traktor tangan bantuan Kapolsek Sajingan Besar. Setelah itu, kapur dolomit ditaburkan untuk menurunkan tingkat keasaman tanah, disusul penyemaian di rumah bibit berjaring peneduh. Tanah yang sudah netral kemudian diperkaya dengan limbah sawit janjang kosong, pupuk kandang, pupuk organik cair, dan pestisida nabati.
"Kami berharap, dengan adanya local champion dan kesepakatan sosial, program ini terus berjalan secara berkelanjutan secara mandiri," ujar perwakilan TEP UI, Rahayu.
Pendekatan yang diterapkan TEP UI merujuk pada konsep integrated farming, yakni memadukan berbagai sumber daya lokal untuk menghasilkan pangan tanpa ketergantungan pasokan luar. Bagi warga seperti Ana Sofia, dampaknya langsung terasa. Ia menyebut kegiatan ini memberi ibu-ibu di Sebunga ruang produktif sekaligus mengurangi kebutuhan belanja sayur. Hal senada disampaikan Mak Ola, warga transmigrasi lain, yang mengaku sebelumnya kesulitan menanam karena tanah mudah membuat tanaman mati.
Keberhasilan di Sebunga menjadi cermin kecil dari persoalan besar yang dihadapi Indonesia: bagaimana memastikan daerah pinggiran, termasuk kawasan transmigrasi, tidak selalu bergantung pada pasokan dari kota. Presiden Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor pada September 2026 menegaskan bahwa Indonesia harus swasembada pangan. Namun, target itu hanya bisa dicapai jika program di tingkat desa memiliki keberlanjutan, bukan sekadar proyek seremonial.
Bagi pembaca di kota, kisah Sebunga menyiratkan peluang investasi di sektor agriteknologi dan pemberdayaan masyarakat. Model integrated farming yang melibatkan perguruan tinggi, kepolisian, dan warga dapat direplikasi di daerah lain dengan karakter lahan serupa. Pemerintah daerah dan investor perlu melihat transmigrasi bukan sebagai beban, melainkan sebagai simpul produksi pangan yang potensial jika didukung input pertanian, akses pasar, dan pendampingan teknis berkelanjutan.
Pertanyaannya, apakah pemerintah akan menjadikan praktik di Sebunga sebagai cetak biru nasional, atau membiarkannya berhenti sebagai cerita sukses lokal? Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, lahan tandus bisa kembali gersang, dan ketahanan pangan hanya menjadi slogan di atas kertas.



