Laut Dunia Serap 23 Zettajoule Panas pada 2025, Rekor Baru yang Mengancam Iklim dan Pangan
Baca dalam 60 detik
- Samudra global menyerap 23 zettajoule energi panas tahun lalu, setara hampir 40 kali total konsumsi energi umat manusia.
- Laju kenaikan permukaan laut meningkat dari 3,8 mm per tahun (1999–2012) menjadi 4,2 mm per tahun (2012–2025), sementara keasaman laut naik 17% dalam empat dekade.
- Dampak sistemik termasuk pemutihan 84% terumbu karang dunia dan kegagalan reproduksi massal penguin emperor di Antartika, dengan implikasi langsung bagi perikanan dan ketahanan pangan Indonesia.

Samudra dunia menyerap sekitar 23 zettajoule energi panas sepanjang 2025, angka tertinggi yang pernah tercatat dan hampir 40 kali lipat total konsumsi energi seluruh umat manusia pada periode yang sama. Laporan Copernicus Ocean State Report edisi ke-10 yang dirilis pekan ini mengungkap bahwa lautan tidak hanya semakin panas, tetapi juga semakin tinggi, semakin asam, dan semakin tidak ramah bagi kehidupan.
Sejak 1999, permukaan laut global rata-rata naik 3,8 milimeter per tahun. Namun antara 2012 dan 2025, laju itu melonjak menjadi 4,2 milimeter per tahun. Dalam 40 tahun terakhir, tingkat keasaman laut meningkat 17%—perubahan kimia yang menggerogoti kemampuan organisme bercangkang seperti kerang dan terumbu karang untuk bertahan hidup.
Lautan berperan sebagai peredam panas utama Bumi: sekitar 90% kelebihan panas dari polusi gas rumah kaca diserap oleh samudra, bersama sepertiga emisi karbon dioksida global. Tanpa fungsi ini, suhu daratan akan jauh lebih ekstrem. Namun kapasitas itu memiliki batas, dan laporan terbaru menunjukkan konsekuensi yang semakin nyata.
Pierre Bahurel, Direktur Jenderal Mercator Ocean International yang menerbitkan laporan, menegaskan bahwa transformasi laut berlangsung di depan mata. "Pemanasan, kenaikan muka laut, dan degradasi ekosistem adalah tanda-tanda saling terkait dari perubahan besar jangka panjang," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa krisis laut bukan fenomena terpisah, melainkan satu kesatuan dengan krisis iklim global.
Eropa menjadi wilayah yang paling terdampak. Kawasan ini memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global. Laut Mediterania dan Laut Hitam dilanda gelombang panas laut rekor, dengan suhu tinggi yang bertahan hingga kedalaman signifikan dan berlangsung lebih dari sebulan. Mediterania bagian barat mencatat percepatan kenaikan muka laut yang jelas, sementara bagian timur menunjukkan pola tidak merata. Secara keseluruhan, suhu Mediterania naik 0,32°C per dekade.
Dampak terhadap kehidupan laut sudah terukur. Antara Januari 2023 dan September 2025, 84% terumbu karang dunia mengalami stres panas pada tingkat pemutihan. Dalam 30 tahun terakhir, hampir 5% wilayah samudra mengalami pergeseran pola pertumbuhan fitoplankton—organisme mikroskopis yang menjadi fondasi rantai makanan laut dan pengatur aliran karbon. Di Antartika, empat koloni penguin emperor mengalami kegagalan reproduksi total pada 2022 akibat rekor minimum es laut.
"Efeknya sudah terlihat selama bertahun-tahun dan pasti akan meningkat. Namun masyarakat cenderung menganggap remeh masalah ini. Contohnya, masalah gabungan kenaikan muka laut dan peristiwa ekstrem yang mengikis pantai Mediterania—namun sebagian orang tetap bersikeras membangun kembali di tempat yang pasti akan hilang."
— Ángel Borja, ekolog kelautan di AZTI, Spanyol
Laporan ini juga menyoroti fenomena "penalti ozon-iklim": kombinasi panas ekstrem dan polusi udara yang memapar lebih dari sepertiga populasi dunia dengan tingkat ozon permukaan berbahaya. Sepanjang Januari–Agustus 2026, hanya 5% penduduk global yang menghirup ozon dalam ambang batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Florian Pappenberger, Direktur Jenderal European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, menekankan bahwa polusi udara tidak mengenal batas negara. "Asap kebakaran hutan, ozon, dan debu dapat menempuh ribuan kilometer, memengaruhi komunitas yang jauh dari sumbernya. Saat komunitas internasional bersiap untuk COP31, temuan ini menjadi pengingat tepat waktu bahwa perubahan iklim, kualitas udara, dan kesehatan publik adalah tantangan yang saling terkait erat dan membutuhkan aksi global terkoordinasi," katanya.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, negara kepulauan dengan garis pantai lebih dari 99.000 kilometer dan sekitar 65% penduduk tinggal di wilayah pesisir, temuan ini bukan sekadar berita lingkungan. Kenaikan muka laut mengancam langsung kota-kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, Demak, dan Makassar. Sektor perikanan—yang menopang mata pencaharian jutaan nelayan dan menyumbang sekitar 2,6% PDB—sangat rentan terhadap pergeseran pola fitoplankton dan pemutihan terumbu karang, yang merupakan nursery ground utama ikan. Penurunan hasil tangkapan akan berdampak pada ketahanan pangan nasional dan stabilitas harga ikan di pasar domestik.
Selain itu, peningkatan keasaman laut dapat merusak budidaya kerang dan rumput laut, komoditas ekspor penting bagi Indonesia. Sementara itu, gelombang panas laut yang lebih sering terjadi berpotensi mengganggu operasi pembangkit listrik tenaga uap di pesisir yang bergantung pada air laut untuk pendinginan. Pemerintah Indonesia perlu mempercepat adaptasi pesisir, memperkuat sistem peringatan dini gelombang panas laut, dan mengintegrasikan data oseanografi global ke dalam perencanaan tata ruang wilayah.
Dengan COP31 di depan mata, pertanyaannya bukan lagi apakah laut akan terus memanas, melainkan seberapa cepat negara-negara—termasuk Indonesia—mengalihkan fokus dari retorika ke aksi nyata. Tanpa langkah konkret, laporan tahun depan mungkin akan mencatat rekor yang lebih memprihatinkan lagi.



