Rhoma Irama Kembali Mengguncang Malaysia Setelah 20 Tahun: Dangdut Tak Pernah Usang
Baca dalam 60 detik
- Setelah dua dekade vakum, Raja Dangdut kembali manggung di Kuala Lumpur dan berhasil memukau penonton lintas generasi.
- Kolaborasi spontan dengan Maliq d'Essentials di atas panggung menjadi bukti daya tarik dangdut yang mampu merambah segmen musik urban.
- Kehadiran Rhoma di ajang Latihan Pestapora Malaysia menandai era baru diplomasi budaya Indonesia di kancah regional.

Setelah nyaris dua dekade absen, Rhoma Irama akhirnya kembali menghidupkan panggung musik Malaysia. Dalam gelaran Latihan Pestapora Malaysia di Stadion Hoki Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Sabtu lalu, sang Raja Dangdut tampil bersama grup Soneta dan langsung membius ribuan penonton yang memadati arena.
Kembalinya Rhoma ke Negeri Jiran bukan sekadar nostalgia. Ini adalah momen strategis di tengah geliat industri musik Asia Tenggara yang kian kompetitif. Kehadirannya di festival yang diadopsi dari Pestapora Indonesia itu menunjukkan bahwa dangdutโsering dianggap musik pinggiranโmampu menembus pasar regional dan merebut perhatian generasi muda.
Sepanjang penampilan, Rhoma membawakan sejumlah lagu andalan seperti "Euphoria", "Judi", "Keramat", dan "Kata Pujangga". Namun, puncak kegembiraan terjadi ketika Maliq d'Essentials naik panggung di tengah lagu "Kata Pujangga", menciptakan perpaduan unik antara dangdut dan nuansa urban yang langsung disambut riuh penonton. Kolaborasi ini menjadi salah satu momen yang paling dinantikan, bahkan sejak line-up festival diumumkan.
Latihan Pestapora Malaysia sendiri merupakan adaptasi dari festival musik tahunan asal Indonesia, Pestapora. Ajang ini menghadirkan deretan musisi Tanah Air seperti Tulus, Tipe-X, Bernadya, dan Nadhif Basalamah, serta talenta lokal Malaysia seperti Aisha Retno, Aziz Hanun, Gerhana, dan Skacinta. Kehadiran Rhoma di tengah nama-nama muda itu menegaskan posisinya sebagai ikon yang tetap relevan lintas zaman.
Dalam konferensi pers menjelang acara, Rhoma mengungkapkan kerinduannya untuk kembali tampil di Malaysia. "Saya sudah 10 kali konser di Malaysia. Tapi terakhir saya tampil di Malaysia mungkin 20 tahun lalu," ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa hubungan emosional antara Rhoma dan penggemar Malaysia tidak pernah putus, meski jeda waktu yang panjang.
Bagi industri musik Indonesia, kembalinya Rhoma ke Malaysia membawa pesan penting. Ini membuktikan bahwa musisi senior masih memiliki daya tarik besar di pasar regional, sekaligus membuka peluang ekspansi bagi genre dangdut yang selama ini jarang menembus panggung internasional. Festival seperti Latihan Pestapora menjadi katalis yang mempertemukan musisi lintas generasi dan lintas negara, memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kreativitas musik di Asia Tenggara.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Rhoma akan kembali ke Malaysia, melainkan bagaimana industri musik Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk membawa lebih banyak musisi ke panggung regional. Apakah ini akan menjadi titik balik bagi dangdut untuk diakui sebagai warisan budaya yang mendunia? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: panggung Malaysia telah kembali menjadi saksi kejayaan Raja Dangdut.



