Jennifer Lawrence Bintangi Thriller Sci-Fi 'The Flood', Rilis 2028
Baca dalam 60 detik
- Aktris peraih Oscar itu resmi bergabung dengan proyek ambisius garapan Zach Cregger yang akan didistribusikan Warner Bros. dan New Line Cinema.
- Jadwal tayang 11 Agustus 2028 menandai strategi jangka panjang studio di tengah persaingan konten streaming yang kian ketat.
- Keputusan Lawrence memperkuat posisinya sebagai aktor-produser yang mengontrol narasi karier, sekaligus membuka peluang bagi industri film global termasuk Indonesia.

Jennifer Lawrence menambah daftar proyek layar lebar dengan menandatangani kontrak untuk membintangi The Flood, film thriller fiksi ilmiah besutan Zach Cregger yang dijadwalkan tayang pada 11 Agustus 2028. Kesepakatan ini menempatkan Lawrence di bawah naungan Warner Bros. dan New Line Cinema, dua rumah produksi yang tengah memperkuat portofolio genre spekulatif setelah sukses sejumlah judul horor dan sci-fi berbiaya menengah.
Cregger, yang dikenal lewat karyanya di dunia horor dan komedi gelap, akan bertindak sebagai penulis naskah, produser, sekaligus sutradara. Meski detail plot masih dirahasiakan, keterlibatan Lawrence memberi sinyal bahwa proyek ini mengedepankan kekuatan akting dan visi sutradara ketimbang sekadar efek visual. Bagi Warner Bros., langkah ini merupakan bagian dari strategi mengunci bakat papan atas untuk proyek jangka panjang, terutama di tengah persaingan platform streaming yang semakin agresif.
Jadwal rilis 2028 terbilang jauh, namun bukan tanpa alasan. Industri film global saat ini cenderung mengumumkan proyek besar lebih awal untuk membangun ekspektasi pasar dan menarik investor. Selain itu, Lawrence juga tengah menyiapkan sejumlah proyek lain yang akan mengisi waktu sebelum produksi The Flood dimulai. Ia baru saja bergabung dengan film komedi romantis One Month Mark yang digarap bersama Apple Original Films, berdasarkan naskah spesifikasi dari Sophie Fleur de Bruijn. Logline film tersebut berbunyi, "Dia tidak pernah bertahan lebih dari sebulan dalam sebuah hubungan. Dia tidak pernah menjalani lebih dari sebulan tanpa hubungan."
Bagi Lawrence, keputusan menerima peran di The Flood bukan sekadar menambah kredit akting. Ia juga akan memproduseri proyek ini melalui rumah produksinya, Excellent Cadaver. Langkah tersebut menegaskan posisinya sebagai aktor-produser yang memiliki kendali kreatif dan bisnis atas karya yang ia bintangi. Pola ini kian umum di Hollywood, di mana bintang mapan membangun perusahaan produksi untuk memastikan proyek yang mereka pilih sejalan dengan visi artistik sekaligus mendatangkan keuntungan finansial.
Selain The Flood, Lawrence tengah menantikan perilisan What Happens At Night, film horor psikologis bergaya Gothic yang disutradarai Martin Scorsese. Dalam film itu ia beradu akting dengan Leonardo DiCaprio, didukung Mads Mikkelsen, Patricia Clarkson, dan Jared Harris. Naskahnya diadaptasi oleh Patrick Marber dari novel Peter Cameron terbitan 2020. Proyek ini telah menyelesaikan proses syuting dan menjadi salah satu judul paling dinanti di kalender festival tahun depan.
Meski kariernya moncer, Lawrence pernah mengalami penolakan yang pahit. Ia mengaku kehilangan peran Sharon Tate dalam Once Upon a Time in Hollywood (2019) kepada Margot Robbie. Dalam podcast Happy Sad Confused, ia mengenang bahwa sutradara Quentin Tarantino sempat mempertimbangkannya, tetapi publik menilainya tidak cukup cantik untuk memerankan Tate. "Atau mungkin dia memang tidak pernah mempertimbangkan saya, dan internet justru ramai-ramai menyebut saya jelek," ujarnya. Cerita ini menjadi cermin betapa tekanan standar kecantikan di Hollywood masih menjadi persoalan nyata, bahkan bagi aktris peraih Oscar.
"Saya cukup yakin itu benar, atau mungkin saya sudah terlalu sering menceritakannya hingga percaya sendiri. Tapi yang jelas, saat itu publik menilai saya tidak cukup cantik untuk memerankan Sharon Tate." โ Jennifer Lawrence
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika karier Lawrence dan proyek-proyek Hollywood semacam ini bukan sekadar konsumsi hiburan. Industri film nasional dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya membangun ekosistem produksi yang memberi ruang bagi aktor untuk berperan sebagai produser, serta bagaimana studio besar mengelola jadwal rilis jangka panjang. Selain itu, tren film sci-fi dan horor psikologis yang terus tumbuh di pasar global membuka peluang bagi sineas Indonesia untuk mengeksplorasi genre serupa dengan sentuhan lokal, yang berpotensi menembus platform streaming internasional.
Dengan jadwal tayang yang masih tiga tahun lagi, pertanyaannya: akankah The Flood menjadi tonggak baru bagi Lawrence di genre fiksi ilmiah, atau justru tenggelam di tengah banjir konten yang kian deras? Yang jelas, langkah Lawrence dan Cregger akan menjadi indikator apakah strategi studio mengunci bakat dan visi kreatif sejak awal mampu bertahan di pasar yang semakin terfragmentasi.



