Tragedi Danau Kariba: 72 Tewas, 18 Anak-anak Jadi Korban Kapal Feri Kelebihan Muatan
Baca dalam 60 detik
- Korban tewas akibat kapal feri tenggelam di Danau Kariba, Zimbabwe, mencapai 72 orang, termasuk 18 anak-anak.
- Kapal yang melayani rute pedesaan terpencil itu diduga mengangkut hingga 153 penumpang, jauh melampaui kapasitas 90 orang.
- Peristiwa ini menyoroti lemahnya regulasi transportasi air di kawasan Afrika bagian selatan dan risiko serupa di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tim penyelamat di Zimbabwe kembali menemukan 26 jenazah di perairan Danau Kariba, sehingga total korban tewas dalam kecelakaan kapal feri pekan ini menjadi 72 orang. Dari jumlah tersebut, 18 di antaranya adalah anak-anak, dengan korban termuda masih berusia satu tahun. Peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa lalu ketika kapal yang sarat penumpang dihantam gelombang kuat di tengah danau.
Kapal tua tersebut tengah mengangkut warga dari Kota Kariba menuju permukiman nelayan dan pedesaan di barat laut Zimbabwe. Wilayah itu dikenal sulit dijangkau karena infrastruktur jalan yang rusak dan minimnya transportasi umum, menjadikan transportasi air sebagai tulang punggung mobilitas warga. Hingga kini, otoritas setempat belum merilis angka pasti jumlah penumpang maupun daftar warga yang masih hilang.
Perkiraan sementara menyebutkan kapal yang memiliki kapasitas resmi 90 penumpang itu mengangkut sedikitnya 153 orang. Badan penanggulangan bencana Zimbabwe melaporkan 77 penumpang berhasil diselamatkan. Polisi yang merilis daftar korban menyebutkan 16 anak yang tewas berusia 10 tahun ke bawah, sementara satu balita berusia satu tahun ikut menjadi korban. Sebelumnya, otoritas kesulitan mendata jumlah anak karena penumpang di bawah usia tiket tidak dimasukkan dalam estimasi.
Danau Kariba sendiri merupakan danau buatan terbesar di dunia berdasarkan volume air, terbentang lebih dari 200 kilometer dengan lebar hingga 40 kilometer. Danau yang berada di perbatasan Zimbabwe dan Zambia ini terbentuk dari bendungan Sungai Zambezi pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an. Kondisi geografis yang luas dan cuaca yang berubah-ubah menjadikan pelayaran di danau ini rawan kecelakaan, terutama bagi kapal-kapal tua yang tidak laik laut.
Tragedi ini menggarisbawahi lemahnya pengawasan keselamatan transportasi air di sejumlah negara berkembang. Di Indonesia, kecelakaan serupa kerap terjadi di perairan seperti Danau Toba, Danau Poso, atau kepulauan terpencil, di mana kapal kayu berkapasitas kecil kerap mengangkut penumpang melebihi batas. Regulasi yang longgar dan minimnya inspeksi rutin menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kecelakaan. Menurut pengamat transportasi, kejadian di Zimbabwe seharusnya menjadi alarm bagi otoritas Indonesia untuk memperketat pengawasan angkutan perairan, terutama di daerah terpencil yang mengandalkan transportasi air.
Pemerintah Zimbabwe telah membentuk tim investigasi untuk mengusut penyebab pasti kecelakaan, termasuk dugaan kelebihan muatan dan kelayakan kapal. Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana memastikan kejadian serupa tidak terulang, mengingat banyak warga di kawasan tersebut tidak punya pilihan transportasi lain. Akankah tragedi ini mendorong perbaikan sistem keselamatan yang nyata, atau hanya menjadi catatan duka yang cepat dilupakan?



