Korea Selatan Tawarkan Dialog Akhiri Perang, Pyongyang Belum Menyambut
Baca dalam 60 detik
- Presiden Lee Jae-myung mengusulkan perundingan damai dengan Korea Utara untuk secara resmi menutup konflik 1950-1953 yang belum berakhir.
- Langkah ini membalikkan kebijakan keras pendahulunya dan muncul di tengah penguatan aliansi militer Pyongyang-Moskow serta uji coba rudal terbaru.
- Sikap Korea Utara yang belum memberi respons membuat prospek diplomasi tetap suram, sementara Seoul bersiap menghadapi latihan militer bersama AS.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, mengajukan usulan perundingan langsung dengan Korea Utara untuk secara resmi mengakhiri Perang Korea yang berlangsung lebih dari tujuh dekade. Tawaran ini disampaikan di tengah meningkatnya kerja sama militer Pyongyang dengan Moskow dan klaimnya sebagai negara nuklir yang tak dapat diputar balik.
Secara teknis, kedua Korea masih berada dalam status perang karena konflik 1950-1953 yang dipicu serangan Utara hanya diakhiri dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Dalam pidatonya pada peringatan kemerdekaan dari penjajahan Jepang, Lee menyerukan penghentian saling ancam dan pembukaan dialog untuk mengakhiri perang yang berkepanjangan. Ia juga menambahkan bahwa perundingan tersebut dapat membuka jalan bagi pembahasan penghentian pengembangan nuklir Korea Utara.
Usulan ini muncul saat Pyongyang mengecam latihan militer tahunan AS-Korea Selatan yang akan datang dan mengancam akan mengambil tindakan pencegahan yang lebih kuat. Korea Utara juga baru-baru ini bereaksi keras terhadap peningkatan militer Jepang di kawasan Pasifik, dengan meluncurkan dua rudal dalam dua pekan setelah Tokyo berjanji memperkuat kemampuan pertahanannya.
Sejak kegagalan KTT Hanoi 2019 antara Kim Jong-un dan Donald Trump, Korea Utara berulang kali menyatakan diri sebagai negara nuklir yang tak dapat diubah. Lee, yang dikenal sebagai presiden berhaluan moderat, telah membalikkan sikap pendahulunya yang hawkish sejak menjabat pada Juni 2025. Ia menawarkan dialog tanpa prasyarat kepada Pyongyang yang bersenjata nuklir.
Bahkan, Menteri Unifikasi Korea Selatan pada Juli lalu mengklaim Seoul telah meninggalkan kampanye yang menekan Utara untuk membongkar senjata nuklirnya, dan lebih fokus pada penghentian perluasan aktivitas nuklir Pyongyang. Namun, kepemimpinan Korea Utara yang tertutup belum menanggapi tawaran berulang tersebut, dan malah memperkuat hubungan militer dengan Rusia.
Menurut analis, Pyongyang menerima dukungan finansial, pangan, energi, dan teknologi militer dari Moskow sebagai imbalan atas pengiriman pasukan dan amunisi untuk perang Rusia di Ukraina. Kim Jong-un dijadwalkan mengunjungi Rusia dalam waktu dekat, berpotensi untuk membahas pengiriman senjata tambahan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi penting. Sebagai negara yang pernah menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika dan aktif dalam perdamaian dunia, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas kawasan Asia Timur. Eskalasi ketegangan di Semenanjung Korea dapat mempengaruhi keamanan regional dan arus perdagangan, mengingat Korea Selatan merupakan mitra dagang utama Indonesia. Selain itu, kerja sama militer Korea Utara-Rusia yang semakin erat dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Asia, yang berpotensi berdampak pada kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas-aktif.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Pyongyang akan merespons tawaran Seoul atau terus memperdalam hubungan dengan Moskow. Jika Kim memilih untuk mengunjungi Rusia dan meningkatkan pasokan senjata, tekanan internasional terhadap Korea Utara akan semakin besar, dan upaya diplomasi Lee mungkin akan menemui jalan buntu. Namun, jika ada celah untuk dialog, ini bisa menjadi langkah awal menuju perdamaian yang telah lama dinanti di Semenanjung Korea.



