Backpack Kalahkan Dancing Queen di Fat Bear Week Alaska: Suara Publik Cetak Rekor
Baca dalam 60 detik
- Backpack, beruang jantan 20 tahun, memenangi kontes Fat Bear Week 2026 setelah mengalahkan Dancing Queen dengan selisih hanya 5.000 suara.
- Partisipasi publik melonjak dengan total 2,3 juta suara, menandai kontes tahunan yang mengangkat konservasi beruang coklat di Taman Nasional Katmai.
- Kemenangan ini memperkuat tradisi pemantauan satwa liar melalui kamera langsung, sekaligus mendorong kesadaran global akan pentingnya ekosistem salmon.

Beruang coklat berusia 20 tahun bernama Backpack dinobatkan sebagai pemenang Fat Bear Week 2026 di Taman Nasional Katmai, Alaska, setelah mengalahkan pesaing utamanya, Dancing Queen, dengan margin tipis sekitar 5.000 suara. Pengumuman yang disampaikan pada Selasa (29/9) itu menandai puncak kontes tahunan yang menarik perhatian publik global terhadap kemampuan beruang menimbun lemak sebelum hibernasi musim dingin.
Fat Bear Week, yang digelar setiap tahun sejak 2014, bukan sekadar hiburan. Ajang ini menjadi barometer kesehatan populasi hampir 2.000 beruang coklat di Katmai, yang bergantung pada salmon liar di Sungai Brooks untuk bertahan hidup. Tahun ini, lebih dari 2,3 juta suara online tercatat, dengan lebih dari 200.000 suara di babak final saja—lonjakan partisipasi yang menunjukkan daya tarik kontes ini di kancah internasional.
Kemenangan Backpack bukan tanpa cerita. Tujuh tahun lalu, ibunya, Holly—yang dijuluki "Ratu Kegemukan"—pernah meraih gelar serupa. Namun, pada 2022, Holly hampir menang lagi sebelum terungkap skandal kecurangan suara yang mengguncang kontes. Meski demikian, insiden itu tidak menyurutkan animo publik; partisipasi justru terus meningkat setiap tahun.
"Dia adalah salah satu beruang yang bisa kami amati melalui kamera langsung sejak 2012. Penggemar telah mengikutinya sepanjang hidup," ujar Sarah Bruce, penjaga taman Katmai, kepada Alaska Public Media.
Backpack juga dikenal tangguh. Pada 2007, ia mengalami cedera kaki serius, tetapi mampu pulih dan kembali berkompetisi. Sementara itu, Dancing Queen (Bear 910) mendapat julukan dari gerakan kepalanya yang khas saat menangkap ikan. Ibunya juga pernah menjadi juara di masa lalu.
Menurut Bruce, indikator keberhasilan sesungguhnya bukanlah gelar, melainkan bobot yang berhasil ditambah para beruang selama musim panas. Foto-foto sebelum dan sesudah menunjukkan perubahan signifikan. "Mereka sudah menang karena akan bertahan melewati hibernasi musim dingin berikutnya," kata Bruce. "Mereka mendapatkan semua cinta."
Kontes ini juga menjadi alat edukasi tidak langsung tentang pentingnya konservasi habitat. Dengan menampilkan beruang-beruang yang gemuk dan sehat, publik diajak memahami peran salmon liar dan ekosistem sungai yang terjaga. Bagi Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi namun kerap menghadapi tekanan deforestasi dan perburuan, pendekatan serupa bisa menjadi inspirasi untuk kampanye konservasi satwa endemik seperti orangutan, harimau sumatra, atau badak Jawa.
Ke depan, Fat Bear Week diperkirakan terus berkembang sebagai fenomena digital yang menggabungkan sains, hiburan, dan partisipasi publik. Pertanyaannya, akankah popularitas ini diikuti dengan dukungan nyata terhadap upaya konservasi global, atau sekadar menjadi tontonan musiman?



