Jean-Pierre Laffont dan Foto Geng Savage Skulls: Ketika Bronx Menulis Ulang Sejarah Fotojurnalisme
Baca dalam 60 detik
- Jean-Pierre Laffont mengabadikan geng Savage Skulls di Bronx pada 1972, menghasilkan salah satu potret paling intim tentang kehidupan jalanan New York.
- Foto-foto itu bukan sekadar dokumentasi kriminal, melainkan cermin transformasi sosial dan politik kota yang tengah bergolak.
- Warisan Laffont menantang fotografer muda untuk merekam realitas tanpa jarak, sebuah pelajaran yang relevan bagi jurnalisme visual Indonesia.

Pada 1972, Jean-Pierre Laffont, fotografer kelahiran Aljazair Prancis yang berbasis di New York, mengarahkan lensanya ke Hunts Point, Bronx—sebuah kawasan yang saat itu dikenal sebagai sarang geng paling berbahaya di kota itu. Salah satu geng yang paling menarik perhatiannya adalah Savage Skulls, kelompok yang menurut catatan polisi kerap menghabisi pengedar narkoba yang menyasar anak muda. Laffont tidak sekadar meliput; ia tinggal bersama mereka selama beberapa hari, menghasilkan serangkaian foto yang kemudian menjadi klasik dalam sejarah fotografi jalanan.
Keputusan Laffont untuk mendekati Savage Skulls bukan tanpa risiko. Ia mengaku tidak berani mendatangi mereka sendirian. Bersama seorang kamerawan Prancis, ia menyusuri Fox Street dan begitu melihat anggota geng di trotoar, mereka langsung menghentikan mobil. “Begitu mereka tahu kami orang Prancis dan tidak ingin mewawancarai, mereka mempersilakan kami melihat kehidupan mereka,” kenang Laffont. Sejak itu, ia kembali sendiri keesokan harinya dan menghabiskan waktu bersama geng tersebut.
Foto yang paling ikonik dari proyek ini memperlihatkan sejumlah anggota Savage Skulls berbaris di depan pagar lapangan basket. Mereka mengenakan rompi denim tanpa lengan dengan lambang tengkorak dan tulang bersilang di punggung. Laffont menegaskan formasi itu muncul secara spontan—ia tidak mengarahkan mereka. “Mereka ingin pamer rompi mereka,” ujarnya. Yang mengejutkan, usia anggota geng itu sangat muda: yang termuda 13 tahun, dan tak ada yang lebih tua dari 20 tahun. Laffont bahkan menyamakan pemandangan itu dengan adegan dalam West Side Story, meski ia yakin anggota Savage Skulls tidak pernah meninggalkan Bronx.
Selama beberapa hari bersama mereka, Laffont menyaksikan kehidupan geng dari dekat: ruang bawah tanah yang mereka pakai sebagai klub, tempat mereka menyimpan senjata dan memutar musik; dinding dan tong sampah yang dipenuhi tag Savage Skulls; serta lapangan basket yang tidak pernah mereka gunakan untuk bermain bola, melainkan untuk berlatih tinju dan adu jotos. “Mereka seperti kucing kecil yang terus bergulat,” kata Laffont. Ia juga mencatat bahwa sebagian besar anggota adalah Puerto Rico dan berbicara dalam bahasa Spanyol. Komunikasi berlangsung dalam bahasa Inggris yang patah-patah, dan Laffont yang saat itu belum fasih berbahasa Inggris justru dianggap sebagai orang luar—sebuah ikatan yang membuat mereka santai, bahkan sampai memperlihatkan senjata di depannya.
“Saya tidak ingin mencari mereka sendirian. Polisi memperingatkan tidak bisa memberi perlindungan, tetapi suatu kali mereka menghentikan mobil patroli dan saya memotret mereka mengobrol akrab dengan petugas di dalamnya.”
Yang paling menyentuh dari kisah ini terjadi hampir lima dekade kemudian. Seorang perempuan menelepon Laffont, menanyakan apakah ia masih ingat foto anggota geng yang berjalan beriringan di jalan—dan apakah ia ingat ada seorang perempuan di dalamnya. Ketika Laffont menjawab ingat, perempuan itu berkata, “Itu ibu saya, dan dia meninggal kemarin.” Ia meminta salinan foto karena itu satu-satunya gambar ibunya yang ia ketahui. Laffont kemudian mengirim cetakan besar untuk pemakaman. “Momen itu sangat mengharukan. Saya sadar hidup terus berjalan. Anak-anak yang saya potret pada 1972 bukan lagi anak-anak,” tuturnya.
Kisah Laffont bukan sekadar nostalgia. Ia adalah potret tentang bagaimana fotografi dapat menjembatani jurang antara ketakutan dan kemanusiaan. Di tengah kota yang keras, ia memilih untuk tidak menghakimi, melainkan merekam. Pendekatan ini menantang fotografer masa kini—termasuk di Indonesia—untuk tidak sekadar mengejar gambar sensasional, tetapi membangun kepercayaan dengan subjek. Dalam konteks Indonesia, di mana ketimpangan kota dan fenomena geng jalanan masih ada, metode Laffont menawarkan alternatif: hadir, mendengarkan, dan memotret dengan hormat.
Buku Jean-Pierre Laffont: Rebels with a Cause yang diterbitkan Damiani menjadi semacam wasiat visual tentang periode yang telah lama hilang. Laffont, yang dianugerahi Knight of the Order of the Legion of Honour pada 2023, berpesan kepada generasi muda: “Pergi ke museum, pelajari karya fotografer besar, teliti cerita yang ingin diangkat, jadilah pengamat yang rendah hati dan penasaran. Profesi ini masih membuat orang bermimpi.” Di tengah derasnya arus citra digital, pertanyaannya kini: apakah fotografer hari ini masih mau meluangkan waktu untuk benar-benar melihat, bukan sekadar mengambil gambar?



