Aksi Opsi di Saham 'Magnificent Seven': Sinyal Kenaikan Besar di Tengah Ketidakpastian
Baca dalam 60 detik
- Volume perdagangan opsi di Alphabet dan Microsoft melonjak lebih dari 50% di atas rata-rata 30 hari, didominasi pembelian call.
- Alphabet mencatat lebih dari $260 juta premi dengan mayoritas bertaruh pada kenaikan, sementara Microsoft hampir $500 juta dengan $400 juta di antaranya call.
- Langkah ini muncul saat Nasdaq hanya 1% dari rekor tertinggi, menandakan ekspektasi investor terhadap lonjakan harga saham teknologi besar.

Pasar opsi Amerika Serikat mencatat lonjakan aktivitas luar biasa pada saham-saham raksasa teknologi yang tergabung dalam kelompok 'Magnificent Seven', khususnya Alphabet (GOOGL) dan Microsoft (MSFT). Kedua emiten ini belum mencetak rekor baru setidaknya sejak Mei, namun pada Rabu lalu volume opsi keduanya melesat lebih dari 50% di atas rata-rata 30 hari, menurut data dari Cboe LiveVol, SpotGamma, dan Barchart. Pemicunya adalah rilis data ekonomi pagi hari yang lebih baik dari perkiraan, termasuk angka inflasi yang lebih lembut, yang mendorong penguatan indeks Nasdaq.
Alphabet menjadi pusat perhatian dengan arus opsi yang sangat berat ke sisi bullish. Volume call tercatat lebih dari dua kali lipat volume put, dengan hampir 150.000 kontrak call diyakini dibeli oleh investor. Sebaliknya, kurang dari 100.000 call dijual dan hanya sekitar 50.000 put dibeli. Dari 20 transaksi terbesar berdasarkan nilai dolar, 14 di antaranya bersifat bullish, empat netral, dan hanya dua bearish—komposisi yang tidak biasa bahkan untuk saham sekelas Magnificent Seven. Total premi yang diperdagangkan mencapai lebih dari $260 juta hingga tengah hari, dengan lebih dari $200 juta terkait call.
Di Microsoft, pembelian call juga mendominasi dengan lebih dari 130.000 kontrak, sementara put kurang dari 52.000. Meski ada penjualan call, eksposur delta bersih menunjukkan preferensi trader terhadap kenaikan harga saham. Hampir $500 juta opsi Microsoft diperdagangkan, dengan $400 juta premi di call dan sekitar $220 juta di antaranya kemungkinan dibeli. Sebuah perdagangan spekulatif menonjol: seseorang membeli 3.000 call strike 500 yang sudah in-the-money kedaluwarsa 18 Desember senilai $12 juta, dan menekan biaya dengan menjual sekitar $2 juta call strike 600 pada tanggal yang sama. Ini menciptakan spread bullish dengan titik impas sekitar $530, atau sekitar 2,3% lebih tinggi dari harga saat ini—yang akan menjadi rekor penutupan baru bagi Microsoft.
"Arus opsi yang terkonsentrasi pada call di kedua saham ini menunjukkan keyakinan pasar bahwa koreksi terbatas dan potensi kenaikan besar sedang terbentuk," ujar seorang analis opsi yang tidak ingin disebutkan namanya.
Kenaikan volume opsi ini terjadi di tengah optimisme pasar yang didorong oleh data inflasi yang lebih dingin dari ekspektasi. Meski harga obligasi melemah pada sore hari, Alphabet tetap mempertahankan kenaikan 2,7% dan Microsoft naik 1,8%. Pergerakan ini memperkuat narasi bahwa investor mulai kembali menaruh dana pada saham-saham teknologi yang tertinggal dari rekor tertinggi, seiring ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih dovish dalam kebijakan moneternya.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini bisa menjadi sinyal penting. Saham-saham teknologi AS sering menjadi barometer untuk sektor teknologi global, termasuk di Bursa Efek Indonesia. Ketika arus opsi besar-besaran masuk ke Alphabet dan Microsoft, hal ini dapat memicu sentimen positif bagi saham-saham teknologi dalam negeri, terutama yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem digital global. Selain itu, penguatan dolar AS yang mungkin menyertai kenaikan saham teknologi bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal asing ke pasar obligasi Indonesia.
Namun, perlu dicatat bahwa perdagangan opsi bersifat spekulatif dan tidak selalu mencerminkan fundamental perusahaan. Meski demikian, pola pembelian call yang agresif di dua raksasa teknologi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar besar sedang memposisikan diri untuk skenario kenaikan. Jika data ekonomi berikutnya tetap mendukung, bukan tidak mungkin kedua saham ini akan mencetak rekor baru dalam beberapa bulan ke depan, yang pada gilirannya dapat mengangkat seluruh sektor teknologi global.
Pertanyaannya kini: apakah lonjakan opsi ini akan diikuti oleh pergerakan harga yang sesungguhnya, atau hanya menjadi gejolak jangka pendek? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti—trader opsi sedang mengirim sinyal yang sulit diabaikan.



