Puan Desak Pendataan Cepat Korban Gempa NTT: Logistik dan Pengungsian Ramah Rentan Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Ketua DPR meminta percepatan pendataan korban gempa M7,7 di NTT untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
- Puan menekankan penyaluran logistik merata dan pengungsian yang aman bagi kelompok rentan seperti lansia dan difabel.
- Pemerintah juga diminta memantau potensi gempa susulan dan memberikan informasi akurat untuk meredam kepanikan warga.

Ketua DPR RI, Puan Maharani, mendesak pemerintah untuk segera mempercepat pendataan korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi. Desakan ini muncul sebagai respons atas kebutuhan mendesak warga terdampak yang membutuhkan penanganan cepat pascabencana.
Gempa tektonik yang berpusat di utara Mbay, Kabupaten Nagekeo, terjadi pukul 05.58 WITA dan getarannya terasa hingga Lombok, Nusa Tenggara Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, namun status tersebut telah dicabut. Meski demikian, Puan menggarisbawahi pentingnya pemantauan berkelanjutan di wilayah terdampak untuk mengantisipasi risiko susulan.
Dalam keterangan resminya, Puan menyampaikan dukacita mendalam kepada para korban meninggal dan keluarga yang ditinggalkan. Ia juga mendoakan kesembuhan bagi korban luka. Lebih dari sekadar ungkapan simpati, ia menekankan bahwa pendataan yang cepat akan memudahkan penanganan pascagempa, sehingga kebutuhan dasar korban dapat segera terpenuhi secara tepat sasaran.
โPimpinan DPR menyampaikan keprihatinan atas bencana gempa besar di NTT. Pemerintah harus bergerak cepat untuk menangani dampak gempa dan merespons cepat kebutuhan warga terdampak,โ ujar Puan. Ia juga meminta agar bantuan logistik disalurkan secara merata, terutama bagi mereka yang rumahnya rusak parah dan masyarakat di daerah sulit diakses.
Perhatian khusus juga ditujukan pada pengelolaan pengungsian. Puan menegaskan bahwa tempat pengungsian harus nyaman dan aman, serta ramah terhadap kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil atau menyusui, warga difabel, dan penyandang penyakit bawaan. Hal ini menjadi sorotan karena seringkali kebutuhan kelompok-kelompok tersebut terabaikan dalam situasi darurat.
Puan juga menyoroti nasib wisatawan yang terdampak gempa, terutama di Labuan Bajo, Manggarai Barat, yang merupakan destinasi wisata unggulan. Ia meminta pemerintah memastikan para wisatawan mendapatkan pertolongan, khususnya bagi mereka yang tempat menginapnya rusak. โPara wisatawan ini jauh dari rumahnya. Pemerintah harus memastikan mereka mendapat pertolongan,โ tegasnya.
Di sisi lain, potensi gempa susulan menjadi perhatian serius. Puan meminta pemerintah memberikan informasi yang akurat dan memperluas edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah keresahan yang dapat memicu kepanikan berkepanjangan di tengah situasi yang sudah sulit.
Bencana ini menjadi ujian nyata bagi kesiapsiagaan pemerintah daerah dan pusat dalam merespons situasi darurat. Kecepatan pendataan dan distribusi bantuan akan menentukan seberapa cepat masyarakat NTT pulih dari trauma dan kerugian material. Pertanyaannya, akankah koordinasi antarlembaga berjalan efektif untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal?



