Damian Lewis: Musik Bukan Terapi, Tapi Cermin Keadaan Jiwa
Baca dalam 60 detik
- Aktor Damian Lewis menegaskan album perdananya, Mission Creep, bukan sarana terapi untuk mengatasi duka atas kepergian istrinya, Helen McCrory.
- Meski diakuinya lagu-lagu dalam album itu sarat nuansa kehilangan, Lewis menilai proses kreatifnya lebih sebagai refleksi otomatis dari kondisi batin, bukan keputusan sadar.
- Pernyataan ini membuka diskusi tentang bagaimana para seniman, termasuk di Indonesia, kerap salah dikapitalisasi sebagai 'penyembuh' padahal berkarya adalah ekspresi alami.

Bagi Damian Lewis, menulis lagu bukanlah pelarian untuk mengobati luka. Aktor berusia 55 tahun itu dengan tegas menampik anggapan bahwa album perdananya, Mission Creep, merupakan bentuk terapi atas kepergian sang istri, Helen McCrory, yang tutup usia akibat kanker pada 2021. Menurutnya, musik hanyalah medium yang secara tak sadar menyerap keadaan emosionalnya kala itu.
Dalam wawancara dengan The Times, Lewis mengakui bahwa sebagian lagu di album yang rilis 2023 itu memang berbicara tentang Helen atau rasa kehilangan. Namun, ia menolak jika karya tersebut dianggap sebagai upaya deliberatif untuk memproses duka. “Jika Anda menerima bahwa album itu seperti buku harian, bahkan Bruce Springsteen pun saat menulis tentang New Jersey, pasti akan terinfus dengan kondisi dirinya saat itu,” ujarnya. “Jadi ya, ada lagu yang jelas tentang Helen, tapi itu bukan aksi terapi.”
Pernyataan ini muncul di tengah tren publik yang kerap memandang karya seni sebagai alat penyembuhan. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Ratna Juwita, menilai bahwa memang ada kecenderungan masyarakat, termasuk di Indonesia, untuk meromantisasi proses kreatif sebagai bentuk katarsis. “Padahal, bagi banyak seniman, berkarya adalah kebutuhan eksistensial, bukan resep medis. Memaksakan narasi terapi bisa mereduksi makna karya itu sendiri,” katanya saat dihubungi terpisah.
Lewis juga mengenang bahwa Helen, yang merupakan ibu dari dua anaknya, Manon (19) dan Gulliver (18), sempat memberi dukungan terhadap arah karier barunya. Namun, karena kondisi kesehatannya yang memburuk, mereka tidak sempat banyak berdiskusi. “Dia adalah aktris hebat dengan jiwa seni dan rasa ingin tahu yang besar. Dia mencintai Bob Dylan lebih dari siapa pun,” kenang Lewis. “Dia mendukung, tapi jujur saja, saat itu dia sedang sakit dan kami menghadapi hal yang lebih besar. Tidak banyak obrolan tentang itu.”
Menariknya, saat proses rekaman, Lewis mengira albumnya akan terdengar energik dan membangkitkan semangat. Namun, ketika didengarkan kembali, ia justru menyadari betapa rapuhnya kondisi batinnya saat itu. “Sekarang saya sadar betapa lembutnya rekaman ini. Ini seperti membuat film: suasana hati dan kepribadian Anda ikut meresap, sehingga hasilnya jadi sesuatu yang tidak Anda rencanakan,” tuturnya. “Kadang saya memutar ulang album pertama saya dan berpikir, 'Saya sangat suka ini. Siapa ya yang membuatnya?'”
Di luar soal duka, Lewis yang kini menjalin hubungan dengan vokalis The Kills, Alison Mosshart, juga melontarkan pandangan kontroversial tentang cinta. Menurutnya, cinta bisa terasa “bermusuhan” dan tidak selalu indah. Hal ini ia tuangkan dalam lagu No Man's Land yang disebutnya sebagai lagu paling paranoid—tentang cinta sebagai agresi. “Cinta seharusnya selalu indah, tapi ada masa-masa ketika tidak demikian. Orang mungkin menganggap saya aneh, tapi cinta bisa terasa anehnya bermusuhan. Itu ada hubungannya dengan kondisi pikiran seseorang,” jelasnya.
Pernyataan Lewis ini mengundang refleksi tentang bagaimana para publik figur, terutama di Indonesia, kerap dijadikan panutan dalam hal pengelolaan emosi. Padahal, seperti diungkapkan Ratna Juwita, setiap individu memiliki cara unik dalam menghadapi duka. “Ada yang melaluinya dengan berkarya, ada yang dengan terapi profesional. Tidak ada satu pola yang berlaku universal,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa penting bagi publik untuk tidak serta-merta mengadopsi cara seorang selebritas dalam menyikapi kehilangan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Lewis akan terus mengeksplorasi tema-tema personal dalam karya-karyanya berikutnya, atau justru beralih ke narasi yang lebih ringan. Yang jelas, baginya, musik bukanlah obat, melainkan cermin—dan kadang, cermin itu menunjukkan hal yang tak nyaman untuk dilihat.



