Draper Tersingkir di Cincinnati, Cedera Kronis Menggerus Mental Petenis Inggris
Baca dalam 60 detik
- Jack Draper kembali menelan kekalahan di babak pertama turnamen Cincinnati Open, kali ini dari Martin Landaluce dengan skor 6-3, 7-5.
- Petenis Inggris itu gagal memanfaatkan enam peluang set point di set kedua, mengindikasikan masalah mental dan fisik yang belum pulih.
- Dengan US Open yang akan segera bergulir, performa Draper menjadi sorotan utama jelang turnamen Grand Slam terakhir tahun ini.

Jack Draper kembali menelan pil pahit di babak pertama turnamen ATP Masters 1000 Cincinnati Open. Petenis Inggris berusia 24 tahun itu takluk dari petenis muda Spanyol, Martin Landaluce, dengan skor 6-3, 7-5, dalam pertandingan yang berlangsung hampir dua jam. Kekalahan ini menambah daftar panjang kekecewaan Draper, yang baru saja kembali dari cedera dan belum menunjukkan performa terbaiknya.
Pertandingan yang berlangsung di Ohio tersebut menjadi ujian mental bagi Draper. Setelah kehilangan set pertama, ia sempat unggul 5-2 di set kedua dan memiliki peluang besar untuk memaksakan set ketiga. Namun, enam peluang set point yang ia miliki gagal dikonversi. Landaluce, yang tampil tenang dan agresif, mampu bangkit dan merebut dua break berturut-turut untuk menyamakan kedudukan menjadi 5-5. Draper sempat menyelamatkan satu match point, tetapi akhirnya menyerah setelah lawannya menutup pertandingan dengan gemilang.
Kekalahan ini terjadi hanya sepekan setelah Draper tersingkir di babak pertama turnamen Montreal. Saat itu, ia kalah dari Terence Atmane dengan performa yang jauh dari kata memuaskan. Draper bahkan terlihat menangis saat pergantian set, dan kekuatan pukulannya menurun drastis di set ketiga. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa cedera lengan kiri yang telah membelenggunya sejak Juni 2025 kembali kambuh. Cedera tersebut sempat membuat Draper mencapai peringkat tertinggi dalam kariernya, yaitu posisi keempat dunia, namun kini menjadi penghalang besar bagi konsistensinya.
Draper sendiri mengakui bahwa ia sedang berjuang melawan rasa sakit kronis yang tak kunjung hilang. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia mengungkapkan bahwa kondisi ini telah menggerus salah satu kualitas terbaiknya, yaitu semangat juang. "Ada tingkat nyeri kronis yang selalu menyertai. Ketika itu ada di lengan yang saya gunakan untuk bermain, ini hidup saya, ini karier saya," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa cedera yang sulit dipahami ini memberinya banyak tantangan dan rintangan, baik secara fisik maupun mental.
Kekalahan di Cincinnati ini menjadi sinyal bahaya bagi Draper menjelang US Open yang akan dimulai pada 30 Agustus di New York. Sebagai salah satu turnamen Grand Slam paling prestisius, US Open menjadi ajang pembuktian bagi Draper untuk kembali ke performa terbaiknya. Namun, dengan kondisi fisik dan mental yang belum stabil, banyak pihak mulai meragukan kesiapannya. Apakah Draper mampu bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan kembali tersingkir lebih awal?
Sementara itu, kabar baik datang dari petenis Inggris lainnya, Cameron Norrie. Ia berhasil melaju ke babak kedua setelah mengalahkan Dino Prizmic dari Kroasia dengan skor 3-6, 6-1, 6-4. Kemenangan ini memperpanjang tren positif Norrie setelah sebelumnya mencapai semifinal di Los Cabos Open dan perempat final di Montreal. Namun, tantangan berat menantinya di babak kedua, di mana ia akan berhadapan dengan unggulan teratas, Alexander Zverev, yang mendapat bye di babak pertama.
Kegagalan Draper di Cincinnati menjadi pengingat bahwa cedera bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga mental. Bagi para petenis Indonesia yang bercita-cita menembus level tertinggi, kisah Draper adalah pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen cedera dan ketahanan mental. Dengan persaingan yang semakin ketat di ATP Tour, kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan menjadi kunci utama. Akankah Draper menemukan kembali semangat juangnya di US Open? Atau justru semakin terpuruk? Hanya waktu yang bisa menjawab.



