Djokovic Tersingkir di Cincinnati: Panas dan Kelembapan Jadi Musuh Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic harus mengakui keunggulan Thiago Agustin Tirante pada putaran kedua Cincinnati Open, setelah pertandingan sengit tiga set yang berlangsung 2 jam 45 menit.
- Kondisi fisik Djokovic menjadi sorotan; ia tampak kesulitan bernapas, meminta medical timeout, dan bahkan terlihat muntah di tengah laga.
- Kekalahan ini menandai awal yang buruk bagi persiapan Djokovic menuju US Open, turnamen Grand Slam terakhir musim ini.

Novak Djokovic, petenis nomor satu dunia yang sedang berjuang kembali ke puncak performa, harus menerima kenyataan pahit di Cincinnati Open. Dalam laga perdananya sejak kekalahan di semifinal Wimbledon, ia ditaklukkan oleh petenis Argentina, Thiago Agustin Tirante, dengan skor 2-6, 6-4, 6-4. Pertandingan yang berlangsung sengit selama 2 jam 45 menit itu menjadi ujian berat bagi fisik Djokovic yang tampak kesulitan menghadapi panas dan kelembapan ekstrem di Ohio.
Sejak awal pertandingan, Djokovic yang merupakan unggulan ketiga di turnamen ini, menunjukkan dominasi dengan merebut set pertama 6-2. Namun, memasuki set kedua, kondisinya menurun drastis. Ia terlihat kelelahan, sering berjalan tertatih, dan bahkan tampak muntah di pinggir lapangan. Pada game ketiga set kedua yang berlangsung 18 menit, Djokovic harus berjuang keras untuk mempertahankan servisnya, menghadapi empat break point dan sembilan deuce, sebelum akhirnya meminta medical timeout.
Tirante, yang berada di peringkat 100 besar dunia, tampil percaya diri dan mampu memanfaatkan kelemahan fisik lawannya. Ia berhasil melakukan break yang menentukan di game kesepuluh set penentu, mengubah kedudukan menjadi 5-4, dan kemudian menutup pertandingan dengan servis yang solid. Kemenangan ini menjadi yang terbesar dalam karier Tirante, yang sebelumnya belum pernah mengalahkan petenis top sekelas Djokovic.
Kekalahan ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi penggemar tenis Indonesia yang menantikan aksi Djokovic di turnamen-turnamen besar. Pasalnya, kondisi fisik yang kurang prima ini bisa menjadi sinyal bahaya menjelang US Open yang akan digelar akhir Agustus. Apalagi, beberapa pesaing utamanya, seperti Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz, juga absen di Cincinnati karena cedera, sehingga seharusnya menjadi peluang emas bagi Djokovic untuk mengumpulkan poin dan kepercayaan diri.
Menurut analis tenis, kekalahan ini menunjukkan bahwa Djokovic belum sepenuhnya pulih dari cedera dan kelelahan setelah Wimbledon. "Ia tampak kesulitan bernapas dan kehilangan energi di set kedua. Ini bukanlah kondisi ideal untuk menghadapi turnamen Grand Slam," ujar seorang pengamat tenis internasional. Sementara itu, Tirante mengaku sangat lega dan bangga bisa mengalahkan idolanya. "Ini adalah kemenangan terbaik dalam karier saya. Saya berhasil mengendalikan saraf dan percaya pada kemampuan saya sendiri," katanya usai pertandingan.
Kekalahan ini juga menjadi perhatian bagi para petenis Indonesia yang bercita-cita menembus level internasional. Mereka bisa belajar dari kegigihan Tirante yang tidak gentar menghadapi legenda hidup. Di sisi lain, Djokovic harus segera mengevaluasi kondisi fisiknya dan mencari solusi untuk menghadapi panas ekstrem, yang kerap menjadi kendala di turnamen Amerika Utara. Pertanyaannya, akankah ia mampu bangkit dan tampil prima di US Open? Atau justru ini menjadi awal dari kemunduran kariernya?



