Tinggi Badan Pria Vietnam Tertinggal 3 cm dari Rata-rata Global: Alarm Gizi dan Pendidikan Jasmani
Baca dalam 60 detik
- Data Survei Gizi Nasional 2019-2020 menunjukkan rata-rata tinggi pria Vietnam 168,1 cm, masih 3 cm di bawah standar global.
- Pakar kesehatan menyoroti kekurangan gizi mikro dan rendahnya aktivitas fisik anak sekolah sebagai penghambat utama pertumbuhan.
- Perbaikan kualitas makanan sekolah dan integrasi pendidikan gizi dalam kurikulum menjadi rekomendasi kunci untuk mengejar ketertinggalan.

Rata-rata tinggi badan pria Vietnam tercatat 168,1 sentimeter pada periode 2019-2020, masih terpaut sekitar 3 sentimeter dari standar global. Temuan ini dirilis dalam Survei Gizi Nasional yang dilakukan Institut Gizi Nasional dan Badan Statistik setempat, sekaligus menegaskan bahwa perbaikan gizi yang terjadi selama satu dekade terakhir belum cukup untuk mengejar ketertinggalan di kancah internasional.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan 3,7 sentimeter dibandingkan satu dekade sebelumnya untuk pria, sementara wanita tumbuh 2,6 sentimeter menjadi rata-rata 156,2 sentimeter. Meski trennya positif, Dr. Truong Hong Son, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Medis Vietnam, mengingatkan bahwa laju pertumbuhan ini masih lambat. Dalam konferensi pada 11 Agustus lalu, ia memaparkan bahwa posisi Vietnam di kawasan Asia Tenggara masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Data nasional itu selaras dengan basis data global NCD Risk Factor Collaboration (NCD-RisC), jaringan ilmuwan kesehatan yang melacak faktor risiko penyakit tidak menular. Vietnam menempati peringkat 153 dari 201 negara dan wilayah dalam hal rata-rata tinggi badan. Analisis yang dipublikasikan di The Lancet pada 2020 itu melibatkan 2.181 studi dengan 65 juta partisipan, menunjukkan bahwa kesenjangan semakin lebar jika dibandingkan dengan Belanda (185 cm) atau Jepang dan Korea Selatan (sekitar 173 cm).
Menurut Son, empat faktor utama menentukan tinggi badan: genetika, nutrisi, aktivitas fisik, dan tidur. Masa sekolah menjadi periode kritis, namun makanan yang disediakan sekolah saat ini masih berfokus pada keamanan pangan, bukan kebutuhan tumbuh kembang anak. "Makanan sekolah seharusnya dirancang berdasarkan kebutuhan perkembangan anak, bukan sekadar memastikan mereka kenyang dan aman," tegasnya. Kondisi ini diperparah oleh defisiensi mikronutrien, gaya hidup tidak sehat, dan rendahnya aktivitas fisik di kalangan pelajar.
Associate Professor Nguyen Quang Dung dari Universitas Kedokteran Hanoi menambahkan bahwa menu siswa harus dihitung secara presisi berdasarkan energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Keseimbangan protein hewani dan nabati juga wajib diperhatikan. Sementara itu, Nguyen Chinh Nghia, direktur Pusat Komunikasi dan Perawatan Kesehatan Komunitas, mengusulkan integrasi pendidikan gizi, aktivitas fisik, kesehatan mental, dan keterampilan perlindungan diri ke dalam kurikulum akademik standar.
Di Indonesia, persoalan serupa juga menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi stunting pada balita mencapai 30,8%, yang berdampak pada tinggi badan generasi dewasa. Meski angka stunting turun menjadi 21,6% pada 2022, upaya perbaikan gizi sekolah dan edukasi orang tua masih perlu diperkuat. Pengalaman Vietnam menunjukkan bahwa tanpa intervensi terpadu, kemajuan fisik bisa berjalan lambat dan berisiko tertinggal dari negara tetangga.
Ke depan, Vietnam perlu memastikan bahwa standarisasi makanan sekolah tidak hanya berhenti pada aspek higienitas, tetapi juga nilai gizi yang mendukung pertumbuhan. Pertanyaannya, apakah Indonesia dapat belajar dari langkah Vietnam untuk mempercepat perbaikan gizi anak? Atau justru Indonesia akan mengambil peran lebih proaktif dalam kebijakan pangan dan pendidikan jasmani?



