BGN dan Kemendikdasmen Perluas Literasi Gizi ke 658 Ribu Guru: Kunci Keberhasilan MBG
Baca dalam 60 detik
- Badan Gizi Nasional bersama Kemendikdasmen meluncurkan program edukasi gizi dan keamanan pangan bagi 658.300 guru di tiga provinsi.
- Program ini menegaskan bahwa MBG bukan sekadar pembagian makanan, melainkan juga misi edukasi untuk membangun kebiasaan hidup sehat.
- Guru diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu memeriksa kualitas makanan (organoleptik) dan menularkan pola makan sehat ke keluarga siswa.

Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar webinar literasi gizi dan keamanan pangan bagi guru dan tenaga kependidikan, Rabu (12/8/2026), sebagai langkah awal memperkuat fondasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Inisiatif ini menyasar 658.300 pendidik di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, dengan harapan mereka menjadi garda terdepan dalam menanamkan pemahaman gizi seimbang dan perilaku hidup bersih di sekolah.
Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Mariman Darto, menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak semata-mata diukur dari ketersediaan makanan bergizi. Menurutnya, pemahaman menyeluruh tentang gizi seimbang, keamanan pangan, kebersihan, kedisiplinan, dan kebiasaan hidup sehat di lingkungan satuan pendidikan menjadi variabel yang sama pentingnya. “Edukasi ini akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” ujarnya dalam webinar yang diikuti secara daring dari Jakarta.
Kepala BGN, Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menggarisbawahi bahwa MBG mengemban misi edukasi yang lebih luas dari sekadar penyediaan makanan. “Tugas kami tidak sesederhana membagikan makanan ke sekolah. Ada dimensi literasi dan edukasi gizi yang harus dijalankan,” katanya. Ia menekankan bahwa BGN tidak dapat bekerja sendiri, sehingga kolaborasi dengan para guru menjadi krusial untuk memastikan pesan gizi sampai ke peserta didik dan keluarganya.
Dalam kesempatan itu, Mas Dar juga menyoroti pentingnya keamanan pangan sebagai prioritas. Para guru didorong untuk memahami pemeriksaan organoleptik—pengujian makanan melalui indera—guna memastikan makanan yang diterima siswa aman sebelum dikonsumsi. Langkah ini dinilai relevan mengingat sejumlah insiden keracunan MBG yang sempat terjadi, seperti di Bogor, yang mendorong BGN menerapkan label batas waktu konsumsi pada menu MBG.
Peran guru dalam program ini tidak berhenti di ruang kelas. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu memengaruhi kebiasaan makan di rumah masing-masing siswa. Dengan demikian, dampak MBG dapat menjalar dari sekolah ke keluarga, menciptakan ekosistem hidup sehat yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
Langkah BGN ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan setelah sebelumnya meminta guru untuk mengedukasi siswa agar mengonsumsi MBG sesuai ketentuan. Selain itu, penerapan label batas konsumsi di SPPG Belitung menjadi contoh konkret penguatan keamanan pangan di lapangan. Inisiatif-inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pemerintah serius menjadikan MBG sebagai program yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mencerdaskan.
Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan. Apakah para guru mampu menjalankan peran ganda sebagai pendidik dan pengawas pangan? Bagaimana BGN memastikan materi literasi gizi sampai ke daerah terpencil di luar tiga provinsi awal? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah MBG benar-benar menjadi tonggak perubahan perilaku makan bangsa, atau sekadar program bagi-bagi makanan semata.



