Vietnam Mempersiapkan Diri untuk 6G, Targetkan Uji Coba Jaringan di Tengah Ekspansi 5G
Baca dalam 60 detik
- Vietnam membentuk komite khusus untuk riset 6G dan berpartisipasi dalam penetapan standar internasional sejak dini.
- Dengan pengalaman memangkas waktu penguasaan teknologi dari 8 tahun (4G) menjadi 2 tahun (5G), Vietnam optimistis mempercepat komersialisasi 6G.
- Viettel, operator milik militer Vietnam, menjadi mitra global pertama Qualcomm dalam program akses awal 6G, menargetkan panggilan pra-komersial pada 2029.

Vietnam tidak ingin tertinggal dalam perlombaan teknologi telekomunikasi global. Di tengah masih gencarnya perluasan jaringan 5G, negara ini telah mulai menyiapkan panggung untuk generasi berikutnya, 6G. Otoritas Telekomunikasi Vietnam menegaskan bahwa penguasaan teknologi 6G menjadi prioritas, dengan target uji coba jaringan yang sudah di depan mata.
Nguyen Anh Cuong, wakil direktur Otoritas Telekomunikasi Vietnam, mengungkapkan bahwa negaranya telah membuat kemajuan signifikan dalam infrastruktur 5G, namun kini fokus bergeser pada riset dan pengembangan 6G. Kementerian Sains dan Teknologi Vietnam telah membentuk komite pengarah khusus untuk riset 6G, dengan tujuan untuk terlibat sejak tahap awal penetapan standar internasional. Langkah ini dinilai krusial agar Vietnam tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pemain kunci dalam menentukan arah perkembangan 6G global.
Pengalaman Vietnam dalam menguasai teknologi 4G dan 5G menjadi modal berharga. Butuh waktu lebih dari delapan tahun bagi Vietnam untuk menguasai teknologi 4G dan memproduksi peralatannya setelah standar diterbitkan. Namun, periode itu berhasil dipangkas menjadi sekitar dua tahun untuk 5G. Capaian ini menunjukkan adanya kurva pembelajaran yang semakin efisien, dan pemerintah optimistis dapat memperpendek lagi waktu untuk 6G.
Langkah berani lainnya datang dari Viettel, kelompok telekomunikasi dan teknologi yang dikelola militer. Viettel menjadi mitra global pertama yang bergabung dalam Program Akses Awal 6G dari Qualcomm Technologies. Kerja sama ini menargetkan panggilan pra-komersial pertama 6G pada awal 2029, dengan menggunakan sistem dan peralatan yang dikembangkan serta diproduksi sendiri oleh Viettel. Ini adalah sinyal kuat bahwa Vietnam tidak hanya ingin menjadi pasar, tetapi juga produsen teknologi 6G.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin yang menarik. Indonesia masih bergulat dengan pemerataan infrastruktur 5G, sementara Vietnam sudah melesat dengan ambisi 6G. Perbedaan strategi ini patut menjadi bahan kajian bagi regulator dan operator di tanah air. Jika Vietnam mampu memproduksi peralatan telekomunikasi sendiri, Indonesia perlu bertanya: apakah kita hanya akan menjadi penonton atau siap berperan dalam rantai pasok global? Keterlibatan sejak dini dalam standarisasi 6G, seperti yang dilakukan Vietnam, bisa menjadi pelajaran berharga agar Indonesia tidak tertinggal dalam lompatan teknologi berikutnya.
Menurut Cuong, 6G adalah teknologi global yang menuntut kerja sama antarnegara, perusahaan, dan organisasi standar internasional untuk memastikan kompatibilitas infrastruktur di seluruh dunia. Ini berarti tidak ada negara yang bisa bekerja sendiri. Namun, kesiapan domestik menjadi prasyarat untuk bisa berpartisipasi secara efektif. Vietnam telah membuktikan bahwa dengan perencanaan matang dan dukungan penuh dari pemerintah, penguasaan teknologi bisa dipercepat secara drastis.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya kapan 6G akan hadir secara komersial, tetapi siapa yang akan memimpin dalam produksi peralatan dan penetapan standar. Vietnam telah mengambil posisi awal yang kuat. Bagi Indonesia, ini adalah momentum untuk merenung: apakah kita akan membiarkan kesenjangan teknologi semakin melebar, atau justru mengambil pelajaran dari langkah agresif Vietnam untuk membangun kemandirian di sektor telekomunikasi?



