Tes Ganja Pilot Air India: Bukti Kuat atau Sekadar Jejak?
Baca dalam 60 detik
- Hasil tes konfirmasi dugaan pemakaian ganja oleh kapten Air India belum diumumkan resmi, menyisakan tanda tanya besar dalam investigasi.
- Para ahli menegaskan tes THC tidak bisa memastikan tingkat impairment saat terbang, mengingat zat ini bisa terdeteksi berhari-hari setelah konsumsi.
- Insiden ini mendorong Air India memperluas tes narkoba untuk semua pilot, memicu diskusi global tentang standar deteksi narkoba di industri penerbangan.

Insiden penurunan mendadak pesawat Air India rute Phuket–Delhi pada 4 Agustus lalu memunculkan pertanyaan pelik: apakah kapten yang mengemudikan Airbus A320 itu tengah dalam pengaruh ganja? Kabar yang beredar menyebut tes lanjutan menunjukkan hasil positif, namun maskapai belum memberikan konfirmasi resmi. Yang jelas, peristiwa yang melukai 13 penumpang dan empat awak ini telah membuka kotak pandora tentang efektivitas uji narkoba di dunia penerbangan.
Kementerian penerbangan India menyatakan kedua pilot menjalani skrining rutin pasca-penerbangan. Hasil awal kapten memerlukan uji konfirmasi, dan keduanya langsung ditarik dari tugas terbang. Meski begitu, investigasi belum menyimpulkan adanya kaitan antara dugaan konsumsi ganja dengan hilangnya ketinggian 91 meter yang mengguncang pesawat berpenumpang 137 orang tersebut. Faktor teknis, operasional, medis, dan manusia masih terus ditelaah.
Pertanyaan mendasar yang jarang dibahas: apa sebenarnya arti tes positif ganja bagi kondisi pilot beberapa jam sebelumnya? Studi-studi klasik menunjukkan ganja dapat mengganggu koordinasi motorik halus dan atensi yang dibutuhkan dalam menerbangkan pesawat. Eksperimen tahun 1976 terhadap 10 pilot yang terbang di simulator setelah merokok ganja menemukan penurunan performa yang nyata, terutama pada kontrol ketinggian dan navigasi. Efek ini bertahan hingga enam jam.
Yang lebih mengkhawatirkan, penelitian tahun 1986 dan 1991 mengungkap bahwa gangguan performa masih terdeteksi 24 jam setelah konsumsi, bahkan saat pilot merasa sudah pulih. Dalam studi 1991, tujuh dari sembilan pilot masih mengalami penurunan kemampuan di simulator, tetapi hanya satu yang menyadarinya. Ini menunjukkan bahaya laten yang tidak kasat mata.
Namun, para ahli memperingatkan agar tidak terburu-buru menghakimi. Thomas Marcotte, peneliti dari University of California San Diego, menjelaskan bahwa hubungan antara kadar THC dalam darah dan tingkat gangguan tidaklah linear. "Tidak seperti alkohol, THC cepat hilang dari aliran darah setelah dihisap, dan korelasinya dengan impairment sangat lemah," ujarnya. Pada pengguna rutin, THC bisa terdeteksi hingga berminggu-minggu setelah konsumsi, jauh setelah efek akutnya hilang.
Kompleksitas ini membuat regulasi ganja di penerbangan menjadi rumit. Kanada, misalnya, memilih pendekatan tegas dengan melarang konsumsi ganja 28 hari sebelum dinas. Sementara itu, studi NTSB AS terhadap pilot yang tewas dalam kecelakaan 2018–2022 menemukan 52,8% memiliki jejak obat-obatan, dengan THC sebagai penyumbang utama. Namun NTSB menegaskan itu hanya soal keberadaan zat, bukan bukti gangguan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat penting. Meski ganja masih ilegal di Tanah Air, pengawasan narkoba di sektor penerbangan perlu dievaluasi. Apakah prosedur tes acak 10% sudah memadai? Bagaimana dengan teknologi deteksi yang mampu membedakan penggunaan masa lalu dan gangguan aktif? Regulator dan maskapai di Indonesia harus belajar dari kasus ini untuk memperkuat sistem keselamatan, tanpa terjebak pada asumsi sederhana bahwa tes positif sama dengan bersalah.
Ke depan, investigasi Air India harus menjawab tiga pertanyaan kunci: apakah kapten mengonsumsi ganja, apakah ia dalam kondisi terganggu saat terbang, dan apakah hal itu berkontribusi pada insiden. Jawaban atas pertanyaan pertama mungkin segera terungkap, tetapi dua pertanyaan lainnya membutuhkan analisis mendalam. Akankah industri penerbangan global akhirnya memiliki standar baku untuk menilai impairment ganja, atau justru semakin ketat dengan aturan zero-tolerance seperti Kanada?



