Perburuan Bakat Muda Inggris: Klub Premier League Semakin Agresif Rekrut Pemain dari Liga Bawah
Baca dalam 60 detik
- Klub-klub papan atas Inggris mempercepat perburuan pemain belia dari akademi EFL dan Skotlandia, dengan 14 transfer terjadi di bursa musim panas ini.
- Fokus utama klub-klub Premier League adalah pemain berusia 18 tahun, terutama dari League One, sebagai investasi jangka panjang dengan biaya yang relatif murah.
- Pasca-Brexit, pembatasan izin kerja mempersempit pasar pemain Eropa, mendorong klub-klub Inggris untuk lebih mengandalkan bakat domestik dari liga bawah.

Liga Premier Inggris kembali menunjukkan naluri predatornya di bursa transfer. Bukan dengan membelanjakan ratusan juta pound untuk bintang internasional, melainkan dengan memburu talenta belia dari akademi-akademi di divisi bawah. Manchester City menjadi contoh teranyar, mengalahkan Arsenal dalam perebutan tanda tangan Jeremy Monga, pemain sayap 17 tahun dari Leicester City, dengan mahar 12,5 juta pound sterling.
Fenomena ini bukan sekadar anekdot. Riset BBC Sport mengidentifikasi sedikitnya 14 pemain yang direkrut dari akademi EFL (English Football League) atau Scottish Premiership ke skuad pengembangan klub Premier League pada musim panas ini. Angka tersebut menyamai total transfer serupa sepanjang musim 2025-26, dan jauh melampaui delapan transfer pada 2024-25. Yang lebih menarik, profil para rekrutan baru ini didominasi pemain berusia 18 tahun—11 dari 14 pemain—sementara musim lalu hanya lima dari 14 pemain yang berusia sama.
Liga One, kasta ketiga sepak bola Inggris, menjadi ladang subur baru. Tujuh dari 14 rekrutan musim panas ini berasal dari kompetisi tersebut, berbanding hanya dua musim lalu. Nama-nama seperti Blade Earley (Cambridge United ke Aston Villa), Valentin Joseph (Blackburn ke Brighton), dan Maxwell Adedeji (Leicester ke Tottenham) menjadi bukti pergeseran strategi ini.
Pergeseran ini tidak lepas dari perubahan regulasi pasca-Brexit. Sebelum Inggris keluar dari Uni Eropa, klub-klubnya bisa leluasa memindai pasar Eropa tanpa memikirkan izin kerja. Namun, berdasarkan laporan Analytics FC dan Fragomen pada 2022, sekitar 60.000 pemain profesional Eropa yang sebelumnya tersedia, kini hanya sekitar 5.000 yang memenuhi syarat mendapatkan izin kerja—penurunan drastis hingga 92 persen. Kasus Ifeanyi Ndukwe, bek tengah 18 tahun Liverpool yang direkrut dari Austria Vienna, menjadi contoh nyata: ia tampil impresif di pramusim tetapi tidak bisa dimainkan di laga resmi karena gagal memenuhi persyaratan izin kerja.
Strategi ini juga menawarkan nilai ekonomi yang menarik. Dari 14 transfer musim panas ini, sembilan di antaranya berstatus bebas transfer, dan lima lainnya dengan biaya yang tidak diungkapkan. Klub-klub besar yang terbiasa mengeluarkan puluhan juta pound untuk satu pemain, kini dapat menyebar dana kecil untuk beberapa pemain muda berbakat. Cukup satu dari mereka yang menembus tim utama, investasi tersebut sudah terbayar lunas. Kisah sukses Antoine Semenyo, yang dibuang beberapa akademi sebelum akhirnya bersinar di Bristol City dan kini berseragam Manchester City dengan nilai transfer 64 juta pound, menjadi bukti nyata.
Fenomena ini juga berdampak pada cara klub membangun skuad. Data CIES menunjukkan Manchester City mencatatkan 16,2 persen menit bermain dari pemain yang dilatih di klub (club-trained), disusul Chelsea (15,5 persen) dan Brighton (12,5 persen). Di sisi lain, Tottenham hanya 0,1 persen, sementara Bournemouth, Brentford, dan Burnley bahkan nol persen. Dengan merekrut pemain berusia 18 tahun dari akademi EFL, klub Premier League dapat memasukkan mereka ke struktur U-21 dan tetap memenuhi kuota pemain lokal yang disyaratkan UEFA.
Bagi klub EFL, tren ini menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, mereka mendapat kompensasi finansial, tetapi di sisi lain, mereka berisiko kehilangan bakat terbaik sebelum sempat dinikmati. Premier League bahkan telah mendekati EFL untuk membahas pembatasan kompensasi yang harus dibayarkan saat pemain muda pindah antar akademi, sebuah isu yang semakin memanas.
Meski angka transfer musim panas ini belum memecahkan rekor—masih di bawah 18 transfer pada 2023-24—konsentrasi pemain berusia 18 tahun dan asal League One menunjukkan klub-klimaks semakin presisi dalam membidik pasar. Pertanyaannya, apakah model ini akan terus berlanjut atau hanya tren sesaat? Satu hal yang pasti: perburuan bakat muda Inggris tidak akan berhenti, dan klub-klub EFL harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa bintang masa depan mereka mungkin akan segera direnggut.



