Les Kiss Mulai Ukir Prestasi: Sapu Bersih Jepang, Wallabies Siap Hadapi Argentina
Baca dalam 60 detik
- Les Kiss mengawali era kepelatihannya di Australia dengan dua kemenangan telak atas Jepang, membangun kepercayaan diri jelang tur Amerika Selatan.
- Perombakan strategi dan komposisi pemain menjadi kunci kebangkitan Wallabies, dengan sorotan pada duet pemain perebut bola dan lini tengah yang agresif.
- Ujian sesungguhnya menanti saat Australia bertandang ke Argentina akhir bulan ini, yang akan menjadi tolok ukur kesiapan tim menuju Piala Dunia 2027.

Melbourne, 17 Agustus โ Les Kiss resmi menuntaskan misi pertamanya sebagai pelatih kepala Australia dengan sapu bersih dua pertandingan melawan Jepang. Namun, tantangan yang jauh lebih berat sudah menanti: tur ke Argentina pekan depan. Dua kemenangan ini, meski melegakan, hanyalah batu loncatan bagi ujian sebenarnya yang akan menentukan arah tim menuju Piala Dunia 2027 yang akan digelar di Australia.
Setelah menang tipis 35-32 di Osaka dengan performa yang membuat gugup, Wallabies tampil perkasa di Townsville dengan kemenangan telak 56-17. Kemenangan ini tidak hanya memperbaiki rekor, tetapi juga mengirim sinyal bahwa tim asuhan Kiss berada di jalur yang tepat. Publik Australia pun mulai bermimpi tentang kejayaan yang sempat hilang, terutama dengan status tuan rumah Piala Dunia yang semakin dekat.
Kiss, yang harus bersabar menunggu kontrak Joe Schmidt berakhir, langsung tancap gas. Ia melakukan banyak perubahan untuk laga di Townsville, menuntut permainan yang lebih langsung dan efektif. Hasilnya, delapan try tercipta, enam di antaranya dari lini depan, meski babak pertama masih diwarnai kesalahan. Perombakan ini menunjukkan keberanian Kiss untuk berbeda dari pendahulunya, yang cenderung mempertahankan komposisi pemain yang sudah ada.
Salah satu sorotan adalah duet Carlo Tizzano dan Fraser McReight di lini belakang yang mampu merebut bola dengan agresif. Kombinasi ini mengingatkan pada duet legendaris Michael Hooper dan David Pocock yang membawa Australia ke final Piala Dunia 2015. Sementara itu, di lini tengah, Isaac Henry yang menggantikan Joseph-Aukuso Suaalii yang cedera, bersama Hunter Paisami, sukses merepotkan pertahanan Jepang dengan pola lari mereka.
Kiss menegaskan pentingnya persaingan internal untuk memperebutkan tempat di tim inti. "Saya sering berbicara tentang perlunya tekanan kompetitif di semua posisi. Sangat bagus melihat itu terjadi," ujarnya. Ia juga mengapresiasi fleksibilitas Suaalii yang bersedia bermain di posisi wing atau fullback jika dibutuhkan. "Kami punya kemajuan yang bagus di area itu," tambahnya.
Selain itu, Kiss berhasil menjawab teka-teki di posisi flyhalf. Carter Gordon, yang sempat cedera saat melawan Irlandia, kembali menunjukkan performa impresif. Kiss berharap Gordon bisa terhindar dari cedera dan menjadi motor serangan Australia saat menghadapi Argentina di Jujuy pada 29 Agustus. Pertandingan ini akan menjadi ujian nyata bagi ketangguhan mental dan fisik Wallabies.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, perkembangan ini menarik untuk diikuti. Meski Indonesia bukan kekuatan utama rugby Asia, keberhasilan Australia membangun tim yang solid bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan olahraga ini di kawasan. Selain itu, dengan semakin dekatnya Piala Dunia 2027, persaingan di level internasional dipastikan semakin ketat, dan Australia jelas tidak mau ketinggalan.
Pertanyaan besarnya sekarang: mampukah Wallabies mempertahankan performa ini melawan lawan yang lebih tangguh? Atau justru Argentina akan menjadi batu sandungan yang mengungkap kelemahan yang masih tersembunyi? Tur Amerika Selatan ini akan menjadi jawaban atas semua spekulasi tersebut.



