Tren Darah Bisa Deteksi Kanker 3-5 Tahun Sebelum Gejala, Studi Temukan
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru mengungkap perubahan hasil tes darah selama 3-5 tahun sebelum penurunan berat badan tak terjelaskan dapat menandai risiko kanker.
- Dengan menambahkan faktor usia dan jenis kelamin, akurasi prediksi meningkat, memungkinkan deteksi dini tanpa gejala spesifik.
- Temuan ini berpotensi mengubah skrining kanker, namun validasi eksternal dan biaya menjadi tantangan implementasi.

Sebuah studi yang dipublikasikan di PLOS Medicine pada September lalu menemukan bahwa memantau perubahan hasil tes darah dari waktu ke waktu dapat memprediksi risiko kanker lebih baik daripada hanya mengandalkan hasil tes terbaru. Penelitian ini berfokus pada 275.205 pasien yang datang dengan keluhan penurunan berat badan tanpa sebab jelasโgejala nonspesifik yang sering dikaitkan dengan kanker. Dari jumlah tersebut, hampir 14.000 orang didiagnosis kanker dalam waktu enam bulan setelah kunjungan awal.
Para peneliti menganalisis tren 26 jenis tes darah umum selama periode 1, 3, 6, dan 10 tahun sebelum pasien melaporkan penurunan berat badan. Hasilnya, pada mereka yang kemudian terdiagnosis kanker, perubahan pada hasil tes darah mulai terdeteksi sekitar 3 hingga 5 tahun sebelum gejala muncul. Menariknya, perubahan tersebut seringkali masih berada dalam rentang normal laboratorium, sehingga luput dari perhatian jika hanya melihat nilai ambang batas.
Penulis studi, Pradeep Virdee, menyatakan dalam siaran pers bahwa memantau perubahan hasil tes darah pasien dari waktu ke waktu dapat memberikan nilai tambah. Senada dengan itu, Brian Nicholson, peneliti lain, menambahkan bahwa menambahkan usia dan jenis kelamin pasien membuat hasil tes darah lebih akurat untuk memprediksi kanker. "Perhitungan yang relatif sederhana ini bisa dilakukan di laboratorium," ujarnya.
Dr. Ketan Thanki, ahli bedah kolorektal dari MemorialCare Todd Cancer Institute, yang tidak terlibat dalam studi, menekankan tiga poin utama. Pertama, interpretasi hasil tes harus mempertimbangkan usia dan jenis kelamin, bukan sekadar nilai referensi laboratorium. Kedua, penurunan berat badan disertai tes darah rutin yang abnormal merupakan sinyal kanker yang nyata. Ketiga, bandingkan nilai pasien dengan nilai sebelumnya, bukan dengan nilai referensi. "Kami harus melihat lintasan masing-masing pasien, bukan hanya gambaran sesaat," jelasnya kepada Medical News Today.
Meski demikian, Thanki mengingatkan bahwa semakin luas pemantauan ini diterapkan, semakin banyak alarm palsu dan investigasi yang tidak perlu. "Berpegang pada hubungan terkuat akan membantu mencegah alarm palsu dan pemborosan," tambahnya. Studi ini juga mencatat keterbatasan, seperti data yang hanya terbatas pada pasien yang menjalani tes darah dan tidak mempertimbangkan kemungkinan bias pengujian pada kelompok tertentu.
Di Indonesia, temuan ini berpotensi menjadi terobosan dalam skrining kanker yang selama ini mengandalkan gejala klinis atau tes invasif. Dengan populasi besar dan akses terbatas ke layanan kesehatan canggih, pendekatan berbasis tren tes darah yang murah dan tersedia luas dapat menjadi solusi. Namun, tantangan utama adalah validasi eksternal dan integrasi ke dalam sistem rekam medis elektronik yang masih terfragmentasi. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan rutin masih rendah, sehingga data historis sulit didapat.
Ke depan, para peneliti menekankan perlunya uji klinis untuk membuktikan manfaat nyata sebelum metode ini diadopsi secara luas. Jika berhasil, pemantauan tren tes darah bisa menjadi alat skrining yang efektif, terutama untuk kanker yang sulit dideteksi dini. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan Indonesia siap mengadopsi pendekatan berbasis data ini untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa?



