Kereta Malam Jepang Bangkit Lagi: Antara Nostalgia, Pariwisata, dan Krisis Bus
Baca dalam 60 detik
- Jepang menghidupkan kembali kereta malam setelah puluhan tahun meredup, dengan layanan khusus seperti shinkansen semalam dan rencana ekspres terbatas JR East.
- Kebangkitan ini didorong oleh melonjaknya harga akomodasi, kekurangan sopir bus, serta meningkatnya kesadaran akan transportasi rendah karbon.
- Jika tren ini berlanjut, Jepang bisa menjadi model bagi negara lain, termasuk Indonesia, dalam mengintegrasikan kereta malam sebagai solusi pariwisata dan logistik.

Setelah nyaris punah tergusur kecepatan shinkansen dan tarif pesawat yang makin kompetitif, kereta malam di Jepang mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Sepanjang 2026, sejumlah operator meluncurkan layanan khusus yang menyasar wisatawan dan penggemar kereta, menandai pergeseran strategi dari sekadar moda transportasi menjadi pengalaman wisata bernilai tinggi.
Fenomena ini bukan sekadar nostalgia. Di balik romantisme perjalanan malam yang pernah menginspirasi banyak lagu dan film, terdapat realitas ekonomi yang mendesak. Harga hotel di kota-kota besar Jepang meroket, sementara operator bus malam kewalahan menghadapi kekurangan sopir. Di sisi lain, tekanan global untuk menekan emisi karbon membuat keretaโyang mampu mengangkut ratusan penumpang dalam satu rangkaianโkembali dilirik sebagai pilihan ramah lingkungan.
Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah operasi "shinkansen semalam" yang digelar pada 8-9 Agustus lalu. Kereta ini berangkat dari Tokyo malam hari dan tiba di Shin-Osaka keesokan paginya, dengan pemberhentian di Gifu-Hashima pada dini hari. Meski hanya satu malam, antusiasme publik menjadi sinyal bahwa pasar untuk perjalanan malam masih hidup.
Tak hanya itu, kereta cepat "Moonlight Nagara" yang sempat berhenti beroperasi, kembali hadir dalam versi singkat bulan ini. Sementara itu, East Japan Railway (JR East) berencana meluncurkan layanan ekspres terbatas malam mulai musim semi tahun depan, dengan dua kali perjalanan pulang-pergi per minggu antara Shinagawa, Tokyo, dan Aomori. Kereta ini akan dilengkapi kabin bergaya kompartemen pribadi, menawarkan privasi yang selama ini langka di transportasi umum Jepang.
Namun, kebangkitan ini tidak tanpa tantangan. Mengoperasikan kereta yang melintasi batas wilayah antarperusahaan JR dan operator kereta pihak ketiga membutuhkan koordinasi rumit. Pengadaan rangkaian kereta dan kru juga menuntut biaya besar. Menurut analis transportasi, tanpa dukungan kebijakan yang jelas, proyek-proyek ini berisiko menjadi sekadar proyek percontohan yang tidak berkelanjutan.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran menarik. Dengan jaringan kereta api yang terus berkembang di Jawa dan Sumatera, serta tingginya minat wisata domestik, konsep kereta malam bisa menjadi alternatif untuk mengurangi kepadatan jalan tol dan menekan emisi. Namun, perlu kajian mendalam mengenai kesiapan infrastruktur, keselamatan, dan minat pasar. Pertanyaannya: apakah Indonesia siap mengadopsi model serupa, atau akan terus bergantung pada bus malam yang rawan kecelakaan?
Ke depan, keberhasilan proyek-proyek percontohan di Jepang akan menjadi barometer. Jika diminati dan menguntungkan, bukan tidak mungkin kereta malam kembali menjadi moda pilihan bagi pelancong yang mencari pengalaman berbeda. Namun, jika hanya bertahan sebagai atraksi sesaat, maka romantisme kereta malam akan kembali menjadi kenangan. Yang jelas, Jepang sedang menguji apakah masa lalu bisa menjadi bagian dari masa depan transportasi.



