Harga Emas Melonjak, Tambang Ilegal Peru Lampaui Kokain sebagai Bisnis Kriminal Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas penambangan emas ilegal di Peru menghasilkan nilai ekonomi yang melampaui perdagangan kokain, dipicu lonjakan harga emas global.
- Lebih dari 140.000 hektare hutan Amazon di Madre de Dios rusak akibat tambang ilegal, dengan 180 ton merkuri mencemari sungai setiap tahun.
- Sistem registrasi Reinfo yang kontroversial mempermudah pencucian emas ilegal ke pasar legal, sementara penegakan hukum dinilai lambat dan tidak efektif.

Harga emas dunia yang meroket telah mengubah lanskap kriminal di Peru. Aktivitas penambangan emas ilegal kini menjadi sumber pendapatan haram terbesar di negara itu, mengalahkan perdagangan kokain yang lama mendominasi. Data dari lembaga pengawas keuangan Peru menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya, nilai perdagangan emas ilegal melampaui produksi emas legal pada paruh pertama tahun ini, dengan estimasi mencapai US$18 miliar pada akhir 2026.
Lonjakan harga emas—yang sempat menyentuh US$5.600 per ons troi pada Januari lalu dan bertahan di atas US$4.650 per ons troi pada Agustus—menjadi pemicu utama. Setiap dredger tambang yang beroperasi 24 jam dapat menghasilkan hingga 50 gram emas, senilai lebih dari US$6.000 di Madre de Dios. Angka ini menjadikan tambang ilegal sebagai bisnis yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan kokain, terutama karena produk akhirnya adalah komoditas yang diperdagangkan secara legal.
Dampak lingkungannya sangat parah. Satelit mencatat lebih dari 500 hektare hutan di Taman Nasional Tambopata hilang dalam setahun terakhir, sementara total deforestasi akibat tambang di Madre de Dios mencapai 140.000 hektare—97,5% dari seluruh deforestasi tambang di Amazon Peru. Kawasan yang rusak setara dua kali luas negara bagian California. Sungai-sungai tercemar merkuri, dengan estimasi 180 ton logam berat itu mencemari perairan Peru setiap tahun, mengancam kesehatan masyarakat adat yang bergantung pada ikan air tawar.
Jenderal Víctor Cotrina, komandan militer Madre de Dios, mengakui bahwa penegakan hukum menghadapi tantangan berbeda dibandingkan perang melawan narkoba. "Tambang terbuka tidak memerlukan operasi tertutup seperti kokain. Begitu motor diledakkan, besoknya mereka sudah kembali bekerja karena harga emas sedang tinggi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa korupsi dan penegakan yang tidak merata membuat operasi sebelumnya tidak efektif, meski kini pihaknya mengandalkan pengawasan udara dan personel siaga 24 jam.
Namun, upaya penindakan masih jauh dari memadai. Dalam operasi empat hari pada akhir Agustus, jaksa hanya menangkap segelintir tersangka, kebanyakan pekerja level bawah seperti juru masak. Ronal Flores, wakil jaksa yang memimpin operasi, mengungkapkan bahwa para pemilik modal besar hampir tidak pernah tertangkap. "Di tempat-tempat ini, ikan besar—para pemilik—jarang tertangkap. Yang kami temukan biasanya operator kecil," katanya. Ia menambahkan bahwa badan negara kekurangan anggaran untuk mempertahankan intensitas razia, meskipun militer telah menghancurkan sekitar 150 kapal keruk dan motor tambang.
"Respons pemerintah bergerak sangat lambat. Sementara itu, tambang ilegal beroperasi 24 jam sehari. Para penambang mengukur waktu dalam gram, bukan menit, jadi kita perlu memikirkan ulang cara menyelidiki tambang," ujar Ronal Flores, wakil jaksa Peru.
Emas kotor dari Peru diselundupkan ke Bolivia dan Brasil, tetapi sebagian besar dicuci melalui sistem registrasi kontroversial bernama Reinfo. Sistem ini seharusnya membawa penambang informal ke ekonomi legal, namun kritikus menilai justru memungkinkan mereka beroperasi tanpa izin lingkungan dan mencuci emas ilegal melalui perusahaan formal. Kongres Peru bahkan telah memperpanjang Reinfo lima kali, meskipun ada dorongan untuk mereformasi atau menghapusnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi peringatan. Sebagai negara dengan cadangan emas signifikan dan sektor tambang rakyat yang besar, Indonesia menghadapi risiko serupa: lonjakan harga komoditas dapat memicu aktivitas tambang ilegal yang merusak lingkungan dan sulit dikendalikan. Regulasi yang lemah dan pengawasan yang tidak konsisten dapat membuka celah bagi pencucian hasil tambang ilegal ke pasar legal. Pemerintah perlu memperkuat tata kelola, meningkatkan pengawasan satelit, dan memastikan penegakan hukum tidak hanya menjerat pelaku kecil.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Peru—dan negara-negara lain dengan kekayaan mineral serupa—mampu membalikkan tren ini sebelum kerusakan ekologis menjadi permanen. Tanpa reformasi sistemik dan komitmen politik yang kuat, emas yang berkilau akan terus menjadi kutukan bagi hutan dan masyarakat yang bergantung padanya.



