Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Inggris dan Prancis Kewalahan, Ribuan Kebakaran Hutan Melanda
Baca dalam 60 detik
- Suhu di Inggris menembus rekor 38,1 derajat Celsius, memicu kebakaran hutan besar di West Midlands dan memaksa evakuasi warga.
- Prancis dan Yunani juga menghadapi kebakaran hutan parah, sementara infrastruktur kedua negara dinilai belum siap menghadapi panas ekstrem.
- Para ahli mengaitkan fenomena ini dengan perubahan iklim, dan memperingatkan bahwa Eropa harus segera beradaptasi dengan 'normal baru' cuaca ekstrem.

Inggris mencatat hari terpanas tahun ini dengan suhu mencapai 38,1 derajat Celsius di London barat, memicu kebakaran hutan yang melanda West Midlands dan memaksa evakuasi warga. Insiden ini menjadi salah satu yang terparah yang pernah ditangani dinas pemadam kebakaran setempat, dengan beberapa rumah hangus terbakar dan sejumlah korban luka-luka.
Kebakaran yang terjadi di Stourbridge itu mengakibatkan seorang anak dan tiga petugas pemadam dilarikan ke rumah sakit. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran West Midlands, Simon Tuhill, menyebut kejadian ini sebagai salah satu insiden paling signifikan yang pernah ditangani wilayahnya. Sementara itu, Wali Kota West Midlands, Richard Parker, menggambarkan situasi sebagai "sangat mengkhawatirkan dan bergerak cepat." Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, telah berjanji memberikan dukungan penuh berupa sumber daya tambahan untuk memadamkan api.
Gelombang panas ini merupakan yang kelima di Inggris tahun ini, dengan rekor empat hari bersuhu di atas 36 derajat Celsius. Sebelumnya, rekor tertinggi tercatat pada 28 Juni lalu. Fenomena ini tidak hanya melanda Inggris; Prancis juga mengalami gelombang panas kelima dengan suhu mendekati 41 derajat Celsius di beberapa wilayah, dari Aquitaine hingga Lembah Rhone. Para ilmuwan menegaskan bahwa suhu ekstrem ini adalah akibat langsung dari perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.
Kesiapan infrastruktur menjadi sorotan. Inggris dan Prancis dinilai belum siap menghadapi panas ekstrem. Minimnya penggunaan pendingin udara di luar perkantoran dan pusat perbelanjaan menjadi salah satu kelemahan utama. Di Inggris, sejumlah perawat dilaporkan pingsan akibat kelelahan panas saat bertugas di rumah sakit yang sebagian besar merupakan bangunan tua tanpa sistem pendingin memadai. Sekretaris Jenderal Royal College of Nursing, Nicola Ranger, menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan kegagalan sistem dalam melindungi tenaga kesehatan.
Kebakaran hutan juga melanda berbagai wilayah Eropa. Di Prancis, petugas pemadam mengancam mogok kerja menuntut penambahan personel dan peralatan. Kebakaran terjadi di Pas-de-Calais dan Brittany, sementara kebakaran besar di dekat Bordeaux bulan lalu memaksa 250 ribu orang mengungsi. Di Yunani, lebih dari 300 wisatawan dan warga dievakuasi melalui laut setelah kebakaran melanda kawasan Halkidiki. Inggris sendiri mencatat 1.017 kebakaran hutan tahun ini, angka yang sama dengan rekor tahun lalu.
Kekeringan meluas juga menjadi ancaman serius. Inggris dan Prancis mengalami kekeringan yang menyusutkan hasil panen dan menguras sungai, menekan pasokan air untuk rumah tangga, pertanian, dan lingkungan. Perusahaan air minum Inggris, Southern Water, telah mengajukan permohonan langka untuk memberlakukan larangan penggunaan air non-esensial bagi bisnis, seperti mencuci mobil dan mengisi kolam renang. Keputusan akan diambil oleh Menteri Lingkungan Hidup Angela Eagle, dan jika disetujui, ini akan menjadi larangan pertama sejak Mei 2006.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim yang juga dirasakan di kawasan tropis. Meski pola cuacanya berbeda, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kerap meningkat saat musim kemarau, diperparah oleh praktik pembukaan lahan. Adaptasi infrastruktur dan kesiapsiagaan darurat menjadi pelajaran penting yang bisa dipetik dari pengalaman Eropa.
Dengan prediksi suhu ekstrem akan bergeser ke timur dan mereda akhir pekan ini, pertanyaan besarnya adalah: apakah Eropa dan negara-negara lain, termasuk Indonesia, akan mampu membangun ketahanan iklim yang memadai sebelum bencana serupa terjadi lagi? Jawabannya menentukan masa depan kita di tengah krisis iklim yang semakin nyata.



