Jembatan Ketiga Penang Masih Angan-Angan: Chow Tegaskan Baru Indikatif, Konstruksi Tunggu Jadwal
Baca dalam 60 detik
- Rencana penghubung ketiga Penang masih tercantum dalam RSN2040, tetapi statusnya baru sekadar indikasi dan belum ada kepastian kapan pembangunan dimulai.
- Kesepakatan dengan perusahaan mitra masih berlaku, sehingga opsi jembatan atau terowongan bawah laut tetap dipertahankan dalam dokumen perencanaan.
- Pemerintah negara bagian membuka ruang partisipasi publik untuk menyempurnakan RSN2040, yang akan menjadi acuan pembangunan Penang hingga 2040.

George Town โ Kejelasan mengenai kelanjutan proyek penghubung ketiga Penang kembali mengemuka. Meski tetap tercantum dalam Rencana Struktur Penang 2040 (RSN2040), Kepala Menteri Penang, Chow Kon Yeow, menegaskan bahwa masuknya proyek tersebut dalam dokumen perencanaan tidak otomatis berarti konstruksi akan segera dimulai. Pernyataan ini disampaikan usai meluncurkan program publisitas dan partisipasi publik untuk Draf RSN2040 (Kajian) pada Senin (17/8).
Chow menjelaskan bahwa opsi jembatan maupun terowongan bawah laut tetap dipertahankan dalam RSN2040 lantaran perjanjian dengan perusahaan mitra masih berlaku. "Mereka masih bersifat indikatif karena perjanjian masih valid dan tawaran telah diberikan kepada perusahaan. Apakah akan direalisasikan tergantung pada jadwal," ujarnya. Artinya, proyek yang selama ini dinanti-nantikan tersebut masih berada dalam tahap penantian tanpa kepastian waktu.
Lebih jauh, Chow menggarisbawahi bahwa RSN2040 merupakan dokumen perencanaan tingkat tinggi yang bersifat komprehensif. Berbagai usulan pengembangan dan kawasan pengembangan lainnya juga dimasukkan secara indikatif, dengan realisasi yang bergantung pada pemerintah atau pemilik lahan swasta. "RSN adalah dokumen perencanaan komprehensif untuk masa depan negara bagian. Jika ingin melihat perencanaan spesifik, harus merujuk pada rencana lokal yang lebih detail berdasarkan lot," jelasnya.
Di sisi lain, isu lingkungan turut menjadi sorotan. Sekitar 80 hektare lahan milik swasta di Pulau Jerejak dikeluarkan dari status Hutan Simpan Kekal, sementara sisanya tetap dipertahankan. Chow menegaskan bahwa proyek yang diumumkan sebelumnya melibatkan lahan milik swasta, bukan kawasan hutan lindung. Meski proyek utilitas atau infrastruktur masih dapat dipertimbangkan di dalam kawasan hutan dengan syarat tertentu, hal itu tidak berarti pembangunan hutan lindung itu sendiri.
Chow juga menekankan pentingnya partisipasi publik di tengah pesatnya pembangunan Penang. Ia mengajak komunitas lokal, LSM, badan profesional, dan instansi pemerintah untuk tidak bekerja sendiri-sendiri. "Tidak mungkin PlanMalaysia mengetahui segalanya, terutama tentang proyek yang direncanakan instansi lain," katanya. Ia berharap semua pemangku kepentingan memberikan masukan, keberatan, dan usulan demi masa depan negara bagian.
RSN2040 dinilai krusial dalam menjaga keseimbangan antara Pulau Penang dan Seberang Prai. Perencanaan juga harus mempertimbangkan karakteristik lokal, termasuk pusat perkotaan dan daerah pinggiran. "Keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan sangat penting. Ini isu yang selalu kami perhatikan, terutama di Penang di mana pemangku kepentingan sangat aktif," ungkap Chow.
Menyoal ketahanan bencana, Chow menyebut aspek teknis seperti geoteknik dan mitigasi risiko gempa akan menjadi pertimbangan dalam proses perencanaan. Draf RSN2040 juga akan diunggah secara daring agar masyarakat dapat mengakses dan memberikan komentar. Langkah ini dinilai sebagai upaya transparansi dan akuntabilitas pemerintah negara bagian.
Dengan status yang masih indikatif, publik tentu bertanya-tanya kapan proyek penghubung ketiga ini benar-benar akan terwujud. Apakah penantian panjang ini akan berakhir dengan kepastian, atau justru semakin kabur? Hanya waktu dan komitmen politik yang akan menjawab.



