Hujan Ekstrem Landa Jepang: Empat Tewas, Ribuan Terdampar di Bandara Narita
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan tertinggi sepanjang sejarah Jepang melumpuhkan Chiba, menewaskan empat orang dan memutus listrik 20.000 rumah.
- Ribuan penumpang menginap di Bandara Narita, sementara 100.000 warga diimbau mengungsi akibat risiko longsor dan banjir.
- Fenomena ini menandai musim topan yang lebih aktif, dengan tiga badai berturut-turut melanda Jepang, Filipina, dan China.

Empat orang tewas dan lima lainnya luka-luka setelah hujan dengan intensitas belum pernah tercatat melanda Prefektur Chiba, Jepang timur, pada Kamis (29/8). Curah hujan yang disebut otoritas setempat sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya" ini juga memutus aliran listrik bagi lebih dari 20.000 rumah tangga dan membuat sekitar 7.000 pelancong terjebak semalaman di Bandara Internasional Narita, dekat Tokyo.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat lebih dari 100 milimeter hujan per jam sejak Kamis sore di Chiba โ tiga kali lipat rata-rata curah hujan bulan Agustus dan volume tertinggi yang pernah tercatat di negara itu. Gubernur Chiba, Toshihito Kumagai, menggambarkan situasi ini sebagai "sangat tidak biasa bahkan menurut standar sejarah cuaca Jepang". Ia mengaku telah menangani banyak bencana, tetapi belum pernah mengalami kejadian seperti ini.
Peringatan darurat level lima, tingkat tertinggi, dikeluarkan pada Kamis dan diturunkan menjadi level empat pada Jumat pagi. Meski demikian, otoritas tetap mengingatkan risiko tanah longsor dan banjir. Lebih dari 100.000 rumah tangga telah diminta mengungsi setelah hujan memicu longsor dan pemadaman listrik. Beberapa layanan kereta api masih ditangguhkan dan sejumlah jalan tol utama ditutup.
Di antara korban jiwa, seorang wanita ditemukan tewas di dalam mobilnya yang terendam di jalan banjir, sementara dua lainnya dilaporkan kolaps di jalan dan meninggal dunia. Sekitar 1.800 orang menghabiskan malam di gedung Pemerintah Prefektur Chiba, sementara penumpang lainnya bertahan di stasiun kereta bawah tanah. Seorang warga Ichikawa mengaku kepada NHK bahwa hujan datang "begitu tiba-tiba sehingga benar-benar mengejutkan", dan ia khawatir tidak bisa membuka usahanya karena listrik padam.
Bandara Narita memastikan seluruh penerbangan dijadwalkan normal pada Jumat, meski Japan Airlines menyebut beberapa penerbangannya mungkin tertunda. Namun, insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur transportasi terhadap cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Hujan deras ini terjadi setelah serangkaian badai melanda Jepang dan negara tetangga pekan ini. Topan Dolphin, Chan-Hom, dan Peilou secara berurutan melintasi kawasan tersebut. Dolphin sebelumnya membawa hujan lebat ke Okinawa, merobohkan pohon dan membatalkan penerbangan. Di China, lebih dari satu juta orang dievakuasi saat Dolphin, topan terkuat tahun ini, menghantam pesisir timur. Sementara itu, Filipina kembali menutup sekolah dan kantor pemerintah di sebagian besar wilayah utara karena ancaman banjir.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Pola cuaca ekstrem yang melanda Asia Timur berpotensi mempengaruhi dinamika regional, termasuk rantai pasok dan sektor pariwisata. Meski Indonesia tidak berada di jalur topan, intensitas hujan yang meningkat di dalam negeri juga memerlukan kesiapsiagaan lebih baik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu terus memperkuat sistem peringatan dini untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Jepang dan negara-negara Asia lainnya mampu beradaptasi dengan cepat terhadap "normal baru" cuaca ekstrem. Investasi dalam infrastruktur tahan iklim dan sistem evakuasi yang efektif menjadi kunci, bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi di kawasan yang rentan ini.



