Kolombia Berlomba Lawan Waktu: Jendela Emas Penyelamatan Korban Gempa Menyempit
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat di Kolombia mengerahkan segala upaya untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan di reruntuhan gempa 7,4 SR yang menewaskan 273 orang.
- Wali Kota Cali menyatakan 20 jam ke depan menjadi penentu, sementara transisi menuju pemulihan jenazah mulai berlangsung.
- Banjir bantuan internasional mengalir, namun kesenjangan data korban hilang antara pemerintah dan lembaga sipil memicu tanda tanya.

Di tengah tumpukan puing yang masih menyisakan harapan, para petugas penyelamat di Kolombia mengangkat tangan dan mengepalkan tinju, meminta keheningan total. Mereka memburu suara detak jantung atau rintihan yang masih mungkin muncul dari reruntuhan gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,4 magnitudo yang melanda negeri itu sejak Senin lalu. Hingga Kamis, bencana ini telah merenggut 273 nyawa dan meninggalkan ratusan lainnya dalam status hilang.
Jendela emas penyelamatan—periode 72 jam pertama pascagempa—kini hampir tertutup. Badan-badan kemanusiaan menegaskan bahwa peluang menemukan korban selamat menyusut drastis setelah tiga hari, kecuali mereka yang terjebak memiliki akses air dan makanan. Di Cali, salah satu kota dengan kerusakan terparah, relawan seperti Daiana Rojas masih bergeming. "Mungkin ada dua orang yang masih hidup di sini, dan saya tetap berharap. Kami mendengar suara sejak pukul 02.30 dini hari," ujarnya, menggambarkan situasi yang mencekam.
Rojas, yang selamat bersama keluarganya, menjadi saksi bagaimana dua korban ditarik hidup-hidup dari puing. Namun ia juga menyaksikan proses evakuasi jenazah. "Mereka bukan saudara atau teman saya, tapi rasanya seperti itu," katanya. Setiap kali tim penyelamat meminta senyap, semua orang membeku. Namun ketika tanda kehidupan ditemukan, tepuk tangan riuh membahana di antara reruntuhan.
Wali Kota Cali, Alejandro Eder, menyatakan bahwa 20 jam ke depan adalah periode paling kritis. "Tim masih menemukan tanda-tanda kehidupan dan berusaha menyelamatkan siapa pun yang terjangkau," tuturnya. Namun di balik optimisme itu, pihak berwenang mulai bersiap menghadapi fase yang lebih suram: peralihan dari pencarian korban selamat ke pemulihan jenazah. Milton Castrillon, staf kantor wali kota, mengakui bahwa lebih dari 72 jam telah berlalu dan tim kini bersandar pada "mukjizat Tuhan" untuk menemukan penyintas.
Skala kerusakan yang dilaporkan David Santiago Tamayo, direktur Badan Nasional Manajemen Risiko Bencana, sungguh mencengangkan: hampir 74.800 rumah rusak dan lebih dari 25.800 keluarga terdampak. Angka ini menempatkan pemerintah baru di bawah kepemimpinan Presiden Abelardo de la Espriella dalam ujian berat. Respons cepat yang ditunjukkan—pembentukan pos komando darurat hanya satu jam setelah gempa—menjadi pembeda dengan Venezuela yang dilanda gempa beruntun dua bulan sebelumnya. Di negara tetangga itu, penanganan berjalan lambat dan warga sipil harus menggali puing dengan tangan selama berminggu-minggu.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan serupa. Dengan posisi geografis yang juga berada di Cincin Api Pasifik, negeri ini menghadapi ancaman gempa dan tsunami setiap saat. Pelajaran dari Kolombia menegaskan pentingnya kesiapsiagaan, ketahanan infrastruktur, dan kecepatan koordinasi lintas lembaga. Ketika bencana datang, perbedaan antara hidup dan mati sering kali ditentukan oleh jam-jam pertama respons.
Di tengah duka, solidaritas internasional mengalir deras. Tim penyelamat dari Los Angeles County Fire Department telah tiba, sementara Peru, El Salvador, Meksiko, dan Brasil menawarkan bantuan. Uni Emirat Arab menjanjikan donasi US$10 juta, China menyumbang US$3 juta, dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan bersama Federasi Sepak Bola Kolombia menggelontorkan US$1 juta. "Sepak bola melampaui lapangan hijau dan tetap dekat dengan rakyatnya, terutama di masa-masa tersulit," demikian pernyataan mereka.
Namun, di tengah derasnya bantuan, muncul kejanggalan data korban hilang. Pemerintah mencatat hampir 500 orang, sementara basis data sipil menyebut lebih dari 4.200. Kesenjangan ini memicu pertanyaan tentang akurasi pendataan dan potensi korban yang belum teridentifikasi. Ketika operasi penyelamatan bergeser ke pemulihan, akankah angka-angka ini menemukan titik temu? Atau akankah ada lebih banyak keluarga yang harus meratapi kepergian orang tercinta tanpa kepastian?



