Bitcoin Tersungkur ke US$83.000, Altcoin Rontok Akibat Ketegangan Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin merosot ke level US$83.000, tertekan aksi jual lintas aset yang dipicu memanasnya kembali konflik AS-Iran.
- Sektor altcoin mengalami koreksi paling dalam, dengan 91 dari 100 konstituen Indeks CoinDesk 100 berakhir di zona merah.
- Kenaikan harga minyak mentah Brent di atas US$100 menjadi pemicu utama aksi risk-off yang menyeret pasar kripto dan saham berjangka AS.

Harga Bitcoin (BTC) merosot ke kisaran US$83.000 pada perdagangan Senin, turun 1,7% sejak tengah malam UTC dan 2,1% dalam 24 jam terakhir. Namun, tekanan jual yang jauh lebih dalam justru menerpa pasar altcoin, dengan 91 dari 100 konstituen Indeks CoinDesk 100 tercatat melemah dan indeks acuan tersebut terpangkas 2,6% ke level 1.874,56.
Koreksi kali ini nyaris menjadi cerminan terbalik dari reli yang terjadi pada Jumat pekan lalu. Token Quant (QNT) yang sebelumnya melonjak 39% dalam sehari, kini ambruk 16% sejak tengah malam. Hal serupa dialami token protokol pengindeksan The Graph (GRT) yang turun 12% setelah sebelumnya menguat 14%, serta token Ondo (ONDO) yang merosot 12%. Sektor-sektor yang tadinya memimpin kenaikan justru menjadi biang kerok pelemahan, dengan DeFi Select Index (DFX) anjlok 6,4% dan Indeks Komputasi CoinDesk (CPUS) kehilangan 3,2%.
Pemicu utama tekanan ini bukan berasal dari dalam ekosistem kripto, melainkan dari lonjakan harga minyak. Presiden Donald Trump menolak syarat terbaru dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang mencakup pembebasan dana beku Iran, pencabutan sanksi minyak, dan penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. Akibatnya, harga minyak mentah Brent kembali menembus level US$100 menjadi US$100,83 per barel, naik 3,2% dalam sehari dan membalikkan posisi di bawah level tersebut pada Jumat.
Tekanan tidak hanya dirasakan pasar kripto. Aset tradisional juga mengalami aksi jual serentak, dengan emas turun 3,3% ke US$4.144 dan perak melemah 5,1% ke US$61,00. Kontrak berjangka ekuitas AS juga tertekan, di mana S&P 500 turun 0,44% dan Nasdaq 100 melemah 0,95%, sementara Indeks Dolar AS justru menguat tipis 0,06% ke 101,09. Pola ini menandakan investor sedang beralih ke aset safe haven seperti dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
"Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz telah memicu aksi risk-off yang serentak di seluruh kelas aset, dan kripto tidak kebal dari gelombang tersebut," ujar seorang analis pasar kripto yang memantau pergerakan indeks CoinDesk.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi berlapis. Pelemahan harga kripto global biasanya diikuti oleh koreksi di bursa kripto domestik seperti Indodax dan Pintu, yang selama ini menjadi kanal utama bagi investor ritel Tanah Air. Selain itu, kenaikan harga minyak Brent di atas US$100 berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia, mengingat negara ini masih net importir minyak. Tekanan pada rupiah pun bisa meningkat, yang pada gilirannya memengaruhi daya beli investor ritel terhadap aset digital.
Dari sisi regulasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengalihkan pengawasan aset kripto dari Bappebti sejak awal tahun ini. Dengan volatilitas yang meningkat, pengawas kemungkinan akan memperketat pemantauan terhadap platform perdagangan aset kripto, terutama terkait manajemen risiko dan perlindungan konsumen. Investor disarankan tidak hanya melihat pergerakan harga jangka pendek, tetapi juga memahami eksposur portofolio terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, arah pasar kripto akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz. Jika ketegangan mereda dan harga minyak kembali turun, tekanan jual di pasar aset digital berpotensi mereda. Sebaliknya, eskalasi lebih lanjut dapat memicu gelombang risk-off baru yang lebih dalam. Pertanyaannya, apakah investor kripto Indonesia siap menghadapi volatilitas yang dipicu oleh faktor geopolitik di luar kendali mereka?



