Le Pen Klaim Kemenangan Historis di Senat Prancis, Modal Menuju Pilpres 2027
Baca dalam 60 detik
- Partai National Rally (RN) dan sekutunya meraih 14 kursi Senat Prancis, melewati ambang batas untuk membentuk kelompok resmi di majelis tinggi.
- Perolehan ini memperkuat posisi Marine Le Pen menjelang pemilihan presiden 2027, saat Emmanuel Macron bersiap lengser setelah sepuluh tahun menjabat.
- Dominasi kanan-tradisional dan kiri di Senat tetap bertahan, tetapi muncul pertanyaan apakah partai kanan dan tengah akan merapat ke RN atau memperkuat benteng republik.

Partai sayap kanan Prancis, National Rally (RN), bersama sekutunya berhasil mengamankan 14 kursi dalam pemilihan parsial Senat akhir pekan lalu. Capaian ini menandai pertama kalinya RN melewati ambang batas 10 kursi untuk dapat membentuk kelompok resmi di majelis tinggi parlemen, sebuah pijakan penting beberapa bulan sebelum pemilihan presiden digelar.
Pemimpin RN, Marine Le Pen, menyebut hasil tersebut sebagai "kemenangan historis" dan "tonggak besar" bagi partainya. Menurutnya, keberhasilan ini akan menjadi pendorong kampanye presiden 2027 yang ia rencanakan. Le Pen saat ini menempati posisi teratas dalam berbagai survei elektabilitas, sementara Presiden Emmanuel Macron bersiap mengakhiri masa jabatannya setelah sepuluh tahun berkuasa.
Anggota parlemen RN, Sébastien Chenu, menilai perolehan kursi Senat sebagai "dorongan bagi kampanye presiden" dan menegaskan bahwa "tidak ada lagi batas kaca" bagi partainya. Sementara Edwige Diaz, yang memenangkan kursi Senat di Gironde, wilayah pinggiran Bordeaux, mengatakan kepada Le Parisien bahwa kemenangan ini "akan sangat berguna menjelang pemilihan presiden."
Senat Prancis, majelis tinggi dengan 348 kursi, tetap didominasi oleh partai kanan-tradisional dan tengah-kanan. Presiden Senat yang telah menjabat lebih dari satu dekade, Gérard Larcher (77) dari partai Les Républicains, diperkirakan akan terpilih kembali pekan depan. Meskipun RN merupakan partai oposisi terbesar di majelis rendah dan memiliki anggota terbanyak di Parlemen Eropa, kehadiran mereka di Senat sebelumnya sangat minim.
Pemilihan Senat menggunakan sistem tidak langsung, di mana pejabat lokal terpilih—termasuk walikota dan anggota dewan—memilih senator untuk separuh kursi setiap tiga tahun, dengan masa jabatan enam tahun. Hasil pemungutan suara Minggu lalu mencerminkan pertumbuhan dukungan RN di kota-kota menengah pada pemilihan lokal Maret lalu, sekaligus menunjukkan dukungan dari walikota pedesaan independen. Pemimpin RN, Jordan Bardella, menyerukan agar politisi kanan-tradisional bergabung dengan partainya.
"Apakah akan ada benteng republik terhadap ide-ide RN? Itu akan menjadi kunci," ujar Senator Sosialis Laurence Rossignol kepada Public Sénat TV, menyoroti pertanyaan apakah kanan dan tengah-kanan di Senat akan mendekat ke RN dan memperkeras sikap mereka soal imigrasi dan tunjangan sosial.
Partai kiri radikal, La France Insoumise (LFI), juga mencatat sejarah dengan meraih kursi Senat pertamanya melalui Gabriel Amard di Rhône. Jean-Luc Mélenchon, pemimpin LFI yang saat ini menjadi kandidat kiri dengan elektabilitas tertinggi, menyebut kemenangan Amard sebagai "pertanda baik" bagi kampanye presidennya sendiri pada 2027.
Bagi Indonesia, dinamika politik Prancis ini dapat menjadi cermin bagaimana partai populis kanan mengonsolidasikan kekuatan menjelang pemilu. Meskipun konteks politik kedua negara berbeda, pergeseran lanskap politik di salah satu ekonomi terbesar Eropa ini berpotensi memengaruhi kebijakan perdagangan, iklim, dan hubungan internasional yang berdampak pada negara-negara mitra seperti Indonesia. Uni Eropa di bawah pengaruh kekuatan kanan yang semakin kuat mungkin akan lebih proteksionis, yang bisa memengaruhi ekspor produk Indonesia ke pasar Eropa.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah partai kanan dan tengah-kanan di Senat akan tetap mempertahankan jarak dari RN atau justru merapat menjelang pemilihan presiden. Jika aliansi baru terbentuk, lanskap politik Prancis bisa berubah secara signifikan, dengan implikasi luas bagi kebijakan domestik dan luar negeri. Sementara itu, Le Pen dan Mélenchon sama-sama mengklaim momentum menuju 2027, menandakan pertarungan ideologis yang semakin tajam di Prancis.



