Malajika Rebut Sabuk WBC Super Flyweight di Tokyo, Tsuboi Kecewa
Baca dalam 60 detik
- Ricardo Malajika menang angka terbelah atas Tomoya Tsuboi untuk merebut gelar kosong WBC kelas super flyweight di Tokyo.
- Kemenangan ini membuat Malajika menjadi juara dunia asal Afrika Selatan pertama di kelas tersebut sejak 2016.
- Tsuboi yang sebelumnya tak terkalahkan harus menelan kekalahan pertama setelah menderita luka di dahi.

Ricardo “Majic Man” Malajika resmi menyandang sabuk juara dunia WBC kelas super flyweight setelah mengalahkan Tomoya Tsuboi melalui keputusan angka terbelah dalam duel dua belas ronde di Tokyo, Minggu (28/7). Dua juri memberikan skor 116-112 dan 115-113 untuk petinju Afrika Selatan itu, sementara satu juri lainnya melihat Tsuboi unggul 115-113. Kemenangan ini menghentikan rekor tak terkalahkan Tsuboi yang sebelumnya berstatus penantang nomor satu WBC.
Duel berjalan ketat sejak awal. Sistem penilaian pembuka menunjukkan Tsuboi unggul tipis 77-75 pada dua kartu dan 76-76 pada kartu lainnya setelah ronde kedelapan. Namun, Malajika tampil lebih efektif di ronde-ronde kejuaraan, mendaratkan pukulan-pukulan bersih yang membuat para juri berpaling. Petinju berusia 30 tahun itu menunjukkan ketenangan dan pengalaman meski bermain di kandang lawan.
Tsuboi, yang dikenal dengan gaya bertarung meniru legenda Meksiko Miguel Canto, sebenarnya memiliki kecepatan dan keterampilan di atas rata-rata. Namun, ia tidak mampu menampilkan ketajaman biasanya. Luka terbuka di dahi yang ia alami sejak ronde pertama dan semakin parah di ronde ketujuh membuat penglihatannya terganggu. Sudut Tsuboi nyaris menghentikan pertarungan, tetapi wasit dan dokter memutuskan laga lanjut. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi petinju Jepang yang sebelumnya meraih medali emas Piala Dunia amatir.
Bagi Malajika, gelar ini adalah puncak karier setelah dua kekalahan sebelumnya. Ia menjadi juara dunia WBC pertama dari Afrika Selatan di kelas super flyweight sejak 2016. Kemenangan di Tokyo juga menegaskan bahwa petinju Afrika Selatan mampu bersaing di level tertinggi, bahkan di hadapan publik lawan. Promotor Malajika, Rodney Berman, menyebut kemenangan ini sebagai “hasil kerja keras dan dedikasi luar biasa” dan berencana menggelar pertarungan unifikasi berikutnya.
Dari kacamata Indonesia, prestasi Malajika bisa menjadi inspirasi bagi petinju nasional seperti Drian Francisco atau Tibo Monabesa yang masih mengejar sabuk dunia. Keberhasilan Malajika menunjukkan bahwa petinju dari negara berkembang dapat menembus dominasi Jepang dan Amerika Latin di kelas berat ringan. Federasi Tinju Indonesia (Pertina) diharapkan dapat menjadikan momen ini sebagai pemicu pembinaan atlet muda, terutama di kelas flyweight dan super flyweight yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Ke depan, Malajika kemungkinan akan menghadapi tantangan dari juara WBA atau IBF untuk unifikasi. Sementara Tsuboi harus bangkit dari kekalahan pertama dan memperbaiki pertahanan serta manajemen luka. Apakah Malajika mampu mempertahankan sabuknya di hadapan penantang wajib? Ataukah Tsuboi akan menuntut rematch? Dunia tinju super flyweight kini semakin menarik untuk disimak.



