Paskibraka dari Sekolah Rakyat: Bukti Kesetaraan atau Sekadar Simbol?
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya, seorang siswa Sekolah Rakyat lolos seleksi Paskibraka tingkat nasional, menandai perubahan paradigma seleksi yang berbasis kompetensi.
- Mensesneg Prasetyo Hadi menegaskan bahwa prestasi tidak lagi ditentukan oleh latar belakang ekonomi, namun kritik publik menyoroti efektivitas program Sekolah Rakyat dalam jangka panjang.
- Keberhasilan ini membuka peluang bagi siswa kurang mampu untuk berkarier di bidang kepaskibrakaan dan mendorong pemerintah memperluas akses pendidikan inklusif.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang siswa dari Sekolah Rakyat berhasil menembus seleksi ketat Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional untuk HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pencapaian ini sebagai bukti nyata bahwa setiap anak bangsa memiliki peluang yang sama untuk berprestasi, tanpa memandang status ekonomi keluarganya.
Ismi Ulfaida, siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar, Sulawesi Barat, akan berdiri sejajar dengan 75 Paskibraka lainnya di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026. Bersamanya, M. Deni Fikri dari UPTD SMA Negeri 1 Wonomulyo turut mewakili provinsi tersebut. Kabar ini pertama kali diungkapkan oleh Wakil Kepala BPIP Rima Agristina saat meninjau latihan gabungan di Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8).
Prasetyo mengakui bahwa Presiden Prabowo Subianto kemungkinan belum mengetahui kabar ini, dan pemerintah tidak memantau detail proses seleksi yang berlangsung di 38 provinsi. Namun, ia menegaskan bahwa keterpilihan Ismi menunjukkan sistem seleksi yang berjalan transparan dan berbasis kompetensi. "Sudah tidak lagi membeda-bedakan kita ini berasal dari keluarga yang lebih mampu atau tidak mampu. Semua berbasis kompetensi, semua berbasis kerja keras," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu.
Menjadi Paskibraka nasional bukanlah tugas ringan. Para calon harus melewati latihan fisik intensif dan persiapan mental yang matang. Prasetyo menggarisbawahi bahwa setiap gerakan akan menjadi sorotan publik, sehingga ketepatan dan konsentrasi menjadi kunci. "Saudara nanti akan tampil, tidak boleh salah, dan di benak Anda, Anda berpikir bahwa Anda disaksikan oleh seluruh bangsa Indonesia. Itu bukan hal yang mudah," katanya.
Kabar ini memicu diskusi hangat di media sosial. Sebagian publik menilai keberhasilan Ismi sebagai angin segar bagi pemerataan pendidikan, sementara yang lain mempertanyakan apakah program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah benar-benar mampu menjangkau akar rumput secara berkelanjutan. Program Sekolah Rakyat yang diluncurkan untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera memang masih dalam tahap pengembangan, dan baru sedikit sekolah yang beroperasi penuh.
Prasetyo juga mengajak masyarakat untuk mengapresiasi kerja keras para Paskibraka, terlepas dari kekurangan yang mungkin ada. "Marilah kita semua memandang sesuatu dari sisi positif. Bahwa ada kekurangan, ya, ada yang belum sempurna, tapi segala hal perlu diapresiasi," ujarnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik kemegahan upacara, ada ratusan pemuda yang telah mengorbankan waktu dan tenaga demi tugas negara.
Bagi Indonesia, momen ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi cermin kebijakan pendidikan inklusif yang tengah diuji. Pertanyaannya, akankah keberhasilan Ismi menjadi katalis untuk memperluas program Sekolah Rakyat ke seluruh pelosok negeri? Atau justru hanya menjadi cerita heroik yang tidak diikuti perbaikan sistemik? Publik menunggu langkah konkret pemerintah untuk memastikan bahwa kesetaraan kesempatan tidak berhenti di gerbang Istana.



