Kain Batik Fatmawati dan Ihram Umrah Terakhir: Simbol Perpisahan Guruh Soekarnoputra
Baca dalam 60 detik
- Guruh Soekarnoputra dimakamkan di TPU Karet Bivak dengan kain batik peninggalan Fatmawati dan kain ihram umrah terakhirnya sebagai penutup jenazah.
- Kepergian putra Bung Karno ini menandai berakhirnya generasi langsung yang menyimpan memori rumah Jl Sriwijaya Raya, basis jaringan politik dan bisnis keluarga Soekarno.
- Warisan politik dan ekonomi keluarga Soekarnoputra akan diuji: siapa yang melanjutkan jejaring informal yang selama ini menghubungkan elite Jakarta dengan akar massa PDI-P?

Guruh Soekarnoputra, putra Presiden pertama RI Soekarno, menghembuskan napas terakhir pada Sabtu (26/9/2026) dini hari di usia 73 tahun. Jenazahnya dimakamkan siang itu juga di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat, setelah disemayamkan di rumah duka Jl Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru. Yang membedakan prosesi ini dari pemakaman tokoh lain: dua lembar kain batik milik Fatmawati—ibu kandung almarhum—dipakai sebagai penutup jenazah, disertai kain ihram dari ibadah umrah terakhir Guruh.
Detail itu bukan sekadar urusan protokol pemakaman. Bagi keluarga besar Soekarno, batik Fatmawati menyimpan nilai historis tersendiri: Fatmawati dikenal sebagai sosok yang menjahit bendera pusaka Merah Putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Menggunakan kain peninggalan sang ibu sebagai penutup jenazah adalah pernyataan simbolik bahwa garis keturunan dan memori keluarga tetap dijaga hingga liang lahat. Kain ihram menegaskan dimensi spiritual yang belakangan kian menonjol dalam kehidupan Guruh.
Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, yang melayat sebelum pemakaman, mengungkapkan bahwa persiapan kain tersebut sudah dilakukan almarhum sendiri. Menurut Sandiaga, ia sempat ikut memandikan dan mendoakan jenazah. Sandiaga juga mengenang Guruh sebagai tetangga yang aktif berkontribusi di lingkungannya. "Saya waktu kecil sering main ke rumah ini," ujarnya, seraya menyebut almarhum kerap memberi nasihat saat ia merintis usaha dan pernah menjadi mitra kerja di Komisi X DPR.
"Tadi kain kafan Mas Guruh dilapisi pakai kain ihrom dari ibadah umroh beliau terakhir. Trus diselimuti 2 kain batik dari peninggalan ibu fatmawati yg sudah beliau persiapkan sebelumnya," tulis politikus PDI-P Guntur Romli melalui akun X pribadinya.
Prosesi pemakaman dihadiri sejumlah tokoh, termasuk kakak almarhum Megawati Soekarnoputri, sejumlah politikus PDI-P, dan pejabat publik. Kehadiran mereka menegaskan posisi Guruh dalam peta sosial-politik Jakarta: bukan sebagai pemegang jabatan formal, melainkan sebagai simpul jaringan yang menghubungkan keluarga Soekarno dengan berbagai kekuatan politik dan dunia usaha.
Bagi pembaca di luar lingkaran elite, kepergian Guruh layak dibaca sebagai penanda berakhirnya satu babak dalam politik dinasti di Indonesia. Guruh tidak pernah menempati kursi kekuasaan strategis seperti kakaknya, tetapi kehadirannya di rumah Sriwijaya Raya membuat ia menjadi penghubung informal antara keluarga Soekarno dan berbagai kepentingan—mulai dari politikus, pengusaha, hingga tokoh masyarakat. Jaringan semacam ini sering luput dari pemberitaan, padahal berperan dalam pembentukan koalisi dan distribusi sumber daya politik di tingkat lokal maupun nasional.
Dari sisi ekonomi-politik, rumah duka di Kebayoran Baru itu juga simbol aset sosial keluarga Soekarno yang tidak ternilai secara finansial. Nilai properti di kawasan tersebut terus melonjak, tetapi yang lebih penting adalah akses dan legitimasi yang melekat pada alamat itu. Bagi investor dan pelaku usaha yang selama ini menjalin hubungan dengan jaringan keluarga Soekarno, transisi ini bisa memengaruhi peta relasi bisnis—terutama di sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan properti yang kerap bersinggungan dengan kebijakan publik.
PDI-P sebagai partai yang menaungi sebagian besar trah Soekarno kini menghadapi pertanyaan pelan tapi pasti: siapa yang akan merawat jaringan informal yang selama ini dijaga Guruh? Megawati masih menjadi poros utama, tetapi regenerasi di tingkat akar rumput membutuhkan figur yang mampu merawat hubungan personal lintas generasi. Kepergian Guruh meninggalkan ruang yang tidak mudah diisi oleh struktur partai formal.
Yang tersisa dari prosesi Sabtu itu adalah pesan yang jarang diucapkan terang-terangan: dalam politik Indonesia, simbol dan memori sering kali berbicara lebih lantang daripada jabatan. Dua lembar batik Fatmawati dan sehelai kain ihram telah menutup perjalanan seorang putra proklamator. Pertanyaannya, apakah generasi berikutnya mampu merawat warisan yang tidak berbentuk kursi kekuasaan itu—atau justru membiarkannya memudar bersama waktu?



