Turis Asing Menghindari Angkor: Biaya Tiket Pesawat dan Reputasi Penipuan Menggerus Pariwisata Kamboja
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan ke kompleks Candi Angkor turun 32% pada semester pertama 2024, dengan penurunan tajam dari pasar utama seperti Jepang.
- Tiket pesawat mahal dan citra negatif Kamboja sebagai pusat penipuan siber membuat destinasi ini kalah bersaing dengan Vietnam dan Thailand.
- Pemerintah Kamboja merespons dengan bebas visa bagi turis China, namun pelaku industri masih menanti pemulihan yang lebih luas.

Industri pariwisata Kamboja tengah menghadapi ujian berat. Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Siem Reap, gerbang menuju kompleks Candi Angkor yang diakui UNESCO, merosot tajam. Data resmi menunjukkan hanya sekitar 388.000 orang mengunjungi situs bersejarah itu pada Januari hingga Juni tahun ini, atau menyusut 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini bukan sekadar angka; ia mengguncang denyut ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada sektor pariwisata.
Penurunan ini tidak terjadi secara merata. Pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan China semuanya mengalami kontraksi. Yang paling mencolok, kunjungan wisatawan Jepang anjlok hingga 33 persen. Padahal, sebelum pandemi, Siem Reap adalah tujuan favorit bagi pelancong dari berbagai penjuru dunia. Kini, suasana sepi terasa di Bandara Internasional Siem Reap-Angkor yang baru, yang dibuka pada 2023 sebagai bagian dari inisiatif Jalur Sutra China. Bandara megah itu hanya melayani belasan penerbangan internasional per hari, terutama ke Thailand, Vietnam, dan Malaysia—jauh dari kapasitas yang diharapkan.
Para pelaku industri menunjuk beberapa faktor utama. Konflik di Timur Tengah telah memangkas frekuensi penerbangan dan mendongkrak harga tiket, membuat Eropa—yang selama ini menjadi pasar penting—enggan terbang jauh. Thim Sereyyuth, direktur pariwisata provinsi, menggarisbawahi bahwa Siem Reap kalah bersaing dengan Vietnam dan Thailand yang menawarkan penerbangan langsung dari Eropa. "Kami punya bandara internasional berkapasitas besar, tetapi belum dimanfaatkan optimal untuk penerbangan jarak jauh," ujarnya. Akibatnya, banyak hotel memangkas staf hingga batas minimum dan mengurangi layanan seperti spa, seperti diakui manajer hotel Sok Piseth.
Di balik persoalan biaya, ada pula persoalan reputasi. Kamboja kerap disorot sebagai basis sindikat penipuan siber yang menargetkan warga asing. Korea Selatan sempat memberlakukan larangan perjalanan ke sebagian wilayah Kamboja setelah seorang mahasiswanya dilaporkan ditawan dan dianiaya hingga tewas oleh kelompok kriminal pada Oktober lalu. Meski larangan itu telah dilonggarkan, trauma dan kekhawatiran masih membekas di benak calon wisatawan. Seorang pemandu wisata veteran berusia 39 tahun mengungkapkan keprihatinannya: "Sebelum pandemi, saya bisa bekerja tiga hari seminggu. Sekarang, satu hari saja sudah untung." Ia kehilangan pekerjaan saat pandemi dan terpaksa tinggal bersama kerabat, hanya untuk kembali dilanda penurunan kunjungan.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi cermin penting. Industri pariwisata Tanah Air juga bergantung pada konektivitas udara dan citra destinasi. Pelajaran dari Kamboja menunjukkan bahwa stabilitas geopolitik dan keamanan sangat menentukan daya tarik wisata. Jika Indonesia ingin menarik wisatawan Eropa, misalnya, keberadaan penerbangan langsung dan jaminan keamanan menjadi prasyarat mutlak. Selain itu, insiden penipuan atau kejahatan yang melibatkan warga asing bisa langsung menghantam sektor ini, seperti yang terjadi di Kamboja.
Pemerintah Kamboja tidak tinggal diam. Sejak Juni, mereka memberlakukan pembebasan visa sementara bagi wisatawan China, berharap dapat memancing kembali minat dari pasar terbesar di Asia. Para pejabat pariwisata juga mengisyaratkan perluasan program ini ke negara lain. Namun, langkah tersebut masih dianggap setengah hati. Musim puncak kunjungan ke Angkor biasanya berlangsung pada musim gugur hingga dingin, saat Eropa memasuki musim dingin dan Kamboja mengalami musim kemarau. Apakah kebijakan bebas visa dan perbaikan citra cukup untuk membalikkan tren? Ataukah Kamboja perlu mencari strategi baru yang lebih agresif, seperti menjalin kerja sama dengan maskapai penerbangan untuk menurunkan tarif? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah keindahan Angkor mampu kembali memikat dunia, atau justru tenggelam dalam persaingan regional yang semakin ketat.



