Disiplin Pemain Masih Jadi Pekerjaan Rumah: Lee Chong Wei Akui Masalah Belum Tuntas
Baca dalam 60 detik
- Empat bulan setelah pertama kali disorot, Lee Chong Wei mengakui masih ada pelanggaran disiplin di kalangan pebulu tangkis nasional Malaysia.
- Pelatih diminta lebih ketat dan bekerja sama dengan manajemen untuk membenahi perilaku atlet, termasuk kebiasaan keluar malam saat turnamen luar negeri.
- Perubahan budaya disiplin tidak instan; butuh waktu bertahap agar performa tim meningkat.

Empat bulan setelah mengangkat isu kedisiplinan secara terbuka, Ketua Komite Kinerja Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM), Lee Chong Wei, mengakui bahwa masalah tersebut belum sepenuhnya selesai. Dalam pertemuan dengan para pelatih pada Senin (10/8), sejumlah pelanggaran baru kembali mencuat, menunjukkan bahwa pembenahan karakter atlet nasional masih jauh dari kata tuntas.
Lee, yang juga legenda bulu tangkis Malaysia, menyatakan bahwa sebagian persoalan awal memang sudah teratasi. Namun, ia tidak menampik bahwa masih ada kasus-kasus yang memerlukan penanganan serius. Salah satu yang paling menonjol adalah kebiasaan sebagian pemain yang masih keluar pada malam hari saat bertanding di luar negeri, sebuah pelanggaran yang dinilai dapat mengganggu fokus dan performa.
"Saya tidak berada di pusat latihan setiap hari, jadi saya meminta pelatih untuk bekerja sama erat dengan para pemain. Jika ada masalah, mereka bisa menyampaikannya ke manajemen atau langsung menghubungi saya," ujar Lee. Ia juga menegaskan bahwa pelatih perlu bersikap lebih tegas, karena perubahan tidak bisa terjadi dalam hitungan hari atau bulan.
Sebelumnya, pemberitaan menyebutkan sejumlah pemain sempat menolak tinggal di asrama Akademi Bulu Tangkis Malaysia (ABM) di Bukit Kiara sesuai aturan. Meski masalah itu telah selesai, muncul kekhawatiran bahwa akar permasalahan disiplin belum benar-benar tercabut. Lee menilai, tanpa kedisiplinan yang kuat, sulit mengharapkan hasil konsisten di ajang internasional.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat rivalitas kedua negara di kancah bulu tangkis dunia. Disiplin adalah fondasi yang kerap menjadi pembeda antara atlet yang mampu bertahan di puncak dan yang tenggelam. Jika Malaysia berhasil membenahi masalah ini, persaingan di sektor tunggal dan ganda putra diprediksi akan semakin ketat.
Lee menegaskan bahwa dirinya tidak bisa bekerja sendirian. Ia mengajak seluruh elemen, termasuk pelatih dan manajemen, untuk berperan aktif. "Kita tidak bisa berharap semuanya berubah dalam satu atau dua hari, atau bahkan satu hingga tiga bulan. Butuh waktu, dan kita harus bekerja perlahan untuk membuat BAM lebih baik," katanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana BAM mampu menanamkan budaya disiplin yang tidak hanya bersifat sementara. Apakah langkah-langkah yang diambil kali ini akan membawa perubahan signifikan, atau justru menjadi siklus yang berulang? Publik bulu tangkis Asia Tenggara tentu menunggu bukti nyata dari komitmen yang diucapkan.



