Roket Long March 7A Gagal Misi, Satelit ChinaSat-4B Hilang: Apa Dampaknya bagi Ambisi Luar Angkasa China?
Baca dalam 60 detik
- Misi Long March 7A yang membawa satelit ChinaSat-4B berakhir gagal akibat anomali penerbangan, menandai kegagalan kedua roket tersebut setelah insiden serupa pada 2020.
- Kegagalan ini berpotensi memicu audit menyeluruh terhadap program peluncuran China, terutama karena fasilitas Wenchang juga digunakan untuk misi bulan Chang'e-7 yang dijadwalkan tahun ini.
- Komentar Elon Musk yang menyebut 'roket itu sulit' menyoroti tantangan teknis yang dihadapi China dalam mengejar ketertinggalan dari SpaceX, sekaligus membuka peluang bagi industri antariksa nasional.

China kembali menelan pil pahit di industri antariksa. Roket andalan Long March 7A yang membawa satelit komunikasi ChinaSat-4B gagal mencapai orbit setelah mengalami anomali sesaat setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang, Hainan, Senin (10/8) malam. Insiden ini menjadi kegagalan kedua untuk varian roket tersebut sejak debutnya yang gagal pada Maret 2020, sekaligus mempertanyakan kesiapan Beijing dalam mengejar dominasi antariksa global.
Menurut laporan kantor berita Xinhua, roket diluncurkan pukul 20.02 waktu setempat. Namun, tidak lama kemudian, misi dinyatakan gagal. โRoket mengalami anomali selama penerbangan dan misi peluncuran gagal,โ tulis Xinhua, tanpa merinci penyebab teknis. Badan Antariksa Nasional China (CNSA) belum memberikan tanggapan resmi hingga berita ini diturunkan.
Jonathan McDowell, profesor kehormatan di Durham University yang juga anggota Center for Space Environmentalism, menganalisis video peluncuran dan menyimpulkan roket hancur total di ketinggian dan kecepatan yang relatif rendah. Artinya, baik muatan maupun puing-puingnya tidak mencapai orbit. โKeduanya hilang,โ ujarnya, seperti dikutip media internasional.
Kegagalan ini menjadi yang pertama bagi Long March 7A setelah sukses menjalani lebih dari selusin misi sejak kembali terbang pada 2021. Sebelumnya, roket medium-lift yang dirancang untuk misi orbit tinggi ini hanya pernah gagal pada penerbangan perdananya. Padahal, China tengah gencar meningkatkan frekuensi peluncuran untuk mengejar ketertinggalan dari SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk.
Menariknya, Musk sendiri berkomentar di platform X mengenai insiden ini. โRoket itu sangat sulit,โ tulisnya, seraya menambahkan, โSaya harap mereka segera pulih.โ Komentar tersebut menjadi pengakuan diam-diam atas kompleksitas teknologi roket, sekaligus menyoroti persaingan sengit antara China dan Amerika Serikat di sektor antariksa.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian teknologi antariksa. Meski Indonesia belum memiliki program roket pengorbit satelit, ketergantungan pada negara lain untuk peluncuran satelit membuat negeri ini rentan terhadap risiko semacam ini. Satelit komunikasi seperti ChinaSat-4B berperan penting dalam menyediakan layanan telekomunikasi di daerah terpencil, termasuk di negara kepulauan seperti Indonesia. Jika China memperlambat program peluncurannya, negara-negara pengguna jasa peluncuran China bisa terdampak, meski Indonesia lebih banyak menggunakan roket asing lainnya.
Kegagalan ini juga berpotensi memicu audit menyeluruh terhadap program peluncuran China. Jika investigasi menemukan masalah pada komponen bersama, proses manufaktur, atau operasional di Wenchang, maka misi-misi lain yang menggunakan fasilitas atau komponen serupa bisa tertunda. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat China tengah bersiap meluncurkan misi Chang'e-7 ke Bulan, yang dijadwalkan pada paruh kedua 2026. Para pengamat peluncuran bahkan mendeteksi adanya kemungkinan jendela peluncuran pada akhir bulan ini, dengan roket Long March 5 dan wahana antariksa yang sudah berada di lokasi.
Chang'e-7 sendiri merupakan misi ambisius untuk mengeksplorasi kutub selatan Bulan, termasuk kawah yang tidak pernah terkena sinar matahari dan berpotensi menyimpan es air. Keberhasilan misi ini menjadi krusial bagi rencana China membangun stasiun riset di Bulan. Namun, dengan adanya kegagalan Long March 7A, publik mulai mempertanyakan apakah China mampu menjaga ritme peluncuran yang padat tanpa mengorbankan kualitas.
Di sisi lain, kegagalan ini justru bisa menjadi momentum bagi China untuk mempercepat evaluasi dan perbaikan teknologi roketnya. Sejarah menunjukkan bahwa China kerap bangkit dari kegagalan dengan inovasi. Namun, pertanyaannya kini: apakah China mampu mempertahankan kepercayaan mitra internasionalnya? Atau justru kegagalan ini akan membuka peluang bagi negara lain, termasuk Indonesia, untuk lebih serius mengembangkan industri antariksa nasional?



