Guru Besar UNS Raih Indonesia Innovator Award: Harapan Baru Baterai Nasional
Baca dalam 60 detik
- Prof. Agus Purwanto dari UNS menerima penghargaan dari BRIN dan LPDP atas riset baterai yang telah memasuki tahap komersialisasi.
- Penghargaan ini menegaskan prioritas pemerintah pada inovasi teknologi yang berdampak langsung pada industri dan ekonomi.
- Ke depan, riset baterai nasional diharapkan mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ekosistem kendaraan listrik dalam negeri.

Jakarta, 12 Agustus 2026 โ Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Agus Purwanto, dinobatkan sebagai penerima Indonesia Innovator Award atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi baterai nasional. Penghargaan ini diberikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang jatuh setiap 10 Agustus.
Penganugerahan berlangsung di Jakarta pada Senin (11/8). Dalam sambutannya, Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa apresiasi ini dirancang untuk memantik semangat inovasi yang berakar pada sejarah penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkaca pada 1995. Menurut Arif, penghargaan ini menjadi pendorong bagi para periset agar karyanya tidak berhenti di laboratorium, melainkan mampu menembus pasar dan memberi nilai tambah ekonomi.
Bagi Indonesia, pengakuan atas riset baterai ini bukan sekadar seremoni. Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik, penguasaan teknologi baterai menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor komponen. Langkah Agus yang telah mengembangkan baterai dari material aktif hingga sistem penyimpanan energi sejalan dengan target pemerintah membangun ekosistem kendaraan listrik yang mandiri.
Dedikasi Agus di bidang baterai telah berlangsung lebih dari satu dekade. Ia memulai kariernya sebagai dosen dan peneliti di UNS, kemudian dipercaya memimpin pusat unggulan yang fokus pada penyimpanan energi listrik. Risetnya mencakup seluruh rantai produksi baterai, mulai dari sintesis material aktif, pembuatan elektroda, perakitan sel, hingga modul dan battery pack.
Arif Satria menambahkan bahwa BRIN dan LPDP berkomitmen memberikan penghargaan tertinggi secara berkelanjutan kepada individu atau kelompok, baik dari internal maupun eksternal BRIN, yang inovasinya telah digunakan atau diproduksi oleh industri. "Inovasi tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi dan berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi bangsa," ujarnya.
Komersialisasi riset memang menjadi tantangan terbesar di Indonesia. Banyak penelitian yang berhenti di publikasi ilmiah tanpa berlanjut ke tahap produksi. Penghargaan ini diharapkan mengubah pola pikir tersebut, menjadikan riset sebagai jembatan menuju industri. Bagi investor dan pelaku industri, pengakuan ini juga menjadi sinyal bahwa potensi baterai nasional mulai dilirik pemerintah.
Ke depan, publik akan menanti apakah riset Agus mampu menembus pasar global dan bersaing dengan produk impor. Dengan dukungan BRIN dan LPDP, apakah Indonesia akhirnya memiliki baterai buatan sendiri yang siap digunakan di kendaraan listrik dalam negeri?



