Ekspor Singapura Melonjak 27,4% di Q2 2026: AI Jadi Mesin Baru Perdagangan Asia
Baca dalam 60 detik
- Permintaan global terhadap chip dan perangkat AI mendorong ekspor elektronik Singapura tumbuh 88,1% pada kuartal kedua 2026.
- EnterpriseSG menaikkan proyeksi pertumbuhan NODX tahun ini menjadi 14-16%, didukung kinerja semester pertama yang terkuat sejak 2010.
- Kenaikan ekspor ke AS, Taiwan, dan Korea Selatan mengindikasikan pergeseran rantai pasok teknologi, membuka peluang bagi negara ASEAN seperti Indonesia.

Lonjakan permintaan global terhadap produk kecerdasan buatan (AI) kembali mengubah peta perdagangan Asia. Singapura mencatat pertumbuhan ekspor non-minyak (NODX) sebesar 27,4% pada kuartal kedua 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data Enterprise Singapore (EnterpriseSG) yang dirilis Selasa (11/8). Angka ini meroket dari laju 9,6% pada kuartal pertama, sekaligus menjadi sinyal bahwa investasi besar-besaran di pusat data dan infrastruktur AI belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kinerja ini terutama ditopang oleh ekspor elektronik yang melesat 88,1% secara tahunan, melanjutkan akselerasi 57,8% pada kuartal sebelumnya. Di sisi lain, ekspor non-elektronik juga berbalik positif dengan pertumbuhan 8%, setelah sempat terkontraksi 3,5% di tiga bulan pertama. Secara kumulatif, NODX Singapura tumbuh 18,6% pada paruh pertama 2026, capaian setengah tahun terbaik sejak 2010.
EnterpriseSG menaikkan proyeksi pertumbuhan NODX untuk tahun penuh menjadi 14% hingga 16%, dari sebelumnya yang lebih rendah. Lembaga tersebut menilai dorongan utama tetap berasal dari elektronik, seiring kuatnya permintaan AI global. Namun, mereka juga mengingatkan adanya risiko dari konflik Timur Tengah yang berkepanjangan serta kebijakan tarif baru Amerika Serikat yang dapat mengganggu rantai pasok.
Produk-produk yang menjadi pendorong utama antara lain media disk yang melonjak 182,5%, sirkuit terpadu yang naik 91,9%, dan komputer pribadi yang tumbuh 79,8%. Di luar elektronik, farmasi meningkat 62,3%, mesin khusus naik 36,2%, dan instrumen pengukur bertambah 21,2%. Pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan permintaan sesaat, tetapi juga pergeseran struktural di mana komponen AI menjadi komoditas utama perdagangan regional.
Dari sisi mitra dagang, ekspor ke Taiwan melonjak 90,4%, Korea Selatan naik 67,1%, dan Amerika Serikat tumbuh 58,9%. Yang lebih mencolok, ekspor elektronik ke AS meroket hingga 250,2%, sementara ke Taiwan dan Korea Selatan masing-masing naik 198,8% dan 178,8%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa negara-negara yang terlibat dalam produksi chip dan perangkat keras AI menjadi tujuan utama, sekaligus menggarisbawahi semakin eratnya integrasi rantai nilai teknologi di kawasan.
Bagi Indonesia, kabar ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, permintaan AI yang tinggi dapat meningkatkan harga komoditas dan produk elektronik yang diekspor Indonesia, seperti bijih timah dan komponen. Di sisi lain, Singapura sebagai hub logistik dan perdagangan dapat menjadi pintu masuk bagi produk Indonesia ke pasar global. Namun, jika tarif AS semakin ketat, ada risiko efek domino yang dapat menekan ekspor negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.
EnterpriseSG memperkirakan pertumbuhan NODX akan tetap berlanjut pada paruh kedua tahun ini, didukung oleh permintaan AI yang berkelanjutan, panduan positif dari perusahaan elektronik besar, dan harga produk yang lebih stabil. Sentimen manufaktur juga dilaporkan positif, terutama di klaster elektronik dan rekayasa presisi. Meski demikian, efek basis tinggi dari tahun sebelumnya dapat menyebabkan moderasi pertumbuhan.
Pada hari yang sama, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 4,5% hingga 5,5%, dari sebelumnya 2% hingga 4%. Ini menunjukkan keyakinan bahwa dorongan AI akan mampu menopang perekonomian domestik. Pertanyaannya, mampukah negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, memanfaatkan momentum ini tanpa terjebak dalam perang tarif yang semakin kompleks?



