Gempa 7,4 Guncang Kolombia: 21 Tewas, Bandara Lumpuh, dan Pertanyaan Kesiapsiagaan
Baca dalam 60 detik
- Guncangan magnitudo 7,4 di Kolombia barat menewaskan sedikitnya 21 orang dan merusak ratusan bangunan, memicu operasi penyelamatan besar-besaran.
- Enam bandara ditutup untuk inspeksi struktural, sementara Bandara Popayan berhenti beroperasi akibat abu vulkanik Gunung Purace yang aktif setelah gempa.
- Presiden Kolombia mengambil alih kendali darurat dan berjanji membangun kembali, namun para ahli menyebut ini salah satu gempa terkuat di negara itu pada abad ini.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin (10/8) waktu setempat telah menewaskan sedikitnya 21 orang dan merobohkan puluhan bangunan, memicu operasi penyelamatan di tengah kekhawatiran akan korban yang masih terjebak. Guncangan yang berpusat di dekat San Jose del Palmar ini tidak hanya melumpuhkan infrastruktur vital, tetapi juga menguji ketangguhan sistem tanggap darurat negara yang baru saja dilanda berbagai krisis.
Korban jiwa terkonsentrasi di Pereira, di mana Wali Kota Mauricio Salazar mengonfirmasi 18 orang tewas, menjadikan kota tersebut sebagai episentrum duka. Sementara itu, di Manizales, dua orang dilaporkan meninggal dan lebih dari 32 bangunan mengalami kerusakan total atau parsial, termasuk katedral ikonik yang menaranya miring—pemandangan yang langsung tersebar luas di media sosial. Kota Quibdo, ibu kota Distrik Choco, juga melaporkan satu korban jiwa dan kerusakan struktural parah, dengan petugas pemadam kebakaran masih berupaya menjangkau warga yang diduga tertimbun.
Dampak gempa ini melampaui korban jiwa. Enam bandara—termasuk Pereira, Manizales, Quibdo, Armenia, Cartago, dan Buenaventura—terpaksa menghentikan operasional untuk pemeriksaan struktur, sementara Bandara Alfonso Bonilla Aragon di Cali dilaporkan mengalami kerusakan. Situasi diperparah oleh abu vulkanik dari Gunung Purace yang memaksa penutupan Bandara Popayan, menciptakan kekacauan logistik di tengah upaya evakuasi. Di ibu kota Bogota, sirene darurat meraung dan ribuan pekerja kantoran berhamburan ke jalan, sebuah pemandangan yang mengingatkan pada gempa-gempa besar sebelumnya.
Presiden Kolombia, Abelardo De La Espriella, langsung mengambil kendali dengan membentuk pos komando terpadu. “Negara hadir dan mengambil tindakan,” ujarnya, seraya berjanji akan mengunjungi Pereira untuk memantau langsung respons pemerintah. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi bencana, namun juga menyoroti kesenjangan kesiapsiagaan di daerah-daerah terpencil seperti Choco, yang berpenduduk hanya 4.800 jiwa dan berada di ketinggian 1.288 meter.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan negara kepulauan terhadap gempa bumi. Meski Kolombia dan Indonesia berada di Cincin Api Pasifik, perbedaan kesiapsiagaan infrastruktur dan respons darurat sering kali menentukan skala tragedi. “Gempa ini salah satu yang terkuat di Kolombia pada abad ini,” kata para ahli, menyoroti pentingnya investasi dalam bangunan tahan gempa dan sistem peringatan dini—pelajaran yang relevan bagi kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Padang yang berada di zona sesar aktif.
Guncangan yang terasa hingga Ekuador dan Panama menunjukkan kekuatan dahsyat gempa ini. Meski sistem peringatan tsunami AS dan otoritas Kolombia memastikan tidak ada ancaman tsunami, dampak ekonomi dan sosialnya diperkirakan akan terasa dalam jangka panjang. Bandara-bandara yang lumpuh mengganggu konektivitas, sementara kerusakan katedral dan bangunan bersejarah menambah beban psikologis masyarakat.
Ke depan, pertanyaan krusial adalah bagaimana pemerintah Kolombia akan menyeimbangkan upaya penyelamatan jangka pendek dengan rekonstruksi jangka panjang, terutama di daerah-daerah yang selama ini kurang diperhatikan. Apakah bencana ini akan menjadi momentum untuk memperkuat standar bangunan dan sistem tanggap darurat, atau justru tenggelam dalam dinamika politik? Bagi Indonesia, momen ini adalah pengingat bahwa ketangguhan terhadap bencana bukanlah pilihan, melainkan keharusan.



