NASA Kejar China ke Bulan: Selisih Hanya Bulan, Bukan Tahun
Baca dalam 60 detik
- Administrator NASA Jared Isaacman menegaskan AS harus mendaratkan astronot di Bulan pada 2028, sementara China menargetkan 2029.
- Persaingan antariksa AS-China tidak hanya soal prestise, tetapi juga perebutan sumber daya di Kutub Selatan Bulan.
- Ambisi luar angkasa berdampak pada Indonesia, mulai dari pengembangan teknologi hingga posisi geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.

NASA Administrator Jared Isaacman menyatakan Amerika Serikat harus memenuhi jadwal pendaratan astronot ke Bulan pada 2028 untuk mengalahkan China yang menargetkan tahun 2029. Dalam wawancara dengan NewsNation, ia menekankan bahwa selisih waktu kedua negara kini hanya terpaut bulan, bukan tahun, sehingga persaingan menjadi sangat ketat.
Isaacman mengungkapkan bahwa China merupakan rival serius dalam eksplorasi antariksa. "Mereka berniat menempatkan astronot di permukaan Bulan pada 2029. Kami ingin melakukannya pada 2028. Artinya, apa pun yang terjadi, ini hanya soal bulan, bukan tahun. Itu terlalu dekat," ujarnya.
Pernyataan ini muncul saat Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan tiga hari ke Washington, D.C., yang dipandang sebagai upaya pemerintahan Trump untuk menstabilkan hubungan AS-China. Namun, di balik keramahan diplomatik, persaingan ekonomi dan teknologi antara kedua negara tetap memanas.
Menurut Isaacman, keberhasilan AS mendaratkan astronot lebih dulu akan menjadi kemenangan simbolis besar. Ia mengenang misi Apollo 11 tahun 1969 yang membuat lawan berpikir dua kali sebelum menantang kepentingan Amerika. "Kebalikannya juga berlaku," tambahnya, merujuk pada dampak psikologis jika China yang lebih dulu mencapai Bulan.
Selain soal Bulan, Isaacman juga menyinggung isu UAP (Unidentified Anomalous Phenomena) yang terdokumentasi dalam video pemerintah. Ia cenderung menganggapnya sebagai fenomena alam atau teknologi rahasia, bukan kunjungan alien. NASA terlibat dalam upaya pemerintahan Trump untuk lebih transparan soal UFO. "Tugas kami adalah menjawab pertanyaan, 'Apakah kita sendirian?' Jika itu alien, NASA harus punya peran. Jika itu momen Sputnik, kami berhasil sebelumnya," katanya.
Ketika ditanya tentang kemungkinan pusat data di luar angkasa, Isaacman menyebut bahwa prevalensi model orbit rendah akan bergantung pada ekonomi. "Pusat data Anda pada akhirnya akan terbakar dan kembali ke Bumi, lalu biaya penggantiannya—apakah itu masuk akal? Saya pikir akan. Mungkin tidak dalam beberapa tahun pertama, tapi seiring waktu akan tercapai," jelasnya. Saat ini, komunitas di AS semakin menolak pembangunan pusat data untuk AI karena kebutuhan energi dan air yang besar.
Konteks Indonesia: Persaingan antariksa AS-China memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut luas, Indonesia dapat memanfaatkan teknologi satelit untuk pemantauan maritim, mitigasi bencana, dan telekomunikasi. Namun, ketergantungan pada teknologi asing—baik dari AS maupun China—menimbulkan risiko geopolitik. Indonesia perlu memperkuat kemandirian teknologi antariksa melalui LAPAN (kini BRIN) dan mendorong kerja sama internasional yang setara. Selain itu, posisi Indonesia di Indo-Pasifik menjadikannya pemain kunci dalam stabilitas kawasan, sehingga dinamika persaingan AS-China harus direspons dengan kebijakan luar angkasa yang cerdas dan berdaulat.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya siapa yang lebih dulu menginjakkan kaki di Bulan, tetapi bagaimana negara-negara lain, termasuk Indonesia, dapat memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat transfer teknologi dan memperkuat posisi di panggung global. Apakah Indonesia akan menjadi penonton atau ikut serta dalam perlombaan menuju bintang?



