El Niño 'Godzilla' Ancam 50 Juta Orang Kelaparan, Indonesia di Garis Depan
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Niño terkuat dalam seribu tahun terakhir diprediksi memicu krisis pangan global dan kenaikan suhu ekstrem.
- Negara berkembang seperti Indonesia dan Nigeria berisiko terdampak paling parah meski kontribusi emisinya kecil.
- Pemerintah diminta memperkuat sistem peringatan dini dan jaring pengaman sosial sebelum puncak El Niño melanda.

Dunia sedang menghadapi ancaman iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para ilmuwan memperingatkan bahwa El Niño yang sedang berkembang saat ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam setidaknya seribu tahun terakhir, dengan julukan 'Godzilla-level'. Puncaknya belum tiba, namun suhu permukaan Samudra Pasifik sudah melampaui rekor tertinggi sebelumnya. Dampaknya tidak main-main: diperkirakan 50 juta orang akan jatuh ke dalam kelaparan akut, dan sekitar 450.000 jiwa terancam meninggal akibat panas ekstrem, kekeringan, serta banjir yang dipicu fenomena ini.
Peringatan tersebut bukanlah hiperbola belaka. World Food Programme (WFP) telah mengeluarkan estimasi bahwa puluhan juta orang di berbagai belahan dunia, dari Nigeria hingga Amerika Serikat, akan terdorong ke jurang krisis pangan. India, misalnya, mengalami kekurangan curah hujan monsun hingga 50 persen pada bulan ini, yang berdampak langsung pada produksi pertanian. Sementara itu, cadangan air minum di Sri Lanka mulai mengering. Negara-negara Eropa mungkin hanya terkena imbas tidak langsung berupa musim gugur yang lebih badai, tetapi pasokan pangan mereka tetap terancam.
Yang membuat situasi ini semakin pelik adalah kombinasi antara fenomena alam dan ulah manusia. Sebuah studi besar yang dirilis bulan lalu menemukan bahwa El Niño kuat dalam beberapa dekade terakhir telah diperparah oleh pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil. Artinya, dampak bencana ini tidak bisa lagi disebut murni sebagai peristiwa alam. Kelompok masyarakat termiskin, yang tinggal di daerah rawan dan memiliki akses kesehatan terbatas, akan menanggung beban terberat. Sementara itu, segelintir orang kaya terus meraup keuntungan dari sistem ekonomi yang justru memperparah emisi.
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi panggilan darurat. Sebagai negara kepulauan yang terletak di jalur cincin api dan sangat bergantung pada sektor pertanian serta perikanan, Indonesia berada di garis depan risiko. El Niño dapat memicu kekeringan panjang di wilayah selatan, gagal panen, dan krisis air bersih. Belum lagi potensi kebakaran hutan dan lahan yang setiap tahun menjadi langganan. Masyarakat pesisir dan petani kecil adalah kelompok yang paling rentan. Pemerintah perlu segera memperkuat sistem peringatan dini, menyiapkan cadangan pangan, dan memperluas jaring pengaman sosial. Tanpa langkah antisipatif, jutaan warga bisa terdampak.
"El Niño dan krisis iklim serta alam mengancam keamanan nasional dan pertahanan," tegas Menteri Luar Negeri Inggris dalam forum PBB, seperti dikutip dari pernyataannya.
Seruan serupa juga muncul dari dalam negeri Inggris. Komite Perubahan Iklim (Climate Change Committee) dalam laporan pentingnya bulan Mei menyatakan bahwa negara itu "dibangun untuk iklim yang sudah tidak ada lagi". Pernyataan ini menyoroti betapa banyak negara, termasuk Indonesia, masih belum siap menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering. Di tingkat global, memperkuat dana kerugian dan kerusakan (loss and damage fund) menjadi keharusan agar negara-negara berkembang yang paling sedikit menyumbang emisi tidak semakin terpuruk.
El Niño super ini memang ancaman besar, tetapi juga bisa menjadi momentum untuk bertindak lebih serius melawan pemanasan global dan ketidakadilan yang menyertainya. Pertanyaannya, apakah pemerintah dan komunitas internasional akan memanfaatkan krisis ini sebagai pendorong perubahan, atau justru membiarkan bencana yang sama terulang dengan skala lebih besar?



