Konsumsi Rumah Tangga Tetap Tangguh, tapi Sinyal Tekanan di Kelas Menengah Mulai Terlihat
Baca dalam 60 detik
- Inflasi Juli 2026 yang melandai ke 2,88% dan subsidi energi membuat belanja rumah tangga tetap tumbuh, meski melambat.
- Kredit tumbuh 12,67%, namun kredit bermasalah pada segmen rumah kecil dan menengah meningkat signifikan.
- Ekonom mengingatkan ruang fiskal terbatas, sehingga mendorong investasi swasta menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan.

Di tengah gejolak harga energi global, konsumsi rumah tangga Indonesia masih menunjukkan daya tahan, berkat inflasi yang terkendali dan stimulus pemerintah. Namun, di balik ketahanan itu, muncul sinyal tekanan pada kelompok masyarakat yang baru merangkak naik ke kelas menengah, yang tercermin dari meningkatnya kredit bermasalah di segmen perumahan kecil dan menengah.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, dalam paparan PIER Economic Review Kuartal II 2026, Senin (10/8), mengungkapkan bahwa inflasi yang melandai ke 2,88 persen secara tahunan pada Juli 2026 menjadi penopang utama daya beli. Keputusan pemerintah mempertahankan subsidi energi di tengah lonjakan harga global dinilai berhasil meredam tekanan pada kantong masyarakat.
Ketahanan konsumsi juga terlihat dari pertumbuhan positif di sejumlah kelompok belanja. Belanja pakaian tumbuh 3,52 persen, transportasi dan komunikasi naik 5,71 persen, sementara restoran dan hotel menguat 6,47 persen secara tahunan. Meski pertumbuhan ini melambat dibanding kuartal sebelumnya, faktor musiman seperti libur sekolah, program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan ekspansi ekonomi digital masih memberikan sokongan.
Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit hingga Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan, didorong peran bank-bank Himbara dalam menjalankan kebijakan pemerintah. Namun, Faisal menggarisbawahi bahwa penguatan konsumsi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat memenuhi kewajiban keuangan. Data menunjukkan pertumbuhan kredit dengan kolektibilitas 2 hingga 5 mencapai 10,3 persen, jauh lebih tinggi dibanding kredit lancar yang hanya tumbuh 5,6 persen.
Tekanan terbesar justru terjadi pada segmen rumah kecil dan menengah. NPL rumah kecil melonjak dari 4,29 persen menjadi 6,32 persen, sementara rumah menengah naik dari 2,2 persen menjadi 3,23 persen. Kondisi ini, menurut Faisal, menjadi sinyal penting bahwa kelompok aspiring middle income—mereka yang sedang berjuang menuju kelas menengah—mengalami tekanan cukup berat. Kenaikan harga dan biaya hidup tidak hanya menggerus daya beli, tetapi juga mulai mengganggu kemampuan mereka membayar cicilan.
“Kelompok ini sebelumnya memiliki akses pembiayaan perbankan, termasuk kredit perumahan. Kini, stabilitas harga dan penguatan pendapatan menjadi kunci agar konsumsi tetap menjadi penopang ekonomi,” ujar Faisal.
Faisal juga mengingatkan bahwa ruang fiskal pemerintah semakin terbatas dalam jangka menengah dan panjang. Oleh karena itu, kebijakan pro-growth tidak bisa hanya mengandalkan belanja negara. Pemerintah perlu menciptakan iklim yang menarik investasi swasta, menghindari efek crowding-out yang justru mempersempit ruang gerak sektor usaha.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pekerjaan rumah besar. Kelas menengah yang sedang tumbuh adalah tulang punggung konsumsi domestik. Jika tekanan pada kelompok ini berlanjut, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi akan kehilangan salah satu mesin utamanya. Pertanyaannya, mampukah pemerintah menyeimbangkan stimulus jangka pendek dengan reformasi struktural yang mendorong investasi swasta?



