AS Tegaskan Tak Tinggalkan Asia, tapi Minta Sekutu Berbagi Beban Pertahanan
Baca dalam 60 detik
- Pejabat senior Pentagon menegaskan komitmen AS di Indo-Pasifik, namun mendorong sekutu untuk meningkatkan belanja pertahanan.
- Kunjungan ke Filipina menjadi sinyal bahwa AS ingin memperkuat aliansi, bukan sekadar retorika, di tengah ketegangan regional.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi dinamika keamanan di Asia Tenggara, termasuk bagi Indonesia yang berada di antara dua kekuatan besar.

Manila, 10 Agustus 2026 โ Amerika Serikat menegaskan tidak akan menarik diri dari kawasan Asia, bahkan berkomitmen untuk memperkuat kehadirannya demi menjaga keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik. Namun, di balik jaminan tersebut, Washington secara halus mendesak negara-negara sekutu agar lebih mandiri dalam membiayai pertahanan mereka sendiri.
Pernyataan itu disampaikan oleh Elbridge Colby, Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan, dalam pidatonya di Manila, Senin (10/8). Colby memulai kunjungannya ke Asia Tenggara dari Filipina, sekutu tertua AS di kawasan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia, Thailand, dan Kamboja. Kunjungan ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington ingin memastikan aliansinya tetap relevan di tengah dinamika geopolitik yang kian kompetitif.
Dalam pidatonya, Colby menegaskan bahwa AS tidak sedang "meninggalkan" Asia, melainkan "menggali lebih dalam" untuk memastikan keseimbangan kekuatan yang menguntungkan. Ia menyebut strategi "pencegahan dengan penolakan" (deterrence by denial) di sepanjang First Island Chainโwilayah yang membentang dari Jepang, Taiwan, Filipina, hingga Borneoโsebagai prioritas utama. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa strategi tersebut tidak bisa hanya bertumpu pada kekuatan militer AS.
"Ketika kami meminta sekutu dan mitra untuk meningkatkan investasi pertahanan dan bertanggung jawab atas keamanan mereka sendiri, itu bukan tanda kami meninggalkan mereka," ujar Colby. "Kami mencari mitra, bukan protektorat." Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa AS menginginkan hubungan yang lebih setara, di mana setiap negara memiliki peran aktif dalam menjaga stabilitas kawasan.
- First Island Chain: Jepang, Taiwan, Filipina, Borneo.
- Filipina adalah sekutu tertua AS di Asia.
- Kunjungan Colby mencakup Indonesia, Thailand, dan Kamboja.
- Strategi AS: deterrence by denial, bukan sekadar kehadiran militer.
Bagi Indonesia, pesan Colby memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai negara yang secara geografis berada di antara dua kekuatan besar, Indonesia selama ini menganut politik bebas aktif yang menolak terlibat dalam aliansi militer. Namun, desakan AS agar sekutu meningkatkan belanja pertahanan dapat mempengaruhi kalkulasi keamanan di kawasan. Indonesia mungkin tidak akan serta-merta mengubah kebijakan luar negerinya, tetapi tekanan untuk memperkuat kemampuan pertahanan mandiri bisa semakin menguat, terutama mengingat meningkatnya aktivitas militer di Laut China Selatan.
Para analis menilai bahwa pernyataan Colby merupakan upaya untuk meredakan kekhawatiran sekutu tentang keandalan AS sebagai mitra keamanan. Di bawah pemerintahan sebelumnya, sempat muncul keraguan tentang komitmen Washington terhadap kawasan Asia. Dengan menegaskan "kita tidak pergi", AS berusaha meyakinkan sekutunya bahwa mereka masih menjadi kekuatan dominan di Indo-Pasifik. Namun, tuntutan untuk berbagi beban juga menunjukkan bahwa AS tidak lagi mampu atau bersedia menanggung sendiri biaya pertahanan kawasan.
Langkah ini sejalan dengan tren global di mana negara-negara besar mendorong sekutu untuk lebih mandiri. Bagi negara-negara Asia Tenggara, ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat industri pertahanan domestik, tetapi juga tantangan untuk menyeimbangkan hubungan dengan Tiongkok. Pertanyaannya, apakah sekutu-sekutu AS di kawasan akan mampu memenuhi harapan tersebut tanpa memicu ketegangan baru? Atau justru akan semakin memperdalam polarisasi keamanan di Asia Tenggara?



