Prabowo: Proyek Rakyat di Pelosok Tetap Prioritas, Bukan Hanya Infrastruktur Megah
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah meresmikan 3.395 jembatan dan 3.000 sumber air bersih secara virtual, menegaskan komitmen membangun hingga ke daerah terpencil.
- Proyek yang digarap TNI-Polri ini dinilai sebagai wujud kehadiran negara, di tengah fokus pada pembangunan infrastruktur besar bernilai investasi tinggi.
- Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerataan akses dasar tetap menjadi agenda utama, dengan potensi dampak jangka panjang pada kualitas hidup masyarakat.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur dasar bagi masyarakat di wilayah terpencil tidak akan terpinggirkan oleh proyek-proyek megah bernilai investasi besar. Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan 3.395 jembatan dan 3.000 sumber air bersih secara virtual dari Jakarta, Kamis (13/2/2026), sebuah langkah yang dinilai sebagai wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang paling membutuhkan.
Dalam sambutannya, Prabowo menggarisbawahi bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan yang menonjol dan strategis, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dasar warga, terutama di daerah dengan akses sulit. "Banyak lagi proyek yang nanti saya akan resmikan, proyek-proyek yang gemilang, proyek-proyek yang strategis, proyek-proyek yang membawa Indonesia menjadi negara modern maju, menjadi negara makmur," ujarnya, seraya menekankan bahwa pembangunan yang menyentuh kebutuhan rakyat kecil adalah sumber kebahagiaan tersendiri.
Proyek jembatan dan sumber air bersih yang digarap oleh TNI dan Polri ini disebut sebagai misi pengabdian. Prabowo mengapresiasi inisiatif aparat keamanan yang bekerja tanpa menunggu instruksi, sebuah langkah yang menurutnya menunjukkan bahwa TNI-Polri selalu berada di garda terdepan untuk bangsa. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga mendapat pujian khusus atas kinerja jajarannya.
Pembangunan infrastruktur dasar ini memiliki dampak yang signifikan bagi masyarakat. Jembatan yang dibangun mampu memangkas jarak tempuh warga untuk beraktivitas ekonomi atau bersekolah, sekaligus mengurangi risiko bahaya saat menyeberangi sungai. Sementara itu, ketersediaan air bersih menjamin warga dapat hidup layak, sesuai dengan hak konstitusional yang dijamin Undang-Undang Dasar. Prabowo menegaskan, "Negara harus hadir untuk rakyat yang paling terpencil. Rakyat yang paling jauh dari pusat-pusat kehidupan yang besar harus menikmati kualitas hidup yang baik."
Langkah ini menjadi penyeimbang bagi deretan proyek infrastruktur besar yang membutuhkan investasi besar-besaran. Pemerintah tampaknya ingin memastikan bahwa kemajuan yang dikejar tidak hanya dinikmati oleh pusat-pusat ekonomi, tetapi juga oleh mereka yang selama ini terpinggirkan. Bagi Indonesia, pemerataan akses dasar seperti ini adalah kunci untuk menekan kesenjangan dan mendorong pertumbuhan yang inklusif.
Ke depan, keberlanjutan program ini akan menjadi ujian bagi konsistensi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara proyek monumental dan kebutuhan dasar. Pertanyaannya, apakah pembangunan serupa akan terus berlanjut di daerah-daerah terpencil lainnya, ataukah akan tergerus oleh prioritas investasi yang lebih besar? Masyarakat tentu berharap agar komitmen ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang.



